Advertisement
Peristiwa Daerah

BPDP Gandeng Politeknik LPP, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Hilirisasi Produk Perkebunan

BPDP bersama Politeknik LPP melatih 100 peserta di Sidoarjo mengolah komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah, dorong hilirisasi dan daya saing UMKM.

TIMES Indonesia,
BPDP Gandeng Politeknik LPP, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Hilirisasi Produk Perkebunan
Upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Politeknik LPP melalui program pengembangan kewirausahaan berbasis UMKM di Sidoarjo (foto dok BPDP)
A-AA+

SIDOARJO Upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan kini menyasar level usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggandeng Politeknik LPP menggelar pelatihan kewirausahaan di Sidoarjo untuk mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti 60 pelaku UMKM dan 40 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Program ini menjadi bagian dari strategi penguatan UMKM yang selama ini menopang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja.

Advertisement

Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan terkait peran strategis komoditas perkebunan dalam perekonomian nasional. Materi disampaikan oleh perwakilan BPDP Helmi Muhansah, Politeknik LPP Azhari Rizal, Dinas Koperasi dan UKM Mohammad Edi Kurniadi, serta akademisi Umsida Poppy Diana Sari.

Helmi Muhansah dalam pemaparannya menegaskan bahwa komoditas seperti kelapa sawit memberikan kontribusi ekspor hingga puluhan miliar dolar AS setiap tahun. Sementara kakao dan kelapa dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk makanan, minuman, hingga kebutuhan kesehatan dan kosmetik.

Selain penguatan wawasan, peserta juga dibekali strategi branding dan pengembangan usaha. Aspek ini dinilai krusial karena produk UMKM kini tidak hanya bersaing di pasar lokal, tetapi juga berpeluang masuk ke pasar digital yang terus berkembang.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut ke praktik langsung pembuatan produk turunan. Peserta dilatih memproduksi lilin aromaterapi, car freshener, serta minuman cokelat berbasis krimer sawit. Tahap ini menjadi implementasi konkret hilirisasi, di mana komoditas mentah diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Kegiatan praktik didampingi tim Unit Pengembangan Institusi (UPI) Politeknik LPP Yogyakarta, yang memberikan asistensi teknis mulai dari proses produksi hingga pengemasan. Diskusi interaktif antara peserta dan pendamping berlangsung intens, mencerminkan tingginya minat terhadap peluang usaha berbasis komoditas perkebunan.

Advertisement

Sakti, anggota tim UPI, menyatakan bahwa penguatan UMKM merupakan bagian penting dari strategi nasional hilirisasi dan pemerataan ekonomi.

“Hilirisasi tidak hanya dilakukan oleh industri besar. UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai. Jika ini berjalan, dampaknya bukan hanya peningkatan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga kontribusi nyata terhadap ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (1/5/2026).

Ia menambahkan, peningkatan daya saing UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup kualitas produk, branding, kemasan, hingga pemasaran digital.

“Dengan strategi yang tepat, produk UMKM berpotensi menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor,” katanya.

Sementara itu, Helmi Muhansah menegaskan bahwa transformasi UMKM menuju produk olahan menjadi peluang besar di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk bernilai tambah.

“Ketika UMKM mampu mengolah komoditas menjadi produk jadi, nilai ekonominya bisa meningkat signifikan. Ini menjadi peluang besar, seiring tren konsumen yang mulai mencari produk alami, berkelanjutan, dan berbasis lokal,” jelasnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah satu pelaku UMKM mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam mengembangkan usaha, terutama dalam mengolah bahan sederhana menjadi produk bernilai tinggi.

Keterlibatan mahasiswa dalam program ini juga dinilai penting untuk mendorong inovasi. Kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM diyakini dapat mempercepat transfer teknologi sederhana yang aplikatif di lapangan.

Ke depan, BPDP berencana memperluas model pelatihan serupa ke berbagai daerah dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem UMKM sekaligus mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan agar memberi dampak ekonomi yang lebih luas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rudi Mulya
PenulisRudi MulyaSarjana Ilmu Sosial (S.Sos) Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Fotografer dan Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, Pemerintahan, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia