Revitalisasi TKP Senopati Yogyakarta: Becak dan Andong Disiapkan Jadi Transportasi Wisatawan
Setelah diberlakukannya larangan parkir bus pariwisata di TKP Senopati, area ini kini diproyeksikan menjadi pusat transit moda transportasi tradisional seperti becak dan andong.
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogyakarta) bergerak cepat menata ulang kawasan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati demi meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Setelah diberlakukannya larangan parkir bus pariwisata di lokasi tersebut, area ini kini diproyeksikan menjadi pusat transit moda transportasi tradisional seperti becak dan andong.
Kebijakan ini digagas sebagai bagian dari strategi Pemkot untuk mengoptimalkan akses wisata menuju kawasan Jeron Beteng yang semakin diminati wisatawan.
Selain kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta, destinasi lain seperti Pasar Ngasem kini juga kian ramai dikunjungi.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menjelaskan bahwa penataan ini merupakan respons atas meningkatnya mobilitas wisatawan ke pusat kota, khususnya kawasan dalam benteng (Jeron Beteng).
“Setelah tidak ada lagi aktivitas parkir bus wisata di TKP Senopati, kawasan ini tetap ramai dimanfaatkan oleh wisatawan, terutama pengguna kendaraan pribadi dan minibus seperti Elf,” ujar Agus, Minggu (3/5/2026).
"Karena kapasitas parkir di dalam Jeron Beteng terbatas, maka kami siapkan moda lanjutan berupa becak dan andong dari titik ini," imbuhnya.
Titik Strategis dan Fasilitas Pendukung Disiapkan
Pemkot telah menentukan sejumlah titik strategis untuk pangkalan becak dan andong, yakni di sisi utara dan selatan bangunan toilet bawah tanah, serta di area antara parkir tengah dan barat TKP Senopati.
Untuk memudahkan wisatawan, akan dipasang marka khusus dan papan informasi bertuliskan 'order here'.
Dengan sistem ini, wisatawan yang hendak menjelajahi kawasan Jeron Beteng atau berburu kuliner khas di Pasar Ngasem dapat langsung mengakses transportasi tradisional dengan lebih mudah dan tertata.
Kapasitas Besar, Antrean Malioboro Diharapkan Berkurang
Secara kapasitas, TKP Senopati mampu menampung sekitar 10 unit andong dan 30 becak dalam satu waktu.
Dengan sistem operasional selama 12 jam per hari, jumlah tersebut dapat berputar hingga melayani sekitar 60 andong dan lebih dari 200 becak setiap harinya.
Langkah ini diharapkan mampu mengurai kepadatan antrean becak dan andong yang selama ini kerap menumpuk di kawasan Malioboro, sekaligus menciptakan distribusi wisatawan yang lebih merata.
Tak hanya fokus pada penataan ruang, Pemkot Yogyakarta juga memperkuat identitas budaya dalam layanan transportasi wisata.
Sesuai arahan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, para kusir andong dan pengemudi becak akan diarahkan mengenakan busana khas Yogyakarta seperti lurik.
Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lebih autentik sekaligus memperkuat citra Kota Yogyakarta sebagai destinasi budaya unggulan.
Jaga Kebersihan dan Kenyamanan Kawasan
Dalam implementasinya, Dinas Perhubungan juga berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), untuk memastikan pengelolaan limbah dan fasilitas pendukung berjalan optimal.
Pemkot menegaskan bahwa penataan ini tidak hanya berfokus pada mobilitas, tetapi juga pada aspek kebersihan, estetika, dan kenyamanan kawasan.
“Prinsipnya kami siapkan dulu infrastrukturnya. Transportasi tradisional akan kami perkuat agar memiliki nilai tambah bagi wisatawan yang ingin menjelajah kawasan Jeron Beteng,” terang Agus.
Dengan langkah ini, TKP Senopati diharapkan tidak sekadar menjadi tempat parkir, tetapi juga gerbang baru pengalaman wisata khas Yogyakarta yang lebih tertata, nyaman, dan berkarakter budaya kuat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


