Advertisement
Peristiwa Daerah

Tembus Langit Prestasi, Atlet Paralayang Kota Tasikmalaya Tempa Mental Juara di Puncak Bogor

Tiga nama muda dipersiapkan menjadi generasi baru atlet olahraga dirgantara Kota Tasikmalaya di bawah pembinaan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

TIMES Indonesia,
Tembus Langit Prestasi, Atlet Paralayang Kota Tasikmalaya Tempa Mental Juara di Puncak Bogor
Seorang atlet paralayang Kota Tasikmalaya saat berlatih terbang di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026) (FOTO: FASI Kota Tasikmalaya)
A-AA+

TASIKMALAYA Di tengah suasana pagi yang masih sunyi, tiga atlet paralayang muda asal Kota Tasikmalaya berdiri bersiap di bibir bukit. Mata mereka menatap jauh ke hamparan langit terbuka. 

Kabut tipis perlahan turun menyelimuti lereng pegunungan di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat.

Advertisement

Udara dingin menusuk kulit, sementara embusan angin pegunungan bergerak pelan namun pasti, membelah hamparan bukit hijau yang menjadi salah satu surga olahraga dirgantara di tanah Pasundan.

Di punggung ketiga atlet muda itu tergantung perlengkapan paralayang yang berat.

Namun di dalam hati mereka tersimpan mimpi yang jauh lebih besar yakni membawa nama Kota Tasikmalaya terbang tinggi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026.

Mereka adalah Rais Akbar Zahrano, Nashwa Zafira Sana Purwoko, dan Natasya Khanza Aqilla.

Tiga nama muda yang kini tengah dipersiapkan menjadi generasi baru atlet olahraga dirgantara Kota Tasikmalaya di bawah pembinaan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

Advertisement

Bagi sebagian orang, paralayang mungkin hanya terlihat sebagai olahraga ekstrem yang memacu adrenalin.

Namun bagi ketiga atlet muda itu, paralayang adalah tentang perjuangan, keberanian, disiplin, ketahanan mental, dan kemampuan menaklukkan rasa takut di antara langit dan bumi.

Selama sepekan penuh, tepatnya sejak 13 hingga 20 Mei 2026, mereka menjalani latihan bersama atau latber intensif di kawasan Puncak Bogor sebagai bagian dari program pemusatan latihan menuju PORPROV XV Jawa Barat 2026.

paralayang Kota Tasikmalaya 2
Seorang atlet paralayang Kota Tasikmalaya saat melakukan persiapan take off di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Kamis (14/5/2026) (FOTO: FASI Kota Tasikmalaya)

Di tempat inilah mereka tidak hanya belajar terbang, tetapi juga belajar menjadi petarung. Olahraga paralayang bukan sekadar aktivitas melayang bebas di udara. 

Di balik keindahan seorang atlet yang tampak tenang saat mengudara, ada proses panjang yang dipenuhi latihan keras, pengendalian emosi, dan penguasaan teknik yang sangat kompleks.

Setiap penerbangan memiliki risiko. Setiap perubahan arah angin menuntut keputusan cepat. Setiap detik di udara membutuhkan fokus tinggi.

Karena itulah latihan di Puncak Bogor menjadi salah satu tahapan penting bagi para atlet muda Kota Tasikmalaya.

Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu titik terbaik olahraga aerosport di Jawa Barat.

Karakter pegunungan yang curam, arus angin yang relatif stabil, serta kontur alam yang menantang menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium alam bagi atlet paralayang.

Sejak pagi hari, para atlet sudah mulai menjalani serangkaian program latihan.

Mereka mempersiapkan perlengkapan, memeriksa kondisi cuaca, membaca arah angin, lalu melakukan simulasi penerbangan sebelum akhirnya benar-benar melayang dari atas bukit.

Di olahraga ini, kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Karena itu, seluruh gerakan harus dilakukan dengan presisi tinggi.

Mulai dari teknik membuka canopy, menjaga keseimbangan saat take off, membaca tekanan angin, menjaga kestabilan tubuh di udara, hingga menentukan titik landing - semuanya butuh latihan berulang dan disiplin ketat.

Ketika seorang atlet berdiri di tepi bukit sebelum berlari menuju udara kosong, ada pertarungan besar yang terjadi di dalam dirinya.

Ketakutan harus dikendalikan, keraguan harus disingkirkan, Fokus harus dijaga penuh dan di situlah mental juara mulai dibentuk.

Keikutsertaan Rais Akbar Zahrani, Nashwa Zafira Sana Purwoko, dan Nathasa Khanza Aqilla dalam latihan bersama tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi atlet olahraga dirgantara yang kini mulai dibangun serius FASI Kota Tasikmalaya.

Pembinaan atlet muda menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan prestasi olahraga aerosport di masa depan. Sebab paralayang bukan cabang olahraga yang dapat menghasilkan atlet instan.

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membentuk seorang atlet paralayang yang matang secara teknik maupun mental.

Jam terbang menjadi faktor utama dalam olahraga ini. Makin banyak seorang atlet menghadapi berbagai kondisi cuaca dan medan penerbangan, makin matang pula kemampuan serta nalurinya ketika bertanding di kompetisi resmi.

Karena itulah latihan bersama di Bogor menjadi kesempatan berharga bagi atlet muda Kota Tasikmalaya untuk memperkaya pengalaman mereka.

Di lokasi latihan tersebut, mereka juga bertemu dan berlatih bersama atlet-atlet dari berbagai daerah lain di Jawa Barat. Situasi ini menciptakan atmosfer kompetitif yang sangat penting untuk membangun mental bertanding.

Binpres FASI Kota Tasikmalaya, Dede Ruhiyat, mengatakan latihan bersama tersebut merupakan bagian dari program pembinaan jangka panjang menuju target prestasi di PORPROV XV Jawa Barat 2026.

Menurutnya, momen setelah para atlet menyelesaikan ujian sekolah dimanfaatkan untuk meningkatkan intensitas latihan agar perkembangan kemampuan mereka lebih optimal.

“Ini merupakan latihan rutin program kerja khusus cabang olahraga paralayang sebagai pematangan untuk meraih target medali di ajang PORPROV nanti,” ungkap Dede Ruhiyat melalui sambungan telepon, Kamis (14/5/2026).

Program latihan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Para atlet menjalani pola latihan intensif selama satu minggu penuh sebelum kembali pulang dan melanjutkan program berikutnya.

paralayang Kota Tasikmalaya 3
Tiga orang atlet paralayang Kota Tasikmalaya saat bersiap-siap berlatih di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Kamis (14/5/2026) (FOTO: FASI Kota Tasikmalaya)

“Kebetulan anak-anak habis selesai ujian. Rencana program saya seminggu latihan, seminggu pulang, terus berangkat lagi,” jelasnya.

Menurut Dede, latihan di kawasan pegunungan seperti Puncak Bogor sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan atlet karena kondisi alamnya sangat mendukung.

Selain itu, atmosfer latihan bersama dengan atlet dari berbagai daerah juga membantu meningkatkan mental serta motivasi bertanding para atlet muda.

Di balik semangat besar mengejar prestasi, FASI Kota Tasikmalaya ternyata masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama dalam hal sumber daya instruktur.

Hingga saat ini, Kota Tasikmalaya belum memiliki instruktur paralayang sendiri. Kondisi tersebut membuat proses pembinaan dasar atlet masih harus mengandalkan bantuan pihak lain.

Pada tahap awal latihan atau ground handling, para atlet mendapat pembinaan dari Yunarto di kawasan Lanud Wiriadinata.

Ground handling sendiri merupakan tahap dasar yang sangat penting dalam olahraga paralayang. Pada fase ini, atlet belajar mengendalikan canopy di darat sebelum benar-benar melakukan penerbangan.

Setelah dinilai siap, barulah atlet diarahkan kepada instruktur penerbangan untuk memasuki tahap terbang aktif.

“Kota Tasik belum punya instruktur. Selama ground handling sebelum terbang, latihan dilakukan bersama Pak Yunarto di Lanud Wiriadinata. Setelah siap terbang baru diberikan kepada instruktur,” ujar Dede.

Meski menghadapi keterbatasan, semangat pembinaan tidak pernah berhenti. Justru kondisi tersebut menjadi motivasi tambahan bagi para atlet dan pengurus untuk terus berkembang.

Mereka sadar, prestasi tidak selalu lahir dari fasilitas yang mewah. Prestasi sering kali lahir dari ketekunan, konsistensi, dan keberanian untuk terus melangkah meski dalam keterbatasan.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia, Anton Suherlan, memberikan apresiasi terhadap langkah pembinaan yang dilakukan FASI Kota Tasikmalaya.

Menurut Anton, latihan bersama memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kualitas atlet, terutama dalam menambah pengalaman dan jam terbang.

“Latihan bersama ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan atlet, terutama dalam menambah pengalaman dan jam terbang mereka,” ujar Anton Suherlan.

"Kami berharap para atlet paralayang Kota Tasikmalaya dapat memanfaatkan momentum ini dengan maksimal sebagai persiapan menuju PORPROV XV Jawa Barat 2026," sambungnya.

Ia menegaskan bahwa KONI Kota Tasikmalaya terus mendorong seluruh cabang olahraga agar serius melakukan pembinaan atlet secara berkelanjutan.

“KONI Kota Tasikmalaya berkomitmen memberikan dukungan terhadap program pembinaan atlet. Kami optimistis cabang olahraga paralayang memiliki potensi besar untuk memberikan prestasi membanggakan bagi Kota Tasikmalaya,” tambahnya.

Sementara itu Wakil Ketua II Bidang Prestasi KONI Kota Tasikmalaya, Dr. Nanang, menilai paralayang merupakan olahraga yang membutuhkan kombinasi kesiapan fisik, teknik, taktik, dan mental yang sangat kuat.

Menurutnya, latihan bersama menjadi bagian penting untuk menciptakan atmosfer kompetisi sebelum para atlet benar-benar turun di ajang resmi.

“Salah satu aspek yang penting diperhatikan adalah atmosfer kompetisi baik dalam bentuk kejuaraan maupun latihan bersama,” ujarnya.

Dr Nanang menyebut paralayang menjadi salah satu cabang olahraga yang aktif menjalankan program latihan secara konsisten.

“Salah satu cabor yang antusias dan sering memberikan info tentang latihan yang dilaksanakannya adalah paralayang,” katanya.

"Dan di minggu ini tim paralayang sedang melaksanakan latihan bersama di Bogor, semoga latihan bersama nya berjalan lancar, diberi keselamatan dan tujuan latihan bersama nya tercapai," imbuh Dr Nanang.

Menurutnya, paralayang bukan hanya olahraga yang mengandalkan keberanian semata.

“Paralayang bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal konsentrasi, teknik dan pengalaman. Karena itu, latihan bersama seperti ini sangat efektif untuk meningkatkan kualitas atlet sebelum menghadapi kompetisi sesungguhnya,” kata Dr Nanang.

Ia berharap para atlet mampu meningkatkan konsistensi latihan, menjaga semangat dan memiliki mental juara demi meraih prestasi terbaik di tingkat provinsi.

“Kami berharap para atlet terus . Dengan persiapan yang matang dan latihan berkelanjutan, peluang meraih prestasi di PORPROV XV Jawa Barat 2026 tentu sangat terbuka,” ujarnya.

Bagi masyarakat Kota Tasikmalaya, perjuangan tiga atlet muda tersebut bukan sekadar cerita tentang olahraga. Ini adalah kisah tentang mimpi besar yang sedang diperjuangkan di langit Jawa Barat.

Di balik setiap langkah mereka menuju lereng bukit, tersimpan harapan masyarakat yang ingin melihat daerahnya berdiri sejajar dengan kota-kota besar lainnya dalam prestasi olahraga dirgantara.

Ketika Rais, Nashwa, dan Nathasa berlari sebelum membuka sayap paralayang mereka, sesungguhnya mereka sedang membawa nama Kota Tasikmalaya ikut terbang bersama angin.

Mereka membawa semangat generasi muda yang tidak takut bermimpi tinggi, membawa keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi.

Dan ketika suatu hari nanti mereka benar-benar berdiri di podium PORPROV XV Jawa Barat 2026, semua perjuangan panjang di lereng Puncak Bogor itu akan menjadi saksi bahwa mimpi besar memang layak diperjuangkan setinggi langit. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia