Gubernur Khofifah Jadi Guest Lecture Dies Natalis ke-39 Universitas Hang Tuah
Gubernur Jatim Khofifah paparkan visi Gerbang Baru Nusantara di Dies Natalis ke-39 UHT. Fokus pada penguatan SDM maritim dan Blue Economy.
SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) maritim unggul dan pengembangan ekonomi biru (blue economy) menjadi kunci utama dalam mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara sekaligus orkestrator rantai nilai nasional.
Hal tersebut dipaparkan Gubernur Khofifah saat menjadi guest lecturer dalam acara Dies Natalis ke-39 Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, Kamis (7/5/2026).
Khofifah menjelaskan bahwa arah pembangunan Jawa Timur dalam jangka menengah dan panjang dirumuskan melalui konsep “Gerbang Baru Nusantara”. Konsep ini menempatkan Jawa Timur tidak hanya sebagai wilayah transit, tetapi pusat orkestrasi rantai nilai nasional yang terintegrasi dan berdaya saing global.
Untuk mendukung visi tersebut, terdapat empat pengungkit utama yang terus diperkuat: hilirisasi industri, stabilitas pasokan komoditas strategis, peningkatan mobilitas tenaga kerja, serta penguatan konektivitas ekonomi antarwilayah.

"Keempat pengungkit tersebut saling terhubung dan bertumpu pada satu faktor kunci, yaitu ketersediaan SDM unggul yang adaptif dan berdaya saing global," jelas Khofifah.
Sebagai pusat industri pengolahan terbesar kedua di Indonesia, Jawa Timur memiliki kekuatan pada sektor agro-maritim, industri perkapalan, hingga pariwisata bahari. Transformasi ekonomi kini diarahkan dari berbasis sumber daya alam (resource-based economy) menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Dalam konteks kemaritiman, Khofifah menekankan pergeseran paradigma menuju blue economy yang produktif dan berkelanjutan. Berdasarkan data, nilai Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Jawa Timur mencapai 60,54 pada tahun 2024, dengan target peningkatan signifikan menuju tahun 2045.
Gubernur juga memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Hang Tuah atas kontribusinya mencetak praktisi maritim. Menurutnya, pengoperasian teknologi maritim modern saat ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga stabilitas psikologis yang kuat.
"Banyak negara membutuhkan tenaga pengelasan bawah air (underwater welding). Oleh karena itu, diharapkan Universitas Hang Tuah bisa memberikan pelatihan spesifik tersebut karena permintaannya sangat tinggi di tingkat global," sebut Khofifah.

Ia berharap momentum Dies Natalis ini menjadi ruang refleksi untuk memperkuat peran strategis Jawa Timur dalam industri pertahanan maritim nasional.
Sementara itu, Rektor Universitas Hang Tuah, Laksamana Muda (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari, menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. UHT siap memperkuat riset dan inovasi guna mendukung pembangunan daerah yang inklusif.
"Kami terus memperkuat program pengabdian masyarakat di wilayah pesisir melalui desa binaan. Kami berharap program ini bersinergi dengan Pemprov Jatim sehingga manfaat UHT dirasakan langsung oleh masyarakat luas," ujar Avando.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) antara Pemprov Jawa Timur dan Universitas Hang Tuah. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan SDM untuk mengoptimalkan pelayanan publik di Jawa Timur. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


