Terungkap! UGM Duga Limbah Pemotongan Ayam Jadi Pemicu Teror Api Misterius di Seyegan Sleman
Peneliti UGM menduga kebakaran misterius di rumah warga Seyegan dipicu gas hidrogen dan fosfin dari limbah pemotongan ayam, mendorong peningkatan ventilasi dan kajian lanjutan.
YOGYAKARTA – Misteri kemunculan api yang berulang kali membakar barang-barang di rumah warga Seyegan, Kabupaten Sleman, mulai menemukan titik terang. Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menduga fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan gas hidrogen yang muncul dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam.
Kesimpulan sementara itu disampaikan oleh tim dari Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM setelah melakukan serangkaian observasi dan pengukuran di lokasi kejadian.
Ketua Tim PKPE FT UGM, Prof. Alva Edy Tontowi, menjelaskan bahwa hasil investigasi awal menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara kemunculan api dengan konsentrasi gas hidrogen di sekitar rumah warga yang terdampak.
"Kesimpulan sementara, keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen," ujar Alva, Jum'at (4/6/2026).
Gas Hidrogen Diduga Berasal dari Limbah Ayam
Menurut Alva, sumber gas hidrogen diduga berasal dari fermentasi limbah organik hasil usaha pemotongan ayam yang berada di area rumah tersebut. Diketahui, keluarga penghuni rumah memang menjalankan usaha pemotongan ayam yang lokasinya berdampingan dengan bangunan yang mengalami fenomena kebakaran misterius.
Selain gas hidrogen, tim peneliti juga mencurigai adanya gas fosfin (PH3), yaitu gas yang sangat mudah terbakar pada suhu ruangan. Gas ini diduga terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang ayam dan bagian keras bulu ayam yang mengalami proses pembusukan.
Tim menjelaskan bahwa gas fosfin relatif sulit terdeteksi karena akan langsung habis terbakar ketika bereaksi dengan oksigen. Kondisi tersebut diduga dapat memicu penyalaan gas hidrogen yang muncul secara bersamaan.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan mekanisme pasti terjadinya kebakaran.
Hasil Pengukuran Temukan Kadar Hidrogen Tinggi
Investigasi dilakukan dalam beberapa tahap oleh tim lintas disiplin Fakultas Teknik UGM. Pada observasi awal yang berlangsung Sabtu (30/52026), tim memperoleh informasi dari Gegana Polda DIY mengenai terdeteksinya gas metana di titik kemunculan api.
Namun demikian, pengukuran menggunakan kamera termal tidak menemukan adanya peningkatan suhu yang signifikan. Suhu di lokasi hanya berada pada kisaran 29 derajat Celsius atau masih dalam rentang suhu lingkungan normal.
Pengukuran lanjutan pada Senin (1/6/2026) menunjukkan hasil yang lebih mencolok. Tim yang dipimpin Prof. Agung Harijoko menemukan adanya anomali gas hidrogen dengan konsentrasi cukup tinggi.
Di area kamar mandi yang sebelumnya sempat mengeluarkan api, alat pendeteksi mencatat angka hingga 0,11. Sementara saat api kembali muncul di salah satu kamar, kadar gas hidrogen yang terukur di dekat titik api meningkat hingga mencapai 0,40.
Observasi kembali dilakukan pada Rabu (3/6/2026) oleh tim lain yang dipimpin Prof. Sarto dan Prof. Chandra dari Teknik Kimia UGM. Hasil pemeriksaan tidak menemukan gas mudah terbakar lain selain hidrogen.
Berdasarkan temuan tersebut, tim menilai langkah paling penting saat ini adalah memastikan sumber utama gas yang menyebabkan fenomena tersebut. Terdapat dua kemungkinan yang sedang diteliti, yakni limbah cair hasil aktivitas pemotongan ayam atau gas yang berasal dari dalam tanah.
Untuk memastikan dugaan tersebut, tim melakukan penggalian dangkal di sejumlah titik guna mengukur keberadaan gas dalam tanah. Sementara itu, sampel limbah cair masih menjalani proses analisis laboratorium.
Sebagai langkah pencegahan sementara, UGM merekomendasikan agar penghuni rumah meningkatkan sirkulasi udara dengan membuka ventilasi selebar mungkin serta memasang blower atau kipas angin guna mencegah akumulasi gas di dalam ruangan.
Warga juga diminta memindahkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah untuk mengurangi risiko kebakaran.
Selain itu, tim UGM berencana melakukan penjenuhan tanah dan lantai rumah menggunakan cairan basa berupa air kapur. Langkah ini dilakukan untuk menekan kemungkinan aktivitas bakteri Clostridium yang diduga berperan dalam pembentukan gas hidrogen.
Diketahui, fenomena kebakaran misterius di rumah warga Seyegan telah terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir. Api dilaporkan dapat muncul hingga sembilan kali dalam sehari sehingga menarik perhatian aparat kepolisian, tim Gegana, hingga kalangan akademisi untuk melakukan penyelidikan mendalam. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


