Diduga Belasan Pekerja Terdampak Paparan Chlorine, PT BMI Lamongan Beri Jawaban
PT BMI Lamongan bantah kebocoran gas beracun usai 19 buruh tumbang. Insiden diduga akibat injeksi chlorine overdosis, Disnaker desak evaluasi total K3 demi jaminan keselamatan pekerja.
LAMONGAN – Manajemen PT Bumi Menara Internusa (BMI) Lamongan akhirnya angkat bicara menyusul insiden tumbangnya belasan buruh di area produksi pada Jumat (5/6/2026). Perusahaan pengolahan hasil laut terbesar di Lamongan ini membantah adanya kebocoran gas beracun, melainkan mengklaim adanya gangguan teknis pada sistem injeksi desinfektan kimia.
Peristiwa yang sempat memicu kepanikan massal di dalam pabrik tersebut menyebabkan sedikitnya 19 pekerja mengalami gejala keracunan massal, mulai dari sesak napas akut, pusing, mata perih, hingga lemas mendadak.
Kronologi Buruh Tumbang di Ruang Produksi
Berdasarkan data yang dihimpun, insiden bermula saat para pekerja tengah beraktivitas normal di ruang produksi. Secara mendadak, satu per satu pekerja mengeluhkan perih di mata dan gangguan pernapasan.
Melihat situasi yang tidak terkendali, pihak perusahaan langsung mengevakuasi para korban ke klinik internal. Namun, karena keterbatasan peralatan dan kondisi belasan pekerja yang terus memburuk, mereka dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSI Nashrul Ummah Lamongan untuk mendapatkan perawatan intensif. Hingga kini, sebagian pekerja dikabarkan masih harus menjalani observasi ketat akibat kondisi fisik yang lemas.
Penjelasan PT BMI: Sistem Injeksi Chlorine Overdosis
Plant Manager PT BMI Lamongan, Purnawan, membenarkan terjadinya insiden tersebut. Menurutnya, hasil investigasi internal menunjukkan adanya malafungsi pada alat pengukur zat kimia di ruang produksi.
"Sistem inject desinfektan chlorine mengalami trouble sehingga kadarnya melebihi batas atau standar yang ditetapkan, yakni 5 ppm. Kondisi itu menyebabkan pekerja mengalami iritasi, terutama mata perih," ujar Purnawa, Sabtu (6/6/2026).
Purnawan mengklaim pihak manajemen bergerak cepat mengatasi kerusakan tersebut. Ia memastikan sistem injeksi kini telah diperbaiki dan ruang produksi diklaim sudah steril. "Saat ini kondisi ruangan sudah aman dan sudah digunakan untuk aktivitas kerja," katanya.
Disnaker Desak Evaluasi Total K3
Meski perusahaan mengklaim situasi telah terkendali, insiden ini memantik sorotan tajam terkait implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT BMI Lamongan. Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti chlorine (klorin) dengan kadar melebihi ambang batas dinilai mencerminkan lemahnya sistem pengawasan berkala (maintenance) terhadap alat produksi.
Merespons kelalaian ini, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lamongan, Zamroni, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam. Disnaker mendesak manajemen PT BMI untuk melakukan audit total terhadap sistem keamanan kerja mereka.
"Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang dan keselamatan pekerja tetap terjamin," ujar Zamroni secara tegas.
Kasus tumbangnya belasan pekerja ini menambah rapor merah pengawasan bahan kimia di sektor industri pengolahan pangan, di mana perlindungan terhadap buruh kerap kali kalah cepat dibanding mengejar target produksi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


