Anak Dua Kali Keracunan, Ibu di Rembang Pilih Lapangan Kerja Ketimbang Program MBG
Dugaan keracunan dialami putranya yang duduk di kelas 4 SD. Sebelumnya, sang kakak yang kini bersekolah di SMPN 1 Kragan juga sempat mengalami kasus serupa.
REMBANG – Isak tangis dan rasa was-was menyelimuti Miyati, warga Desa Balong Mulyo Kabupaten Rembang.
Ibu berusia 41 tahun ini harus mendapati anaknya yang duduk di bangku kelas 4 SD Balongmulyo kembali jadi korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi susu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (21/4/2026).
Bagi Miyati, kejadian ini bagaikan mimpi buruk yang berulang. Pasalnya, kakak dari sang anak yang kini bersekolah di SMPN 1 Kragan juga sempat mengalami nasib serupa beberapa waktu lalu.
Miyati menceritakan bahwa peristiwa hari ini bermula saat siswa-siswi diajak pihak sekolah untuk melakukan kegiatan jalan-jalan ke Pantai Balongan usai mengikuti upacara. Di sana, para siswa dibagikan paket susu MBG.
"Dikasih MBG. Terus kepalanya pusing, ada yang dadanya sesak sampai dibawa ke Puskesmas Kragan 2. Kemarin aja sebenarnya tahunya sudah terasa kecut, Pak," ujar Miyati dengan nada bergetar.
Kejadian ini memicu trauma mendalam baginya. Ia teringat bagaimana anak pertamanya yang duduk di kelas 2 SMP harus menderita selama empat hari akibat gejala serupa.
"Trauma sekali, Pak. Sudah dua kali. Anak saya yang di SMP kemarin juga mencret, muntah, mual sampai empat hari. Sekarang gantian adiknya yang kelas 4 SD. Saya gugup sekali," ungkapnya.
Kekecewaan Miyati memuncak. Ia secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto untuk meninjau kembali kebijakan program Makan Bergizi Gratis tersebut.
Menurutnya, daripada memberikan makanan yang berisiko bagi kesehatan anak, pemerintah lebih baik fokus pada peningkatan ekonomi keluarga.
"Sekarang tidak usah ada MBG, Pak. Ciptakan saja lapangan pekerjaan buat bapak-bapaknya biar tambah pemasukan. Biar ada biaya buat anak, tambah uang saku, dan kebutuhan keluarga. Begitu saja, Pak," tegas Miyati.
Ia meyakini bahwa orang tua masih mampu memberikan makan yang layak bagi anak-anak mereka sendiri selama memiliki penghasilan yang cukup.
“Anu Pak, biar makan nasi seadanya saja ibunya masih sanggup kasih makan," tambahnya.
Selain mengadu kepada Presiden, Miyati juga mendesak agar pihak penyedia atau Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) segera ditutup jika kasus keracunan ini terus berulang.
Baginya, keselamatan nyawa anak-anak tidak bisa ditawar dengan alasan program gizi.
"Saya minta SPPG ditutup saja kalau masih ada kasus keracunan seperti ini. Ini bukan kejadian yang pertama kali. Kami sebagai orang tua sangat was-was," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah siswa masih mendapatkan perawatan medis, dan pihak berwenang tengah melakukan investigasi terkait kandungan susu yang dikonsumsi para siswa tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


