NU Inisiasi Konferensi Islam Asia Afrika, Momen Istimewa Gerakan Tolak Kolonialisme Dunia
Lesbumi PWNU Jatim ingatkan peran besar kiai pesantren dan NU dalam lahirnya NKRI, gerakan antikolonial, hingga diplomasi global, yang dinilai belum dikenali utuh oleh Gen-Z.
SURABAYA – Kiai pesantren memiliki peran penting dalam menegakkan berdirinya NKRI. Mulai dari sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) hingga perang kemerdekaan di masa revolusi nasional.
"Namun sayangnya, fakta perjuangan para ulama dan kiai pesantren dianggap sepi. Bahkan, Gen-Z tidak mengenal secara utuh perjuangan tersebut," ungkap Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran saat menjadi narasumber dalam acara yang diselenggarakan Program Studi Sejarah Peradaban Islam Kajian Poskolonial Universitas Islam Negeri (UIN) KH Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Sabtu (6/6/2026).
Riadi Ngasiran mengatakan, sejarah nasional Indonesia perlu memperhatikan fakta perjuangan para ulama dan kiai pesantren.
Riadi yang dikenal intens menggali dan menulis Sejarah NU dan penulis Sejarah Gerakan Kemerdekaan Bawah Tanah di Indonesia ini, bahkan menjawab gugatan para mahasiswa. Di antaranya disampaikan perlunya memperhatikan penanaman nilai-nilai perjuangan bagi Gen-Z.
Pada kesempatan itu, Riadi Ngasiran yang juga tim penulis Sejarah Satu Abad NU, mengingatkan peran KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU.
Di antaranya, diperjelas pentingnya memahami Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama Disampaikan pesan Kiai Hasyim Asy'ari berikut:
"Sesungguhnya, sikap sosial, saling tolong-menolong, menjaga persatuan, kasih sayang dengan sesama adalah fakta yang tiada seorang pun tidak mengetahui manfaatnya. Bagaimana mau menolak, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bersabda: 'Kuasa Allah bersama jamaah (persatuan). Maka dari itu, berpisah dari jamaah (persatuan), merupakan pintu masuk bagi setan-setan untuk memangsanya sebagaimana serigala yang memangsa kambing yang terpisah dari rombongan ".
Riadi Ngasiran juga menjelaskan tentang pentingnya memahami peran NU dalam memperjuangkan gerakan antkolonialisme, sejak zaman Hindia Belanda hingga mengisi kemerdekaan.
"Di tengah pergaulan global NU mengambil langkah diplomasi. Mulai dari Komite Hijaz, Diplomasi zaman Jepang hingga terselenggaranya Konferensi Islam Asia Afrika, digagas KH Achmad Sjaichu dan KH Idham Chalid di Bandung tahun 1965, sebelum pecah gerakan pengkhianatan G30S/PKI," jelasnya.
Dalam tahun-tahun berikutnya, lanjut dia, juga ada peran NU dalam menolak terorisme dan mewujudkan Islam antikekerasan, yang dipelopori KH Hasyim Muzadi.
Lewat pertemuan para cendekiawan dunia lintas Mazhab dalam Internasional Conference Islamic Schooler (ICIS) tahun 2009 hingga 2014. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


