Advertisement
Peristiwa Daerah

NU Perlu Perhatikan Gen-Z Tanamkan Nilai Perjuangan NU dalam Kajian Poskolonial

Ketua LESBUMI PWNU Jatim Riadi Ngasiran di hadapan mahasiswa UIN Jember kritik minimnya pengenalan perjuangan ulama dan kiai pesantren bagi Gen Z. Ungkap peran NU dari Komite Hijaz hingga ICIS.

TIMES Indonesia,
NU Perlu Perhatikan Gen-Z Tanamkan Nilai Perjuangan NU dalam Kajian Poskolonial
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran saat bicara di depan 41 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Kajian Poskolonial UIN KHAS Jember Sabtu, (6/5/2026) (FOTO Istimewa)
A-AA+

SURABAYA Perjuangan para ulama dan Kiai pesantren dalam menegakkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak diragukan. Sejarah Nasional Indonesia perlu memperhatikan fakta perjuangan tersebut. Mulai dari sebelum berdirinya NU hingga perang kemerdekaan di masa Revolusi Nasional, dan mengisi kemerdekaan.

"Sayang fakta perjuangan para ulama dan kiai pesantren dianggap sepi. Bahkan, generasi Z (Gen-Z) tidak mengenal secara utuh perjuangan tersebut," tutur  Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, Sabtu. 6 Juni 2026.

Advertisement

Riadi Ngasiran yang dikenal intens menggali dan menulis Sejarah NU ini, mengungkapkan hal itu di depan 41 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Kajian Poskolonial Universitas Islam Negeri (UIN) KH Achmad Siddiq (KHAS) Jember. Di bawah bimbingan dosen Kautsar Pratama, acara berlangsung intens karena terjadi dialog yang menarik.

Penulis Sejarah Gerakan Kemerdekaan Bawah Tanah di Indonesia ini, menjawab gugatan para mahasiswa tersebut. Di antaranya disampaikan perlunya memperhatikan penanaman nilai-nilai perjuangan bagi Gen-Z.

Pada kesempatan itu, Riadi Ngasiran yang juga Tim Penulis Sejarah Satu Abad NU, mengingatkan peran KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU. Di antaranya, diperjelas pentingnya memahami Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.

Disampaikan pesan Kiai Hasyim Asy'ari berikut:

"Sesungguhnya, sikap sosial, saling tolong-menolong, menjaga persatuan, kasih sayang dengan sesama adalah fakta yang tiada seorang pun tidak mengetahui manfaatnya. Bagaimana mau menolak, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bersabda: 'Kuasa Allah bersama jamaah (persatuan). Maka dari itu, berpisah dari jamaah (persatuan), merupakan pintu masuk bagi setan-setan untuk memangsanya sebagaimana serigala yang memangsa kambing yang terpisah dari rombongan, " katanya.

Riadi Ngasiran juga menjelaskan tentang pentingnya memahami peran NU dalam memperjuangkan gerakan antkolonialisme, sejak zaman Hindia Belanda hingga mengisi kemerdekaan.

Advertisement

Di tengah pergaulan global NU mengambil langkah diplomasi. Mulai dari Komite Hijaz, Diplomasi zaman Jepang hingga terselenggaranya Konferensi Islam Asia Afrika, digagas KH Achmad Sjaichu dan KH Idham Chalid di Bandung tahun 1965, sebelum pecah gerakan pengkhianatan G30S/PKI.

Dalam tahun-tahun berikutnya, juga peran NU dalam menolak terorisme dan mewujudkan Islam antikekerasan, yang dipelopori KH Hasyim Muzadi. Lewat pertemuan para cendekiawan dunia lintas Mazhab dalam Internasional Conference Islamic Schooler (ICIS) tahun 2009 hingga 2014.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imam Kusnin Ahmad
PenulisImam Kusnin AhmadPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2000. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia