Program Kebun Benih Datar Tebu Diklaim Tingkatkan Keuntungan Petani
Petani tebu umumnya menjual hasil panen ke pabrik gula sebagai sumber utama pendapatan.
MALANG – Petani tebu umumnya menjual hasil panen ke pabrik gula sebagai sumber utama pendapatan. Skema ini dinilai menguntungkan, namun petani biasanya hanya memperoleh keuntungan satu kali dalam satu musim tanam tahunan.
Selain itu, terdapat alternatif lain yang dinilai lebih menguntungkan, yakni menjual tebu sebagai bibit kepada penangkar atau pemasok benih. Namun, tebu yang dijual harus memenuhi standar tertentu yang telah ditetapkan.
Penangkar benih, M. Zainal Abidin atau yang akrab disapa Gus Hilmi, menyebut petani berpotensi memperoleh keuntungan hingga dua kali lipat jika menanam tebu untuk kebutuhan bibit, dibandingkan menjualnya ke pabrik gula.
Hal ini terutama berlaku dalam program Kebun Benih Datar (KBD) yang digagas Kementerian Pertanian bekerja sama dengan PT Riset Perkebunan Nusantara.
Menurutnya, program tersebut memberikan dua keuntungan utama bagi petani. Pertama, dari penjualan bibit tebu. Kedua, dari peningkatan kualitas kebun karena memiliki sistem pembibitan yang jelas.
“Hal ini akan meningkatkan kualitas produksi dan rendemen tebu, serta mendukung program swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Pria asal Turen, Kabupaten Malang ini menambahkan, pihaknya telah bermitra dengan sejumlah petani dalam pengembangan pembibitan tebu.
Dalam program KBD, pemilihan lahan dilakukan terlebih dahulu berdasarkan potensi, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada petani sebelum pemasangan plang program.
“Pemasangan plang dilakukan setelah ada kesepakatan dengan petani bahwa hasil tebu akan kami beli,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas isu pemasangan plang program KBD di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, yang sebelumnya disebut dilakukan tanpa persetujuan pemilik lahan.
Gus Hilmi menyatakan pihaknya telah mengonfirmasi langsung kepada pemilik lahan dan meminta pernyataan bahwa yang bersangkutan tidak keberatan dengan pelaksanaan program tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa pembangunan KBD di Mangunrejo dan sejumlah desa lain bertujuan menyediakan bibit untuk program bongkar ratoon yang digagas Kementerian Pertanian bersama PT Riset Perkebunan Nusantara.
Dalam pelaksanaannya, pengawasan kualitas bibit dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses tanam hingga pemupukan, untuk memastikan hasil optimal.
“Kami memastikan program ini tidak merugikan petani, justru memberikan keuntungan lebih,” katanya.
Ia berharap program Kebun Benih Datar mendapat dukungan masyarakat karena hasilnya akan kembali kepada petani dalam bentuk bantuan bibit melalui program bongkar ratoon. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


