Mampu Bertahan 42 Tahun, Ini Jurus Ganesha Operation Cetak Siswa Juara
Menutup pernyataannya, Bob Foster menegaskan bahwa visi besar pendidikan adalah membangun generasi unggul yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa.
BANDUNG – Lembaga bimbingan belajar (bimbel) Ganesha Operation terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu pemain utama di dunia pendidikan nonformal di Indonesia.
Dunia pendidikan dan bimbingan belajar memang tak pernah lekang oleh waktu. Seberapa dinamis perubahan, harus selalu diikuti dengan kemampuan mengikuti perubahan tersebut.
Dan memasuki usia lebih dari empat dekade, lembaga ini dinilai berhasil menjaga konsistensi kualitas sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Direktur Utama Ganesha Operation, Prof Dr Ir Bob Foster, MM menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih selama ini bukanlah titik akhir, melainkan pijakan untuk terus berkembang dan memberi dampak lebih luas bagi dunia pendidikan.
Atas pengahargaan yang diterimanya dari FPLKP sebagai Visionary Executive Awards 2026 ia mengaku gembira.
“Penghargaan yang kami terima bukan sekadar untuk individu, tetapi bentuk pengakuan atas kontribusi kami dalam membantu masyarakat meningkatkan prestasi pendidikan,” ujar Bob Foster dalam sebuah wawancara, Selasa (28/4/2026)
Menurutnya, pencapaian tersebut justru menjadi pemicu bagi Ganesha Operation untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan inovasi agar lembaga pendidikan tetap relevan di tengah dinamika kebutuhan masyarakat. “Ini bukan puncak, tetapi titik untuk terus naik dan memberikan dampak yang lebih besar,” katanya.
Bob Foster mengungkapkan, perjalanan 42 tahun Ganesha Operation tidak dibangun secara instan. Kunci utamanya terletak pada prinsip continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan yang diterapkan secara konsisten di seluruh lini organisasi.
Selain itu, ia juga menanamkan filosofi tegas: change or die. Menurutnya, lembaga pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan, baik dari sisi teknologi, kebutuhan siswa, maupun perkembangan industri.
“Kalau tidak berubah, kita akan tertinggal. Kami selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar tetap relevan,” tegasnya.
Di tengah tantangan industri pendidikan, Bob Foster juga menyoroti pentingnya membangun loyalitas tenaga pengajar. Ia menyebut, tingginya tingkat pergantian tenaga kerja menjadi tantangan umum di sektor ini.
Namun, Ganesha Operation memilih pendekatan berbeda dengan menempatkan pengajar sebagai bagian dari keluarga besar institusi.
“Bagi kami, pengajar bukan sekadar sumber daya, tetapi bagian dari keluarga yang punya visi yang sama dalam membangun pendidikan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut, lanjut Bob Foster, diwujudkan melalui komunikasi yang intensif serta pembinaan berkelanjutan, sehingga para pengajar memiliki rasa memiliki yang kuat terhadap lembaga.
Tak hanya fokus pada pengajar, Ganesha Operation juga menaruh perhatian besar pada metode pembelajaran. Bob Foster menegaskan, keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh materi pelajaran, tetapi juga oleh pembentukan mental dan motivasi.
Ia memperkenalkan formula belajar yang menjadi ciri khas Ganesha Operation, yakni belajar, berlatih, dan bertanding. Konsep ini dirancang untuk membangun pemahaman, keterampilan, sekaligus mental kompetitif siswa.
“Belajar untuk memahami konsep, berlatih untuk mengasah kemampuan, dan bertanding untuk membangun mental juara,” jelasnya.
Menurut Bob Foster, mentalitas juara menjadi faktor penting dalam mendorong siswa meraih prestasi, baik di sekolah maupun dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Ia bahkan menanamkan prinsip 'to live is to compete' sebagai dorongan agar siswa siap menghadapi persaingan secara sehat.
Di era digital, Ganesha Operation juga mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Bob Foster menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendidikan.
“Teknologi bukan tujuan, tetapi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” katanya.
Melalui pemanfaatan sistem digital, siswa dapat mengakses materi belajar secara fleksibel, kapan saja dan di mana saja.
Selain itu, pendekatan pembelajaran juga menjadi lebih personal, menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Bob Foster menambahkan, digitalisasi memungkinkan lembaga pendidikan untuk menerapkan sistem pembelajaran berbasis hasil (output driven), sehingga capaian siswa dapat diukur secara lebih terarah.
Lebih jauh, ia mendorong lembaga kursus dan pelatihan lain untuk tidak ragu bertransformasi. Menurutnya, keberanian beradaptasi menjadi kunci agar lembaga pendidikan tetap dipercaya masyarakat.
“Fokus utama kita adalah kebutuhan siswa. Yang kita siapkan bukan hanya pelajaran, tetapi masa depan mereka,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Bob Foster menegaskan bahwa visi besar pendidikan adalah membangun generasi unggul yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa.
Ia optimistis, dengan komitmen dan inovasi yang berkelanjutan, lembaga pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan berdaya saing tinggi.
“Kalau kita konsisten membangun kualitas dan kepercayaan, maka lembaga pendidikan akan terus tumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


