Pecah, Ribuan Mahasiswa Unesa Nyanyi Bareng Slank di Festival Kebangsaan 2026
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menyulap Lapangan Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan menjadi lautan manusia lewat gelaran Festival Kebangsaan ke-7 tahun 2026, Sabtu (9/5/2026) malam.
SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menyulap Lapangan Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan menjadi lautan manusia lewat gelaran Festival Kebangsaan ke-7 tahun 2026, Sabtu (9/5/2026) malam.
Menghadirkan grup band legendaris Slank sebagai bintang tamu utama, konser bertajuk 'Mengenal Diri, Mengenal Indonesia' ini berhasil membakar semangat nasionalisme ribuan mahasiswa melalui harmoni musik.
Puncak acara ditandai dengan aksi panggung Slank yang membawakan deretan hits populer, termasuk lagu ikonik 'Ku Tak Bisa' yang memicu sing-along massal.
Kemeriahan ini bukan sekadar hura-hura, melainkan menjadi wadah penguatan karakter dan identitas bangsa.
Rektor Unesa, Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan, menekankan bahwa musik adalah instrumen pendidikan yang efektif.
“Musik adalah bahasa universal yang bisa dimengerti semua kalangan tanpa perlu kamus khusus, sehingga sangat efektif sebagai alat pendidikan karakter di kampus,” ujarnya dalam sambutan acara.
Hadir pula dalam acara tersebut Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, beserta jajaran pejabat negara dan rektor perguruan tinggi lainnya.
Emil mengapresiasi Unesa yang mampu menciptakan iklim pendidikan inklusif dan kreatif bagi generasi muda.
“Kampus ini terbukti bukan hanya melihat pendidikan dari sudut pandang yang kaku, tetapi ingin ruang-ruang kampus yang asri ini diisi dengan kreativitas panjenengan semua,” tutur Emil.
Selain distorsi rock ala Slank, panggung Festival Kebangsaan juga dihiasi kolaborasi futuristik antara Alffy Rev, Novia Bachmid, dan Once Mekel yang memadukan elemen musik elektronik dengan sentuhan tradisional.
Penampilan dari Shanna Shannon, KAG Performance, hingga maestro Unesa Joko Porong turut melengkapi kemegahan malam itu.
Bagi para mahasiswa, festival ini menjadi oase di tengah padatnya jadwal akademik. Balqis Ayu Saraswati, mahasiswa Pendidikan Ekonomi, mengaku sangat terbantu dengan adanya hiburan gratis berkualitas ini.
Sementara itu, Miftahul Falah dari Sastra Inggris memuji keberanian konsep acara yang menyatukan dua kutub musik yang berbeda.
"Keren banget, konsepnya menyatukan dua hal yang berkontradiksi, elektronik dan tradisional, tapi menciptakan suatu harmoni yang unik,” katanya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


