Sawah Ratusan Hektare Lumpu 5 Tahun, Petani Pangandaran Geruduk BBWS Citanduy
Petani menyoroti saluran irigasi yang dinilai gagal sehingga menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian produktif di Kabupaten Pangandaran terendam banjir permanen.
BANJAR – Ratusan petani yang tergabung dalam Aksioma mendatangi kantor Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS Citanduy) Kota Banjar untuk melakukan aksi demonstrasi damai, Selasa (12/5/2026).
Kedatangan mereka bertujuan menuntut keadilan terkait proyek yang sedang berjalan.
Mereka juga menyoroti saluran irigasi yang dinilai gagal sehingga menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian produktif di Kabupaten Pangandaran terendam banjir permanen.
Perwakilan aksi, Suroto, mengungkapkan bahwa penderitaan warga Desa Maruyungsari dan Desa Kertajaya di Kecamatan Mangunjaya, serta Desa Padaherang Pangandaran ini sudah berlangsung selama lebih dari lima tahun.
Lahan yang dulunya merupakan sawah produktif dan bisa panen dua kali setahun, kini hasilnya "nol besar" akibat kesalahan teknis proyek yang dilakukan pihak balai.
"Tanah produktif kami justru dibendung, sementara rawa di sebelahnya dibiarkan. Logikanya terbalik, sungai kecil diperdalam tapi sungai induk (Cise'el) tidak dinormalisasi," ujar Suro to di sela aksi.
"Akibatnya, air melimpah ke sawah dan kami gagal panen terus-menerus selama lima tahun," imbuhnyaa dengan nada kecewa.
Suroto menambahkan, kondisi ini telah berdampak serius pada ekonomi warga hingga mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak petani.
"Masyarakat ke sini dengan kesadaran sendiri, patungan sendiri, karena batinnya sakit. Kelaparan ini nyata, dan kalau dibiarkan bisa berujung pada kematian," tegasnya.
Menurut penuturan Suroto, aspirasi ini sebenarnya telah disampaikan lebih dari 10 kali, bahkan Bupati Pangandaran sempat turun ke lapangan. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret yang dirasakan masyarakat.
Warga juga menyayangkan kurangnya sosialisasi saat proyek awal dikerjakan yang diduga hanya melibatkan oknum tertentu.
Respon BBWS Citanduy: Akomodir 5 Poin Tuntutan
Menanggapi tuntutan tersebut, Humas BBWS Citanduy, Rahmat, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima perwakilan massa untuk berdiskusi.
Ia mengakui adanya kendala keterbatasan anggaran dari pusat sehingga penanganan banjir di wilayah Maruyungsari dilakukan secara bertahap dan belum maksimal.
"Hasil diskusi hari ini, tuntutan masyarakat sebetulnya sejalan dengan program kami," jelas Rahmat.
"Tadi disepakati ada lima poin prioritas yang akan dikerjakan, salah satunya pengaktifan kembali saluran pembuang (apur) lama yang diminta warga," sambungnya.
Pihak BBWS berjanji akan segera melakukan langkah nyata untuk merespons jeritan para petani tersebut.
"Besok kami akan langsung mengecek ke lapangan untuk menentukan titik mana yang harus didahulukan. Kami sinkronkan skala prioritasnya agar penanganan banjir ini tepat sasaran meskipun anggaran terbatas," pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan petani lainnya, Narsum Dharmawanto, mengaku cukup lega dengan hasil pertemuan tersebut.
Ia berharap janji BBWS untuk melakukan normalisasi Sungai Cise'el dan pengecekan lapangan besok benar-benar direalisasikan.
"Besok akan dicek langsung. Semoga ada kepastian dan normalisasi segera dilakukan agar kami bisa kembali bertani," harapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


