Nyaris Dihapus Zaman, Hotel Savoy Homann Bandung Diselamatkan Sejarah
Bangunan bersejarah ini bukan sekadar hotel, melainkan saksi bisu perjalanan penting dunia, khususnya saat Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung.
BANDUNG – Senja perlahan turun di kawasan Jalan Asia Afrika Kota Bandung, memantulkan cahaya lampu kota pada lengkung art deco yang khas dari Hotel Savoy Homann.
Bangunan bersejarah ini bukan sekadar hotel, melainkan saksi bisu perjalanan penting dunia, khususnya saat Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung.
Di dalam kamar-kamarnya, sejarah pernah berdenyut. Kamar 244 tercatat sebagai tempat menginap Soekarno, sementara sejumlah tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, hingga Gamal Abdel Nasser juga pernah singgah di hotel ini.
Mereka datang membawa semangat kemerdekaan dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika, menjadikan Bandung sebagai pusat perhatian dunia kala itu.
Namun perjalanan Savoy Homann tidak selalu mulus. Ada masa ketika bangunan bersejarah ini nyaris hilang ditelan modernisasi.
Rencana pembangunan kota sempat mengarah pada pembongkaran gedung-gedung lama, digantikan dengan hotel-hotel modern berstandar internasional.
Di tengah situasi tersebut, muncul keputusan penting yang menyelamatkan bangunan ini dari kepunahan.
Pegiat Bandung Heritage, Frances Effendi, mengungkapkan bahwa keberadaan Savoy Homann hari ini tidak lepas dari peran tokoh bangsa yang mempertahankan nilai sejarahnya.
“Ada banyak cerita tentang upaya penyelamatan gedung ini. Kalau dijelaskan, bisa berjam-jam. Tapi yang jelas, ini adalah bagian penting dari sejarah yang harus kita jaga,” ujar Frances kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).
Ia menuturkan, pada masa itu muncul dorongan kuat untuk merombak wajah kota Bandung menjadi lebih modern. Savoy Homann termasuk salah satu bangunan yang hampir menjadi korban. Namun, keputusan tegas dari Soekarno menjadi titik balik.
“Bung Karno menolak. Beliau ingin bangunan bersejarah tetap dipertahankan. Dari situlah Savoy Homann akhirnya bisa bertahan hingga sekarang,” katanya.
Bagi Frances, keberadaan hotel ini bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan simbol identitas kota. Ia menilai, masyarakat Bandung perlu memiliki kebanggaan terhadap warisan sejarah yang dimiliki, termasuk Savoy Homann sebagai ikon penting.
“Ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal memori kolektif. Kita harus bangga sebagai warga Bandung karena memiliki sejarah sebesar ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Frances menekankan pentingnya upaya pelestarian yang berkelanjutan. Menurutnya, menjaga bangunan bersejarah tidak cukup hanya dengan mempertahankan fisiknya, tetapi juga menghidupkan nilai dan cerita yang melekat di dalamnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bandung yang berupaya mengangkat kembali semangat Konferensi Asia Afrika sebagai bagian dari identitas kota.
Rencana menjadikan Bandung sebagai “ibu kota Asia-Afrika” dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi sejarah kota di tingkat global.
“Saya melihat ada semangat dari pemerintah untuk terus merawat dan mengembangkan nilai sejarah ini. Itu hal yang sangat positif,” katanya.
Savoy Homann, lanjut Frances, kini tidak hanya berdiri sebagai hotel, tetapi juga sebagai ruang refleksi perjalanan bangsa. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang perjuangan, diplomasi, dan harapan akan dunia yang lebih setara.
Di tengah derasnya modernisasi, keberadaan bangunan seperti Savoy Homann menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus masa lalu. Justru, dari sejarah itulah identitas dan arah masa depan dapat dibangun.
“Kalau kita merawat sejarah dengan baik, itu akan menjadi kekuatan. Bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk membangun karakter masyarakat,” tuturnya.
Dengan segala nilai yang dimilikinya, Savoy Homann kini berdiri bukan hanya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai simbol keteguhan dalam menjaga warisan bangsa di tengah perubahan zaman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


