Detik-detik Insiden Teror Wisatawan Surabaya di Cottage Pantai Wediawu Malang
Insiden dugaan penyerangan dan perusakan yang dialami rombogan wisatawan asal Surabaya, di sekitar Cottage Pantai Wediawu Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Selasa (4/5/2026) malam, menggemparkan wisata di Kabupaten Malang.
MALANG – Insiden dugaan penyerangan dan perusakan yang dialami rombogan wisatawan asal Surabaya, di sekitar Cottage Pantai Wediawu Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Selasa (4/5/2026) malam, menggemparkan wisata di Kabupaten Malang.
Kejadian ini dilaporkan telah memakan korban enam orang wisatawan, berikut kerusakan enam unit kendaraan yang membawa rombongan. Sebagian korban mengalami luka-luka, dan kehilangan barang bawaan.
Lebih dati itu, kasus dugaan penyerangan wisatawan ini telah meninggalkan trauma, juga sentimen luas. Kekhawatiran juga dialami pihak pengelola wisata pantai di kawasan ini. Dampaknya, terjadi boikot meluas dan ditinggalkan calon wisatawan.
TIMES Indonesia telah berupaya mengkonfirmasi pemilik sekaligis pengelola cottage yang ada di kawasan Pantai Wedi Awu, Dwi Setyo (52). Sebelum dan saat terjadi insiden kerusuhan, ia mengaku berada di lokasi dan turut melihat kejadian.

Menurut Dwi, insiden bermula sekira pukul 2.00 WIB, pada Selasa (4/5/2026), usai ia didatangi empat orang yang tiba-tiba datang ke lokasi kejadian.
"Saya awalnya terbangun dari tidur, untuk menunggu dua tamu pengunjung luar kota yang berniat menginap. Tetapi, sekitar pukul 2 dini hari, ada empat orang yang datang. Mengakunya dari Bululawang dan Sumbertangkil sini (Tirtoyudo),' terang Dwi Setyo alias Pak Wo, Rabu (6/5/2026).
Tamu malam hari ini, lanjutnya, menanyakan adakah tamu pengunjung menginap dari Surabaya. Dwi lalu membenarkan keberadaan rombongan wisatawan asal Surabaya malam itu.
Tak berselang lama, kata Dwi, massa lebih banyak berdatangan dari arah depan (Pantai Wedi Awu) dan dari belakang area cottage, yang merupakan area parkir pengunjung. Mereka kemudian merangsek menuju ke area bangunan cottage.
"Massa ini kamudian meminta pengunjung yang ada di beberapa cottage keluar dan berkumpul di lapangan. Ada yang bertanya, yang membawa atribut bonek untuk dikeluarkan. Nadanya membentak-bentak," kisah Dwi.
Belum sempat dijawab lengkap pertanyaan itu, beberapa dari massa lalu terlihat mencoba menyerang wisatawan. Samar-samar Dwi melihat, beberapa benda keras dibawa massa, seperti batu, balok kayu, juga pecahan botol. Namun, tidak dilihatnya ada yang membawa benda tajam.
Masih kata Dwi, kejadiannya saat itu begitu cepat dan mencekam. Saat itu, ia ditemani anak perempuannya yang coba merekam kejadian dengan poselnya. Tetapi, oleh massa diteriaki agar tidak mengambil foto ataupun video. Gambar yang terekam juga diminta dihapus.
Sehabis subuh, sekitar pukul 05.30 WIB, Dwi baru berinisiatif melaporkan kejadian ke Polsek Tirtoyudo. Berikutnya, dilakukan pengamanan tempat kejadian, berikut korban dan barang bukti oleh polisi, kemudian jajaran Polres Malang dengan dua truk polisi.
Listrik Padam Saat Kejadian Kerusuhan
Dwi menerangkan, situasi tiba-tiba saat datangnya massa cukup mencekam, dalam kondisi gelap minim penerangan.
"Saat ramai massa tidak ada penerangan. Sakelar listrik off. Gak tahu kok ada yang mengetahui posisi sakelarnya. Massa yang mencoba mendatangi cottage wisatawan Surabaya saat ini menggunakan sorot lampu hape," terangnya.
Tak hanya listrik penerangan yang mati, CCTV yang terpasang di area cottage juga tidak berfungsi saat kejadian. Dikatakan Dwi, ada empat unit CCTV yang terpasang di area tersebut. Diantaranya di area kantin cottage, juga area parkir.
"Ada empat CCTV yang terpasang di area cottage ini. Tapi semuanya menjangkau atau bisa memonitor lokasi. Semua sudah dibawa polisi kemarin," kata Dwi.
Berawal dari Joget dan Nyanyian Rasis
Dwi Setyo mengungkapkan, rombongan wisatawan asal Surabaya datang ke lokasi cottage siang hari sebelumnya, sekira pukul 14.00 WIB. Rombongan yang diketahui karyawan perusahaan Shopee ini terkonfirmasi berjumlah 70 orang. Mereka kemudian menyewa 8 unit cottage.
Beberapa dari wisawatan ini sempat bermain bola plastik di halaman area tenda, kemudian pindah ke lapangan dekat pantai Wedi Awu. Saat petang menjelang magrib, mereka lalu berkumpul rapat.
Selanjutnya, memasang speaker aktif untuk musik di tengah lapangan. Karena cuaca sempat gerimis, mereka lalu pindah ke cottage nomor 4.
Dwi menambahkan, kegiatan berjoget dan bernyanyi bersama diiringi musik DJ berlanjut, hingga ditinggalnya istirahat tidur sekira pukul 22.30 WIB.
"Saat datang empat orang pengunjung lain itu, ada yang sempat membahas soal nyanyian rasis yang menyinggung Arema. Tetapi, Saya tidak tahu persis yang dimaksud sebenarnya seperti apa, karena memang tidak menjaga lagi (istarahat)," demikian warga asli Desa Purwodadi ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


