Cultural Fun Walk Jogja 2026: Ribuan Warga Berbusana Tradisional Semarakkan Kota, Budaya Jadi Daya Tarik Wisata
Cultural Fun Walk di Yogyakarta menghadirkan ribuan peserta berkebaya dan bersorjan, menyusuri Tugu–Beringharjo sebagai ruang pelestarian budaya dan kebersamaan.
YOGYAKARTA – Semangat pelestarian budaya terasa begitu hidup di jantung Kota Yogyakarta saat gelaran Cultural Fun Walk digelar pada Jumat (1/5/2026). Kegiatan ini sukses menyulap ruas jalan dari Tugu Yogyakarta hingga Pasar Beringharjo menjadi panggung budaya terbuka yang memikat perhatian warga dan wisatawan.
Ribuan peserta tampak berjalan santai mengenakan busana tradisional seperti kebaya, kain, hingga sorjan. Pemandangan ini bukan sekadar parade visual, melainkan representasi nyata komitmen masyarakat dalam menjaga dan merawat warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Cultural Fun Walk hadir sebagai ruang interaksi budaya yang inklusif. Selain mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi yang menegaskan bahwa budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dihidupkan dalam keseharian.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar jalan santai. Menurutnya, Cultural Fun Walk menjadi momentum refleksi yang menghubungkan berbagai peringatan penting nasional seperti Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, hingga Hari Buruh.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah bentuk nyata penguatan identitas budaya yang bisa dinikmati semua kalangan, baik warga lokal maupun wisatawan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi ciri khas Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan beragam komunitas budaya. Mulai dari komunitas pecinta kebaya, kain tradisional, sastra dan bahasa, museum, hingga komunitas pria bersorjan turut ambil bagian.
Menurut Yetti, keterlibatan lintas komunitas ini menjadi bukti bahwa semangat pelestarian budaya di Yogyakarta terus tumbuh dan berkembang. “Kami ingin menegaskan bahwa Yogyakarta sebagai kota budaya harus terus bergerak melalui aktivitas berbasis kearifan lokal,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa meski dikemas santai, Cultural Fun Walk tetap sarat makna. Para peserta tidak hanya berjalan, tetapi juga menikmati perjalanan dengan penuh kegembiraan sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.
Salah satu peserta, Astuti dari Komunitas Baju Lurik Jogja, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman berharga. Ia menilai Cultural Fun Walk menjadi ajang mempererat hubungan antar komunitas sekaligus membuka ruang kolaborasi baru.
“Rasanya lebih dekat dan akrab. Banyak komunitas yang terlibat, jadi kita bisa saling mengenal dan memperkuat kebersamaan,” katanya.
Lebih dari sekadar kegiatan rekreatif, Cultural Fun Walk telah menjelma menjadi medium interaksi sosial yang efektif sekaligus sarana promosi budaya. Kegiatan ini menunjukkan bahwa identitas lokal tetap relevan dan bahkan bisa menjadi daya tarik wisata unggulan ketika dikemas secara kreatif dan partisipatif.
Di tengah derasnya modernisasi, Yogyakarta kembali membuktikan diri sebagai kota yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu menghidupkannya dalam ruang publik secara dinamis. Cultural Fun Walk pun menjadi simbol bahwa budaya akan selalu hidup, selama masyarakat terus merawatnya bersama. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

