Dinkes Banyuwangi Perkuat GERMAS dengan Semangat ‘Tandang Bareng’ untuk Tekan Hipertensi
Dinkes Banyuwangi perkuat GERMAS dengan semangat Tandang Bareng untuk menekan hipertensi, anemia, serta angka kematian ibu dan bayi.
BANYUWANGI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mengusung semangat ‘Tandang Bareng’ sebagai strategi untuk menekan tingginya angka hipertensi di wilayah Bumi Blambangan.
Tagline yang diinisiasi Bupati Banyuwangi tersebut diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Pendekatan kolaboratif ini mendorong masyarakat berperan aktif sebagai agen perubahan dalam menerapkan pola hidup sehat, bugar, dan produktif.
Upaya tersebut dinilai penting mengingat hipertensi merupakan faktor risiko berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Sebagai langkah konkret, Dinkes Banyuwangi menggelar kegiatan “Penguatan Dukungan Mitra Potensial dalam Penggerakan GERMAS” di Aula dr. Rasad Oesman, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penyatuan visi lintas sektor dalam menekan angka hipertensi.

Sejumlah elemen turut hadir, mulai dari organisasi keagamaan seperti PC NU, Muhammadiyah, LDII, hingga perwakilan umat Hindu, Buddha, Konghucu, dan pastoral keparokian. Selain itu, organisasi perempuan dan pemuda seperti TP PKK, Fatayat, Muslimat, dan Nasyiatul Aisyiyah juga ambil bagian.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi, di antaranya Universitas Airlangga, Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba), serta STIKes Rustida Krikilan, termasuk peran media.
Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penguatan GERMAS, terutama di tengah meningkatnya tren penyakit metabolik di masyarakat.
“Saat ini yang menjadi prioritas penguatan GERMAS adalah menekan tingginya angka hipertensi di Banyuwangi,” ujar Amir.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan gratis sepanjang 2025, sekitar 20 persen penduduk Banyuwangi terdata mengidap hipertensi. Data tersebut menjadi dasar penguatan gerakan promotif dan preventif.
“Mitra yang terlibat diharapkan dapat menyosialisasikan pola hidup sehat, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, pembatasan gula dan garam, hingga ajakan berolahraga dan istirahat cukup,” jelasnya.
Selain hipertensi, Dinkes Banyuwangi juga menyoroti pentingnya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Upaya pencegahan dilakukan sejak hulu, terutama dengan menangani kasus anemia pada remaja putri.
Amir menjelaskan, anemia pada usia remaja berpotensi berdampak pada kesehatan jangka panjang, termasuk meningkatkan risiko komplikasi saat kehamilan.
“Meskipun angka kematian ibu menurun dari 28 kasus pada 2024 menjadi 19 kasus pada 2025, angka tersebut seharusnya masih bisa ditekan,” ujarnya.
Data pemeriksaan kesehatan juga menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri di Banyuwangi mencapai 25,4 persen. Kondisi ini berisiko memicu siklus masalah kesehatan, mulai dari kehamilan berisiko hingga stunting pada generasi berikutnya.
“Ini yang harus kita cegah agar tidak menjadi siklus,” tegas Amir.
Melalui penguatan GERMAS berbasis kolaborasi ‘Tandang Bareng’, Dinkes Banyuwangi berharap dapat menekan angka hipertensi, AKI, AKB, serta kasus anemia secara berkelanjutan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


