Laksanakan Amanat Musrenbang, Warga Pulorejo Kota Mojokerto Dilatih Membatik
Pemkot Mojokerto merealisasikan usulan Musrenbang melalui pelatihan membatik bagi warga Pulorejo di Sentra IKM Batik Maja Barama Wastra.
Mojokerto – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto terus merealisasikan usulan masyarakat melalui program pemberdayaan yang lahir dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Salah satunya diwujudkan melalui pelatihan membatik bagi warga Kelurahan Pulorejo yang digelar di Sentra IKM Batik Maja Barama Wastra selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 Mei 2026.
Pelatihan ini mendapat antusiasme tinggi dari warga, khususnya kaum perempuan, yang ingin mengasah keterampilan sekaligus melestarikan budaya batik sebagai warisan leluhur. Para peserta dibekali kemampuan teknis secara menyeluruh, mulai dari proses pengecapan, pewarnaan, hingga tahap akhir (finishing) kain batik.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menindaklanjuti aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui forum Musrenbang.
“Pemerintah Kota Mojokerto berupaya menghadirkan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Pelatihan membatik ini tidak hanya sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang peningkatan keterampilan dan ekonomi warga,” ujar Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita tersebut, Kamis (7/5/2026).
Menurut Ning Ita, batik bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Melalui pelatihan ini, diharapkan minat masyarakat dalam mengembangkan kreativitas di bidang batik semakin meningkat.
Salah satu peserta pelatihan, Heny Mariyah, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang merupakan hasil usulan Musrenbang tersebut. Ia tertarik belajar membatik karena saat ini batik telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Kami tertarik belajar membatik karena sekarang batik sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Mau ke acara apa pun sering memakai batik, jadi kami ingin belajar lebih dalam,” ungkap Heny.
Ia menambahkan, pelatihan tersebut juga menjadi sarana untuk melestarikan budaya leluhur masyarakat Jawa. Menurutnya, batik merupakan simbol kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Selama tiga hari pelatihan, para peserta mendapatkan pembelajaran lengkap, mulai dari teknik mencanting, mengecap, pewarnaan, hingga tahap pencucian, penghilangan malam, penjemuran, dan penyetrikaan kain.
“Kami diajari prosesnya dari awal sampai finishing. Sekarang kami lebih tahu ternyata proses membatik itu cukup rumit, hal ini justru membuat kami semakin menghargai karya para pembatik,” tuturnya.
Heny pun menyatakan ketertarikannya untuk terus mendalami keterampilan membatik. “Rasanya unik dan menyenangkan. Selain ilmunya bermanfaat, para pelatih juga ramah dan tidak pelit berbagi ilmu,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


