Exit Tol Pagelaran Dinilai Krusial untuk Konektivitas Tol Malang-Blitar dan Jalur Lintas Selatan
Tol Malang-Kepanjen-Blitar dengan Jalur Lintas Selatan (JLS) menggema dalam diskusi terbatas yang digelar di Pagelaran, Jumat (24/4/2026).
MALANG – Pentingnya konektivitas antara proyek ruas Tol Malang-Kepanjen-Blitar dengan Jalur Lintas Selatan (JLS) menggema dalam diskusi terbatas yang digelar di Pagelaran, Jumat (24/4/2026). Isu ini mencuat seiring kekhawatiran terhadap masa depan Kepanjen sebagai ibu kota kabupaten jika penentuan exit tol tidak berpihak pada wilayah tersebut.
Ketua Umum Poros Pemuda Indonesia, Muhlis Ali, menegaskan bahwa keberadaan Kepanjen harus tetap dijaga marwah dan eksistensinya di tengah pembangunan infrastruktur besar tersebut.
“Kepanjen City saat ini terancam eksistensinya terkait masa depannya bila ruas Tol Malang-Blitar tidak ramah kepada keberadaan warga Kepanjen. Ini terkait letak dan jumlah exit tol di seputar wilayah Kepanjen mesti memadai,” kata Muhlis.
Pria yang juga sebagai founder Graha Yakusa itu menyebut, Pemerintah Kabupaten Malang bersama pemerintah pusat saat ini tengah mengembangkan akses arteri Gondanglegi–Bantur guna mendukung konektivitas menuju Jalur Lintas Selatan. Infrastruktur ini dinilai akan memperlancar mobilitas sekaligus membuka akses ke sejumlah destinasi wisata di Malang Selatan.
"Ini juga semakin memudahkan akses sejumlah objek wisata di kawasan Selatan Malang seperti Pantai Balekambang, Pantai Goa Cina, Sendang Biru, Pantai Teluk Asmara, dan Pantai Ngliyep,” ungkapnya.
Menurut Muhlis, konektivitas antara tol dan JLS akan berdampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat Malang Selatan. Oleh karena itu, ia menilai penempatan exit tol harus mempertimbangkan aspek pemerataan wilayah.
“Konektivitas dua infrastruktur yang telah ditunjang ruas jalan PSN Gondanglegi-Bantur, maka exit tol Malang-Blitar mesti ditempatkan agar Kepanjen City tetap bisa eksis termasuk tetap ramai, sehingga dua exit tol dengan lokasi Pagelaran dan Kepanjen jadi keniscayaan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Exit Tol Pagelaran memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas tersebut. Namun, keberadaannya harus dilengkapi dengan exit di Kepanjen agar keseimbangan pembangunan tetap terjaga.
“Exit Tol Pagelaran mesti dilengkapi dengan Exit Tol Kepanjen agar memberikan ruang Kepanjen City terjaga eksistensinya. Ingat ada Kampus Universitas Brawijaya telah dikembangkan di Desa Telangagung, Kepanjen. Jadi tol exit Kepanjen juga jadi keniscayaan,” ujarnya.
Di sisi lain, proyek Tol Malang-Kepanjen yang diproyeksikan sepanjang kurang lebih 30 kilometer ini disebut sebagai langkah strategis untuk membuka akses wilayah selatan yang selama ini relatif terisolasi. Kehadiran tol diperkirakan mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan, sekaligus meningkatkan daya tarik investasi.
Muhlis menyebut, kemudahan akses ini akan berdampak pada sektor pariwisata maupun distribusi hasil pertanian.
“Kami berharap pintu keluar tol ini memicu munculnya titik-titik ekonomi baru. Kawasan Kepanjen, Gondanglegi, dan Pagelaran memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru di selatan Malang,” katanya.
Selain itu, keberadaan tol juga diharapkan mampu memperlancar distribusi hasil pertanian dari Malang Selatan ke pusat distribusi.
“Keberadaan akses tol memperlancar distribusi hasil pertanian dan pangan dari Malang Selatan langsung ke pusat-pusat distribusi besar,” kata dia.
Dengan konektivitas yang lebih baik, kata Muhlis, produk unggulan petani lokal dapat mencapai pasar dalam kondisi lebih segar dan dengan biaya angkut yang lebih rendah, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan di tingkat produsen.
Pembangunan Tol Malang-Kepanjen bukan sekadar proyek beton dan aspal, melainkan harapan bagi ribuan warga untuk masa depan yang lebih terkoneksi. Tantangan berikutnya kini berada pada sinkronisasi pembebasan lahan dan kesiapan infrastruktur pendukung di sekitar pintu keluar tol untuk menyambut lonjakan aktivitas ekonomi yang akan datang.
"Apakah kehadiran tol ini akan benar-benar mampu mengubah wajah Malang Selatan menjadi pusat ekonomi baru, ataukah sekadar jalur cepat bagi wisatawan tanpa memberi dampak langsung pada warga lokal? Hanya waktu dan kebijakan turunan yang akan menjawabnya," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


