Advertisement
Peristiwa Daerah

Tausyiah di Atas Awan, Cara Unik Magetan Milenial Mengagumi Sang Pencipta dari Puncak Gunung Kendil

Nyawiji Fest di Gunung Kendil, Magetan, sukses menarik puluhan anak muda lewat konsep unik “Tausyiah di Atas Awan” yang memadukan hiking, outbound, dan dakwah kreatif.

TIMES Indonesia,
Tausyiah di Atas Awan, Cara Unik Magetan Milenial Mengagumi Sang Pencipta dari Puncak Gunung Kendil
Kegiatan Talkshow dan Tausyiah di Atas Awan. (Foto: Aditya Candra/TIMES Indonesia)
A-AA+

MAGETAN Ada yang berbeda di puncak Gunung Kendhil, kawasan Taman Wisata Genilangit, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026) pagi. Puluhan pemuda tampak antusias mengikuti rangkaian Nyawiji Fest, sebuah event kreatif yang mengusung konsep unik 'Tausyiah di Atas Awan'.

Menggabungkan aktivitas fisik berupa hiking dan outbound dengan siraman rohani, kegiatan ini berhasil menarik perhatian generasi Z dari berbagai daerah di eks-Keresidenan Madiun.

Advertisement

Penanggung Jawab Nyawiji Fest sekaligus Ketua Magetan Milenial, Fadlil Wafa, mengungkapkan bahwa antusiasme peserta meledak di luar ekspektasi. Dari target awal hanya 50 orang, tercatat 80 peserta memadati lokasi.

"Alhamdulillah, peserta tembus 80 orang. Tidak hanya dari Magetan, tapi ada yang datang dari Ngawi, Ponorogo, hingga Madiun. Rata-rata mereka masih berstatus mahasiswa dan pelajar SMA," ujar Fadlil saat ditemui TIMES Indonesia di lokasi kegiatan.

Filosofi Tausyiah di Atas Awan

Tausyiah di Atas Awan
Peserta saat bersiap mendaki ke Gunung Kendil. (Foto: Aditya Candra/TIMES Indonesia)

Branding "Tausyiah di Atas Awan" sengaja dipilih untuk menonjolkan ikon pegunungan Magetan. Menurut Fadlil, selama ini banyak acara besar hanya berfokus di Telaga Sarangan. Melalui Nyawiji Fest, pihaknya ingin membuktikan bahwa dakwah tidak melulu dilakukan di dalam masjid.

"Kami ingin menunjukkan bahwa mengagumi Sang Pencipta bisa melalui ciptaan-Nya, seperti keindahan alam di Gunung Kendil ini. Topik tausyiahnya pun dikemas dalam bentuk talkshow kepemudaan, menekankan agar pemuda lebih banyak berperan, bukan baperan," tambahnya.

Advertisement

Dominasi Peserta Perempuan

Tausyiah di Atas Awan
Antusias peserta Nyawiji Fest setelah sampai di puncak gunung kendil. (Foto: Aditya Candra/TIMES Indonesia)

Berdasarkan pantauan TIMES Indonesia, peserta berkumpul sejak pukul 08.00 WIB, kegiatan ini didominasi oleh kaum hawa yang mencapai 65 persen dari total peserta. Fadlil menilai, tingginya minat perempuan karena mereka ingin mencoba pengalaman baru mendaki yang dipadukan dengan sisi spiritual. Apalagi juga ada peserta yang tertua 40 tahun dan termuda 13 tahun.

Salah satu peserta asal Surabaya, M. Farhan Sirojuddin (23), mengaku sangat terkesan dengan konsep yang ditawarkan Nyawiji Fest.

"Awalnya sempat ragu mau ikut mendaki, tapi karena konsepnya ada 'Tausyiah di Atas Awan', aku jadi penasaran. Ternyata seru banget, Kita bisa dapet teman baru, sehatnya dapet karena jalan nanjak, tapi hatinya juga adem karena dengerin tausyiah sambil melihat pemandangan dari ketinggian 1.625 MDPL. Benar-benar pengalaman yang beda," ungkapnya. 

Evaluasi dan Rencana Batch Selanjutnya

Meski sukses, panitia tetap melakukan evaluasi. Banyak peserta laki-laki yang merasa jalur Gunung Kendil terlalu "ringan" dan mengusulkan lokasi yang lebih menantang seperti Gunung Mongkrang atau Gunung Lawu.

"Ini adalah kegiatan perdana. Harapan kami, Nyawiji Fest bisa menjadi kiblat bagi komunitas di Magetan dalam membuat acara. Untuk batch 2 atau 3 nanti, tidak menutup kemungkinan kita agendakan di tempat yang lebih menantang lagi," pungkas Fadlil. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Aditya Candra
PenulisAditya CandraSedang berkuliah Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka Sejak 2023. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, kesehatan, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia