Miris, Miliki Sumber Mata Air Melimpah, Warga Banyumudal Pemalang Harus Beli Air Bersih
Terpisah, Pjs Direktur PDAM Tirta Mulia, Sarwo Edi saat menerima perwakilan warga Desa Banyumudal di ruang kerjanya, mengatakan,jika pihak PDAM berkomitmen membantu warga kedua Desa tersebut terkait dengan keluhan mereka
PEMALANG – Sebuah ironi menyelimuti kehidupan ribuan Kepala Keluarga (KK) di Desa Banyumudal ,Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang,Jawa Tengah.
Di tengah kekayaan alam berupa mata air melimpah dengan debit stabil sepanjang tahun, ribuan warga di desa ini justru masih kesulitan mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
'Banyumudal' sendiri menurut bahasa Jawa artinya 'air yang melimpah'. Tetapi ditemukan fakta pahit bahwa sumber air yang berada di wilayah hukum Desa Banyumudal dan Moga ini justru dialirkan dan dinikmati warga desa lain selama bertahun-tahun.
Hal ini karena warga desa lain mampu membayar setoran air yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mulia Pemalang.
Warga Banyumudal sendiri hanya bisa menjadi penonton di tanah mereka sendiri, karena terhalang medan dan keterbatasan anggaran.

Syamsul Ma'arif warga Dusun Sikucing, Desa Banyumudal menjelaskan bahwa letak geografis menjadi penghalang utama. Lokasi mata air berada di area cukup dalam dan curam, sementara pemukiman warga berada di dataran lebih tinggi.
“Kami memiliki mata air yang sangat besar dan lebih dari satu tempat, tetapi untuk menyalurkannya ke masyarakat, kami tidak memiliki anggaran yang memadai, sehingga untuk mendapatkan air bersih kami harus bayar bulanan,berlangganan PDAM," ujarnya, Jumat (1/5/2026).
"Kondisi alam yang mendaki membuat kami sangat kesulitan menaikkan air ke desa tanpa dukungan infrastruktur pompa yang mumpuni,” imbuhnya.
Sementara pegiat lingkungan hidup Pemalang, Andi Rustono menyebut Desa Banyumudal tidak bisa menikmati air tersebut karena posisi geografis mereka lebih tinggi dari mata air sehingga air bisa mengalir secara gravitasi (alami) tanpa butuh pompa ke desa lain,
Selain itu, pengaliran tersebut juga telah dilakukan melalui mekanisme kesepakatan atau izin. Biaya teknis untuk menaklukkan medan yang mendaki tersebut jauh melampaui kemampuan Dana Desa yang ada saat ini.

Kondisi ini menjadi sebuah ironi yang mendesak untuk segera diselesaikan, Warga Desa Banyumudal berharap agar pihak PDAM turun tangan memberikan bantuan teknis dan pendanaan pembangunan infrastruktur.
“Harapan kami PDAM bisa melihat langsung kondisi di Desa Banyumudal. Mereka sangat membutuhkan bantuan berupa instalasi pompa dan perpipaan agar air yang melimpah ini tidak hanya lewat, tapi benar-benar bisa masuk ke rumah-rumah warga," tegas Andi.
Warga berharap, mata air yang menjadi urat nadi kehidupan tersebut tidak lagi hanya menjadi pemandangan menyakitkan hati, melainkan jadi berkah nyata yang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Desa Banyumudal dan Moga - tanpa terkecuali.
Terpisah, Pjs Direktur PDAM Tirta Mulia, Sarwo Edi saat menerima perwakilan warga Desa Banyumudal di ruang kerjanya, mengatakan,jika pihak PDAM berkomitmen membantu warga kedua Desa tersebut terkait dengan keluhan mereka
"Masyarakat bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada, Kalau misalnya butuh kajian dari kami, bisa dibantu, tidak usah pakai biaya,tapi dengan catatan ada bantuan dari warga," ucapnya.
"Prinsip kami tetap koperatif dan jika butuh tenaga, kami siap karena kita harus berdampingan dengan masyarakat," tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


