Advertisement
Peristiwa Daerah

Kekeringan Ancam 20 Dusun di Sembilan Kecamatan, BPBD Bondowoso Droping Air Bersih

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

TIMES Indonesia,
Kekeringan Ancam 20 Dusun di Sembilan Kecamatan, BPBD Bondowoso Droping Air Bersih
Petugas dari BPBD Bondowoso didampingi pihak terkait saat melakukan pendistribusian air bersih (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026.

Distribusi perdana dilakukan di Desa Klekan, Kecamatan Botolinggo, Senin (11/5/2026). Selanjutnya, bantuan kembali dikirim ke Desa Lumutan, Kecamatan Botolinggo, Selasa (12/5/2026) kemarin. 

Advertisement

Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro kemarin menjelaskan, setiap lokasi mendapatkan suplai sebanyak 10 ribu liter air bersih.

Air tersebut diangkut menggunakan dua armada tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. “Masing-masing titik kita salurkan 10 ribu liter,” katanya, Rabu (13/5/2026). 

Menurutnya, penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan secara bertahap di 20 dusun yang tersebar pada 13 desa di sembilan kecamatan terdampak kekeringan.

Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Maesan, Klabang, Prajekan, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tamankrocok, Curahdami, dan Tlogosari.

Kristianto mengatakan, distribusi air bersih dilakukan setelah diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Bondowoso Tahun 2026.

Advertisement

“Dasar kita pengiriman itu terbitnya SK status siaga darurat bencana kekeringan 2026,” katanya.

Ia menjelaskan, penetapan wilayah terdampak dalam SK tersebut berdasarkan hasil pemetaan lapangan serta kajian faktual yang dilakukan BPBD.

Dalam data tersebut tercatat sebanyak 1.784 kepala keluarga atau sekitar 7.136 jiwa terdampak kekeringan tahun ini.

Jumlah tersebut dinilai menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 4 ribu kepala keluarga di 12 kecamatan.

Menurutnya, penurunan wilayah terdampak dipengaruhi sejumlah program intervensi yang telah dilakukan berbagai pihak, mulai dari pembangunan sumur bor, perlindungan sumber mata air, hingga program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

“Harapannya dengan intervensi itu bisa mengurangi jumlah wilayah kekeringan,” ujarnya.

Meski demikian, BPBD Bondowoso mengakui keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kekeringan tahun ini. Dana yang tersedia di APBD disebut hanya cukup untuk operasional distribusi air bersih selama sekitar 30 hari ke depan.

Padahal, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga tujuh bulan mendatang.

Kondisi itu diperparah dengan naiknya harga BBM non subsidi yang berdampak pada biaya operasional armada tangki air.

Akibatnya, kemampuan distribusi yang semula diproyeksikan mencapai 40 kali pengiriman kini hanya tersisa sekitar 30 kali penyaluran.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Bondowoso saat ini tengah mengajukan tambahan bantuan anggaran ke BPBD Provinsi Jawa Timur serta menjalin komunikasi dengan PMI dan sejumlah yayasan kemanusiaan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia