Advertisement
Peristiwa Daerah

Menyelami Dialog Ayah dan Anak dalam Pameran Seni "Like Father But Not Like Son"

Pameran “Like Father But Not Like Son” di Hamur Art Space Malang menghadirkan karya Didik Mojo dan Adhi Cahyo, ayah dan anak dengan gaya artistik berbeda, berlangsung 26 April–2 Mei 2026.

TIMES Indonesia,
Menyelami Dialog Ayah dan Anak dalam Pameran Seni "Like Father But Not Like Son"
Salah satu karya Didik Mojo yang didominasi garis dan pola geometris dipamerkan dalam Like Father But Not Like Son. (Foto: Evangeline Nasywa Khayyirah/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Relasi antara orang tua dan anak kerap dianggap sebagai cerminan yang serupa. Namun, pameran seni rupa Like Father But Not Like Son di Hamur Art Space justru menunjukkan sebaliknya. Kedekatan tidak selalu menghasilkan kesamaan.

Pameran ini menghadirkan dua perupa lintas generasi, Didik Mojo dan Adhi Cahyo, yang bukan hanya berbeda usia, tetapi juga memiliki hubungan sebagai ayah dan anak.

Advertisement

“Pameran ini menunjukkan bahwa orang tua dan anak itu tidak selalu sama, kita bisa menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda,” ujar Didik Mojo.

Menurutnya, perbedaan tersebut tidak lepas dari pengaruh zaman yang membentuk cara pandang dan pendekatan artistik masing-masing seniman. Hal ini kemudian menjadi benang merah dalam pameran yang menampilkan dua suara berbeda dari satu latar yang sama.

Didik Mojo (lahir 1966), dikenal sebagai perupa yang telah menempuh perjalanan panjang dalam seni lukis. Sejak mengenyam pendidikan di FSRD ISI Yogyakarta pada 1987, ia aktif berpameran di berbagai kota dan terus mengeksplorasi gaya, mulai dari realis hingga abstrak. Dalam karya terbarunya, ia mulai menekuni pendekatan visual berbasis garis dan pola geometris.

Pengunjung tampak memperhatikan karya Adhi Cahyo
Pengunjung tampak memperhatikan karya Adhi Cahyo yang mengusung pendekatan visual eksploratif dalam pameran Like Father But Not Like Son di Hamur Art Space, Malang. (Foto: Evangeline Nasywa Khayyirah/TIMES Indonesia)

Sementara itu, Adhi Cahyo (lahir 1997) mewakili generasi yang lebih muda dengan pendekatan yang lebih cair dan terbuka. Ia menjadikan karya sebagai ruang eksplorasi atas pengalaman dan pengamatan sehari-hari, yang terus berkembang seiring prosesnya sebagai perupa.

Advertisement

Secara visual, karya yang ditampilkan memadukan pola garis, bentuk geometris, serta ruang kosong yang memberi kesan dinamis. Elemen-elemen tersebut tidak hanya membentuk komposisi, tetapi juga merepresentasikan hubungan, perbedaan, serta kemungkinan yang terus terbuka.

Ruang pameran dibagi menjadi dua bagian yang saling terhubung, masing-masing menampilkan karya Didik Mojo dan Adhi Cahyo. Pembagian ini mempertegas dialog visual antara dua generasi yang berbeda, namun tetap berada dalam satu ruang yang sama.

Pameran ini merupakan bagian dari program Dua Duo IV yang diinisiasi oleh Hamur Art Space, sebuah konsep pameran yang mempertemukan dua seniman dalam satu ruang kolaboratif.

Didik berharap pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga dorongan bagi para seniman untuk terus berkembang.

“Harapannya, para seniman bisa terus menghasilkan karya yang dinamis dan berkembang,” ujarnya.

Pameran Like Father But Not Like Son dibuka pada 26 April 2026 dan berlangsung hingga 2 Mei 2026 di Hamur Art Space, Jalan Cisadane No. 11A, Kota Malang. (*)

 

Pewarta: Evangeline Nasywa Khayyirah

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia