Advertisement
Peristiwa Daerah

Rambut Siswi Dipotong di Sekolah, Dedi Mulyadi Turun Tangan Temui Orang Tua di Garut

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi fasilitasi 18 siswi SMKN 2 Garut ke salon profesional usai polemik pemotongan rambut, sebagai upaya pemulihan mental dan kepercayaan diri siswa.

TIMES Indonesia,
Rambut Siswi Dipotong di Sekolah, Dedi Mulyadi Turun Tangan Temui Orang Tua di Garut
Gubernur Jabar H. Dedi Mulyadi saat mengunjungi SMKN 18 Garut untuk bertemu dengan para Siswa dan Orang tua siswa terkait polemik pewarnaan rambut). (Foto: Arief Pratama/Times Indonesia)
A-AA+

GARUT Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memfasilitasi 18 siswi SMKN 2 Garut untuk merapikan rambut di salon profesional sebagai langkah pemulihan mental dan kepercayaan diri usai polemik pemotongan rambut di lingkungan sekolah (8/5/2026).

Dedi Mulyadi juga menemui langsung para siswi dan orang tua untuk mendengarkan keluhan serta memastikan penanganan dilakukan secara terbuka.

Advertisement

“Kemarin orang tua siswanya sudah ketemu saya, siswanya sudah ketemu. Jumlah semuanya 18 orang, sudah selesai,” ujar Dedi Mulyadi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai pendekatan pemulihan penting dilakukan agar kondisi psikologis siswa tetap terjaga setelah peristiwa tersebut menjadi perhatian publik.

“Nanti sore ada tayangan lengkapnya di YouTube saya agar bisa dilihat dengan jelas apa yang dilakukan,” kata Dedi.

Peristiwa pemotongan rambut terjadi di SMKN 2 Garut saat sejumlah siswi selesai mengikuti pelajaran olahraga dan didatangi guru bimbingan konseling untuk pemeriksaan kedisiplinan.

Tindakan pemotongan rambut itu memicu protes dari orang tua murid karena dinilai dilakukan tanpa pendekatan persuasif, termasuk terhadap siswi berhijab.

Advertisement

Kepala SMKN 2 Garut Nur Al Purqon, membenarkan adanya tindakan pemotongan rambut terhadap siswa yang dianggap melanggar aturan sekolah terkait pewarnaan rambut.

“Terjadi pemotongan rambut anak yang diwarnai karena akumulasi laporan dari wali kelas dan masyarakat bahwa anak SMK rambutnya berwarna,” ujar Nur Al Purqon.

Pihak sekolah mengaku telah meminta maaf kepada siswi yang terdampak dan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap penanganan kasus ini menjadi evaluasi agar pembinaan kedisiplinan di sekolah tetap mengedepankan pendekatan edukatif dan menghormati hak siswa.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Arief Pratama
PenulisArief PratamaBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Bandung dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia