BBM Langka, Warga Palangka Raya Antrie 1 Kilometer di Tengah Guyuran Hujan
Bagi warga, ini bukan sekadar soal menunggu, melainkan soal pertaruhan isi dapur. Kelangkaan ini telah melumpuhkan produktivitas masyarakat.
PALANGKA RAYA – Fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Palangka Raya mencapai titik nadir
Pantauan di SPBU Jalan RTA Milono KM 2,5 pada Jumat (8/5/2026) sore menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Antrean kendaraan mengular hingga hampir 1 kilometer di bawah guyuran hujan deras.
Bagi warga, ini bukan sekadar soal menunggu, melainkan soal pertaruhan isi dapur. Kelangkaan ini telah melumpuhkan produktivitas masyarakat.
Ismi, salah seorang warga yang ikut terjebak dalam antrian BBM, mengaku sudah menunggu lebih dari satu jam sejak pukul 12.30 WIB. Dengan raut wajah lelah, ia mengeluhkan kondisi yang dianggapnya sudah tidak wajar.
"Capek, mengantri terus. Kalau bisa balik normal lagi seperti dulu. Sekarang mau cari di eceran pun susah, barangnya tidak ada," keluh Ismi saat ditemui TIMES Indonesia di sela-sela antrean.
Baginya, keberadaan pedagang eceran sebenarnya menjadi penyelamat di saat darurat, terutama bagi warga yang rumahnya jauh dari SPBU.
Namun kini, baik di SPBU maupun di pengecer, BBM seolah menjadi barang mewah yang sulit di dapat. "Waktu habis cuma buat antri di sini saja," cetusnya dengan kesal.
Hal senada juga disampaikan,Diki, seorang pekerja serabutan yang mengandalkan jasa antar barang secara daring, merasakan dampak langsung secara finansial.
Akibat antrean yang memakan waktu berjam-jam, ia terpaksa membatalkan pesanan pelanggan.
"Ini ada buktinya di WA, saya batalkan antar barang karena bensin tidak ada. Kerja kita jadi tertunda, pendapatan otomatis hilang," ujar Diki sambil menunjukkan ponselnya.
Diki menyoroti bahwa daerah lain di Kalimantan Tengah pun mengalami nasib serupa, menandakan adanya persoalan sistemik dalam rantai distribusi energi di Kalimantan Tengah.
"Harusnya Pertamina, Pemerintah Daerah, hingga aparat di tingkat regional bersinergi. Jangan sampai ada kesan pembiaran ketika masyarakat mulai berteriak susah. Ekonomi sedang sulit, jangan ditambah lagi dengan urusan bensin yang bikin kerjaan kami lumpuh," tegasnya.
Kelangkaan BBM di Ibu Kota Kalimantan Tengah ini menjadi rapor merah sekaligus ujian nyali bagi pihak berwenang dalam mengawasi distribusi energi.
Warga kini menanti tindakan nyata, bukan sekadar selebaran kebijakan atau imbauan di media sosial.
Tanpa langkah tegas terhadap praktik pelansir dan pembenahan kuota, pemandangan warga yang bermandi hujan demi beberapa liter bahan bakar akan terus menjadi potret kelam di jalanan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

