Tak Gengsi Jualan Keliling 14 Tahun, Alumni UB Siapkan Masa Depan dari Usaha Keliling Kampus
Kisah inspiratif datang dari Muhammad Zuber Syamsudin (31), yang akrab disapa Udin. Alumni Antropologi Universitas Brawijaya (UB) Malang ini berhasil mewujudkan mimpinya melalui perjuangan berjualan makanan keliling selama 14 tahun.
MALANG – Kisah inspiratif datang dari Muhammad Zuber Syamsudin (31), yang akrab disapa Udin. Alumni Antropologi Universitas Brawijaya (UB) Malang ini berhasil mewujudkan mimpinya melalui perjuangan berjualan makanan keliling selama 14 tahun.
Setiap hari, Udin berkeliling area kampus UB dan UM dengan membawa satu kotak jajanan pasar untuk dijajakan ke berbagai sudut kampus, dari pagi hingga sore.
Udin memulai usahanya pada 2012, saat dirinya menerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah sebesar Rp600 ribu per bulan. Namun, biaya kos yang mencapai Rp500 ribu membuatnya harus mencari tambahan penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Waktu itu dapat Rp600 ribu, sementara kos Rp500 ribu. Mau tidak mau harus cari tambahan sendiri,” ujar pria asal Pasuruan tersebut.
Berbagai pekerjaan sempat ia coba, mulai dari melamar kerja di laundry hingga kafe. Namun, jadwal kuliah yang tidak menentu membuatnya kesulitan bertahan. Dari situ, Udin memilih berjualan sebagai jalan keluar.
Pada awalnya, Udin mencoba konsep kantin kejujuran dengan menitipkan kue di beberapa sudut kampus. Akan tetapi, cara tersebut tidak berjalan efektif karena ia kerap mengalami kerugian. Udin kemudian beralih menjual langsung dengan berkeliling kampus, sebuah rutinitas yang ia jalani selama bertahun-tahun.
Di balik kerja kerasnya, Udin memiliki mimpi sederhana, yakni membangun rumah. Dengan menyisihkan keuntungan dari hasil jualan serta sumber pendapatan lainnya secara konsisten, mimpi tersebut akhirnya berhasil diwujudkan.
“Sehari omzetnya bisa sampai Rp700 ribu, nah sisanya aku kumpulin buat nabung dan bangun rumah,” katanya.
Meski memiliki penghasilan yang cukup besar, Udin memilih hidup sederhana. Bahkan, ia mengalokasikan hingga 90 persen pendapatannya untuk ditabung demi mencapai target finansialnya.
Udin menyadari bahwa jalan hidup yang ia pilih mungkin berbeda dari kebanyakan orang. Ia sengaja membangun stabilitas finansial terlebih dahulu sebelum mengejar karier impiannya di dunia akademik sebagai dosen.
“Karena saya pikir kalau sudah jadi dosen harus mengabdi, jadi finansial harus stabil dulu, makanya aku kejar finansialku dulu baru lanjut ngajar,” tambahnya.
Selama berjualan, Udin tetap aktif menulis, melakukan penelitian, serta mengisi materi kewirausahaan. Kini, ia tengah mempersiapkan studi S2 sekaligus mempelajari berbagai soft skill baru, termasuk digital marketing.
Bagi Udin, mimpi sederhana justru menjadi fondasi besar dalam hidupnya. Ia meyakini bahwa setiap orang harus memiliki mimpi agar mampu bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.
“Seseorang harus punya mimpi untuk bisa maju. Aku bisa segila itu dalam bekerja karena ingin mewujudkan mimpiku,” imbuhnya.
Di akhir cerita, Udin berpesan kepada generasi muda agar tidak gengsi untuk berwirausaha dan mulai membangun kemandirian sejak dini.
“Meskipun sekarang lagi kerja corporate, tetap tumbuhkan jiwa wirausaha itu, biar kita bisa tetap mandiri dan memiliki sumber pendapatan yang lain,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


