Advertisement
Peristiwa Daerah

Ulama Muda Kharismatik Gus Hans : Muktamar ke-35 Penentu Perjalanan Nahdlatul Ulama Abad Kedua

Gus Hans memberikan catatan penting jelang Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026. Ia menekankan pentingnya pemimpin yang fokus pada umat dan kepanitiaan yang bersih dari konflik kepentingan.

TIMES Indonesia,
Ulama Muda Kharismatik Gus Hans : Muktamar ke-35 Penentu Perjalanan Nahdlatul Ulama Abad Kedua
KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. (Foto: Dok.TIMES Indonesia)
A-AA+

Surabaya Bursa pencalonan Ketua Umum PBNU mulai menghangat dengan kemunculan sejumlah tokoh potensial. Termasuk petahana KH Yahya Cholil Staquf, KH Said Aqil Siradj, KH Abdussalam Sohib, dan KH Imam Jazuli. Nama-nama ini akan bertemu dalam agenda akbar Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026 mendatang.

Menurut ulama muda kharismatik KH Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans, Nahdlatul Ulama (NU) memerlukan sosok yang sejuk, santun, berisi, dan berilmu dengan jiwa yang sangat tinggi sebagai seorang pemimpin.

Advertisement

"Muktamar NU ke-35 adalah gerbang penentu memasuki perjalanan NU menuju abad kedua. Saya kira ini adalah momentum kita untuk mengubah prestise dari kepengurusan yang sebelumnya menjadi kepengurusan yang jauh lebih baik lagi yang fokus pada keumatan, fokus pada kebangsaan, tidak fokus kepada diri sendiri dan juga kebutuhannya masing-masing," kata Gus Hans, Selasa (5/5/2026).

Dan yang paling prestisius menurut Gus Hans, Muktamar ke-35 tidak lagi memunculkan konflik dari masing-masing pribadi, sehingga mengantarkan jalan mulus membangun NU yang baru dan lebih segar.

Selanjutnya, Sekjen Gerakan Nasional Ayo Mondok ini berharap para Muktamirin dan pemimpin menggunakan hati nurani untuk bisa memilih tokoh yang layak mengemban amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Tokoh yang setiap pidato dan ceramahnya bisa menjadi buku pegangan bagi para Nahdliyin.

"Dan Ketua Umum nya adalah seorang organisatoris yang fokus membina masyarakat Nahdlatul Ulama di mana saja, tidak fokus untuk kepentingan pribadinya. Saya yakin para Muktamirin bisa memilih sosok-sosok tersebut," sambungnya.

Sementara terkait kepanitiaan yang telah terbentuk, Gus Hans berharap tidak melibatkan personal yang sedang berkonflik sehingga bisa meminimalisir terjadinya konflik kepentingan dalam Muktamar NU ke-35.

Advertisement

"Jika melibatkan orang yang berkonflik, saya tidak begitu optimis pelaksanaan Muktamar ini bisa kembali murni. Jangan lupa mereka harus ingat dari ibu kandungnya, yaitu pesantren," ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia