Menkes Budi Gunadi: Obesitas Bukan Soal Penampilan, Tapi Ancaman Penyakit Serius
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mencegah obesitas. Dengan data 31% orang dewasa mengalami obesitas sentral, Kemenkes gencarkan edukasi dan label nutrisi makanan.
Jakarta – Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa obesitas merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes. Menkes menekankan bahwa isu berat badan berlebih bukan sekadar persoalan estetika atau penampilan, sehingga pemerintah kini menggencarkan edukasi untuk mengubah perilaku masyarakat.
“Kalau kita ingin hidup lebih sehat dan lebih panjang umur, maka kita harus mulai menjaga pola makan, menjaga berat badan, dan rutin berolahraga. Kesehatan itu bukan hanya urusan rumah sakit atau program pemerintah, tapi harus menjadi gerakan hidup sehat yang dimiliki setiap individu,” ujar Budi di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Tercatat sekitar 10 juta orang atau 31 persen dari 34,1 juta orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas sentral. Selain itu, 94,97 persen dari 21 juta orang dewasa terdeteksi kurang melakukan aktivitas fisik.
Menkes menjelaskan bahwa fenomena obesitas dipengaruhi oleh faktor biologis, lingkungan, dan genetik yang memerlukan solusi komprehensif. Pendekatan pemerintah saat ini difokuskan pada penyediaan informasi yang lebih sederhana agar masyarakat lebih mudah memahami pola hidup sehat.
Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah implementasi pelabelan nutrisi pada produk makanan dan minuman kemasan. Kebijakan ini bertujuan agar konsumen dapat membuat pilihan yang lebih tepat terkait asupan gizi mereka.
“Kita ingin masyarakat lebih sadar terhadap apa yang mereka konsumsi. Informasi gizi harus dibuat sederhana dan mudah dimengerti sehingga masyarakat bisa memilih makanan dan minuman yang lebih sehat,” tuturnya.
Selain aspek nutrisi, Menkes juga menyoroti pentingnya menjadikan olahraga sebagai bagian dari budaya dan tren positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus menjadikan olahraga sebagai movement. Mau lari, jalan kaki, badminton, padel apa saja yang penting bergerak dan dilakukan rutin,” tambah Menkes.
Kolaborasi Internasional Indonesia-Denmark
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen, menyatakan bahwa obesitas adalah tantangan global yang memerlukan kolaborasi lintas sektor tanpa stigma.
“Obesitas merupakan kondisi kesehatan yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari gaya hidup, lingkungan, pendidikan, hingga akses terhadap layanan kesehatan. Penanganan obesitas membutuhkan upaya bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat,” ungkap Sten Frimodt.
Ia juga menekankan bahwa langkah pencegahan melalui perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari akan memberikan dampak kesehatan jangka panjang yang signifikan.
Kerja sama bilateral antara Indonesia dan Denmark di sektor kesehatan terus diperkuat melalui kemitraan antara Kementerian Kesehatan dan Novo Nordisk. Kehadiran Dubes Denmark dalam kegiatan ini menegaskan komitmen kedua negara dalam mendukung pengendalian PTM, khususnya obesitas dan diabetes, melalui inovasi serta sinergi edukasi.
Melalui rangkaian kegiatan yang meliputi edukasi, konsultasi, hingga pemeriksaan kesehatan ini, Kemenkes berharap kesadaran publik terhadap bahaya obesitas meningkat dan mendorong penerapan gaya hidup sehat secara konsisten. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


