Bantah Klaim Tikus Sawah Aman, Dinkes Pacitan Sebut 70 Persen Tikus Terpapar Leptospira
Dinkes Pacitan menyebut 70 persen tikus hasil penelitian mengandung bakteri leptospira penyebab leptospirosis. Warga diminta waspada dan gunakan APD.
PACITAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan menegaskan sekitar 70 persen populasi tikus yang pernah diteliti sejak 2015 terbukti terpapar virus bakteri leptospira penyebab leptospirosis.
Pernyataan ini sekaligus merespons klaim Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan yang sebelumnya menyebut tikus sawah tidak menyebarkan penyakit tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pacitan drg Nur Farida mengatakan, temuan itu didasarkan pada hasil pemantauan dan pengujian tikus melalui program gropyok tikus yang dilakukan di sejumlah wilayah Pacitan.
“Malah data di kami mulai 2015 itu dibuktikan bahwasanya konsep gropyok tikus itu hasilnya 70 persen yang ada di Pacitan mengandung virus leptospira. Sepanjang Sungai Grindulu dari utara ke selatan. Meskipun Kabupaten Pacitan itu bukan wilayah banjir,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).
Menurut Farida, masyarakat tidak bisa mengidentifikasi tikus yang membawa bakteri leptospira hanya dari ciri fisiknya.
Karena itu, kewaspadaan harus diterapkan terhadap seluruh potensi paparan, terutama bagi warga yang aktivitasnya bersentuhan langsung dengan lingkungan berisiko.
“Jadi kalau di Dinkes itu, kita tidak paham, tidak tahu juga kriteria tikus, ya. Itu secara fisik kan tidak bisa terlihat,” katanya.
Ia menegaskan, langkah pencegahan yang selama ini dilakukan Dinkes lebih menekankan pada deteksi dini dan perlindungan diri.
“Jadi memang untuk konsep pencegahan dari kami memang lebih over detektif. Upayakanlah kalau memang pekerjaan itu beresiko terhadap lingkungan maupun kondisi yang terpapar oleh leptospirosis dimohon untuk memakai APD,” lanjutnya.
Farida mengingatkan, bila penggunaan alat pelindung diri (APD) tidak memungkinkan, warga harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala.
“Apabila setelah itu ada gejala, mohon segera berkunjung ke fasilitas kesehatan dan menceritakan secara detail. Bahkan mungkin pasien harus detail ceritanya kalau habis bersihkan selokan, ke sawah dan sebagainya sehingga nakes bisa memberikan penanganan lebih dini,” jelasnya.
Dinkes Pacitan mencatat hingga saat ini terdapat 139 kasus leptospirosis, dengan Kecamatan Tulakan menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak.
Farida menambahkan, kondisi rumah yang bersih sebenarnya dapat menekan keberadaan tikus di lingkungan permukiman. Namun risiko tetap tinggi bagi warga yang beraktivitas di area persawahan tanpa perlindungan memadai.
“Sebenarnya kalau kondisi rumah bersih, tikus itu tidak tertarik untuk datang. Tapi yang beresiko ini kan saat berada di sawah dan mereka tidak pakai APD. Kalau telapak kaki pecah-pecah saja itu sudah beresiko masuknya virus,” katanya.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan menyampaikan pandangan berbeda terkait sumber penyebaran leptospirosis.
Kepala DKPP Pacitan Sugeng Santoso menyebut tikus sawah bukan penyebar leptospirosis karena berbeda dengan tikus rumah yang selama ini dikenal sebagai pembawa bakteri leptospira.
“Kalau leptospirosis itu disebabkan karena tikus di rumah, sedangkan kita DKPP beda, tikus yang kita tangani itu ada di sawah, makanannya pun beda, tikus sawah tidak menyebarkan leptospirosis,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Meski demikian, DKPP tetap mengimbau petani memakai APD saat beraktivitas di sawah, terutama di tengah meningkatnya populasi hama tikus di wilayah timur Pacitan seperti Kecamatan Ngadirojo yang diperkirakan memuncak pada Juni mendatang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


