Waspada Hantavirus! Tikus Jadi Sumber Penularan, Pakar UGM Ungkap Gejala dan Risikonya
UGM mengingatkan bahaya hantavirus usai wabah di kapal pesiar. Virus dari tikus ini dapat menyerang paru dan ginjal, meski risiko pandemi global masih dinilai rendah.
YOGYAKARTA – Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul wabah pada kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus ini menjadi sorotan karena salah satu variannya, yakni strain Andes, diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia meski terbatas.
Menanggapi kondisi tersebut, Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) menggelar talkshow daring bertajuk Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia.
Dalam kegiatan itu, dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, Riris Andono Ahmad menjelaskan bahwa hantavirus strain Andes berasal dari kawasan Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berbahaya.
Tikus Jadi Mata Rantai Utama Penularan
Riris menyebut penularan hantavirus umumnya berasal dari kontak manusia dengan tikus, baik melalui urin, kotoran, air liur, maupun gigitan hewan pengerat yang terinfeksi. Pada strain Andes, penularan juga dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh.
Meski demikian, ia menegaskan penyebaran virus tersebut tidak semudah COVID-19 karena membutuhkan kontak dekat dan berlangsung cukup lama.
“Penularan antarmanusia pada strain Andes memang bisa terjadi melalui droplet, tetapi memerlukan kontak erat dan waktu yang lama,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Ia mengungkapkan wabah di kapal pesiar tersebut melibatkan delapan kasus, terdiri dari enam pasien terkonfirmasi dan dua suspek. Dari total 147 penumpang dan awak kapal, tercatat tiga orang meninggal dunia.
Negara yang terdampak antara lain Belanda, Inggris, Afrika Selatan, Swiss, Jerman, dan Argentina.
Gejala Bisa Menyerang Paru hingga Ginjal
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Sardjito, Alindina Anjani menjelaskan bahwa hantavirus termasuk virus zoonosis yang penularannya berkaitan erat dengan keberadaan tikus.
Menurutnya, kelompok yang paling berisiko terpapar antara lain petani, pekerja gudang, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah.
“Kalau tidak ada tikus, kemungkinan besar tidak ada penularan seperti ini. Risiko tertinggi ada pada orang yang sering berinteraksi dengan tikus,” jelasnya.
Alindina menerangkan, infeksi hantavirus memiliki dua sindrom utama, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Pada HPS, pasien dapat mengalami demam, nyeri otot, sesak napas progresif, hingga gagal napas berat. Sementara HFRS dapat memicu demam tinggi, gangguan ginjal, perdarahan, hingga tekanan darah rendah.
Ia juga mengingatkan bahwa gejala hantavirus kerap menyerupai penyakit tropis lain seperti demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, hingga sepsis sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan.
WHO sendiri menyatakan risiko pandemi global akibat wabah hantavirus saat ini masih rendah karena pola penyebarannya terbatas dan dapat dikendalikan melalui isolasi pasien serta pelacakan kontak secara cepat.
Melalui edukasi ini, FK-KMK UGM berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan mengenali gejala awal hantavirus guna mencegah penyebaran penyakit lebih luas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


