Advertisement
Peristiwa Daerah

BPBD Kota Batu Perluas Pemetaan Wilayah Rawan Karhutla dan Kekeringan

BPBD Kota Batu tingkatkan antisipasi kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau 2026, perluas pemetaan hingga Gunung Panderman dan Oro-Oro Ombo. Faktor manusia dominan. Call center 0812-1710-4099.

TIMES Indonesia,
BPBD Kota Batu Perluas Pemetaan Wilayah Rawan Karhutla dan Kekeringan
Kebakaran hutan yang terjadi di Kota Batu beberapa waktu lalu (FOTO: Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Memasuki musim kemarau 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu meningkatkan langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan yang berpotensi mengancam sejumlah kawasan di Kota Batu.

Fokus penanganan tidak hanya diarahkan pada kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga pada upaya mitigasi sejak dini melalui pemetaan wilayah berisiko dan penyusunan skenario penanganan darurat.

Advertisement

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna mengurangi risiko bencana selama periode kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang.

"Persiapan kami dilakukan sejak awal melalui penyusunan rencana kontinjensi, pemetaan kawasan rawan kebakaran, serta penyiapan status siaga darurat kemarau dan kekeringan sebagai dasar percepatan penanganan apabila terjadi bencana," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, dokumen rencana kontinjensi disusun sebagai pedoman operasional apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan pegunungan Arjuno-Welirang yang selama ini menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan cukup tinggi.

"Selain itu, BPBD juga memperluas pemetaan titik rawan karhutla. Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada kawasan Bumiaji, kini pengawasan juga diperkuat di wilayah lereng Gunung Panderman hingga Oro-Oro Ombo yang memiliki vegetasi kering saat musim kemarau," tegasnya.

Menurut Gatot, faktor manusia masih menjadi penyebab dominan terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Aktivitas pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan api, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan di area kering sering kali memicu munculnya titik api.

Advertisement

"Sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia. Sementara faktor alam seperti sambaran petir relatif lebih sedikit terjadi," katanya.

Untuk mendukung kesiapsiagaan, BPBD terus melakukan pemantauan perkembangan cuaca dan potensi bencana berdasarkan informasi dari BMKG. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar penyebaran peringatan dini kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait.

"Kami juga mengajak masyarakat agar berperan aktif dalam upaya pencegahan. Warga diminta menghindari pembakaran terbuka, mengikuti informasi cuaca dari sumber resmi, menyiapkan peralatan sederhana untuk penanganan awal kebakaran, serta segera melapor apabila menemukan asap atau titik api di lapangan," harapnya.

BPBD menilai masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Pasalnya, semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan sehingga dampaknya bisa diminimalkan.

"Apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan atau membutuhkan bantuan kebencanaan, masyarakat dapat menghubungi layanan BPBD Kota Batu melalui call center dan WhatsApp di nomor 0812-1710-4099," tegasnya.

BPBD berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, wisatawan, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat upaya pencegahan bencana selama musim kemarau.

"Waspadai kebakaran hutan, lindungi alam, dan selamatkan masa depan Kota Batu," tuturnya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia