Sarat Nilai Religius, Wayang Kulit Lakon "Parikesit Dadi Ratu" Meriahkan 100 Tahun Gontor
Perayaan 100 Tahun Gontor Ponorogo dimeriahkan dengan pertunjukkan seni tradisi wayang kulit.
PONOROGO – Peringatan satu abad atau 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung semarak sekaligus sarat makna. Salah satu rangkaian perayaan monumental 100 Tahun Gontor ini diwujudkan melalui pagelaran seni tradisi wayang kulit yang digelar di lapangan sepakbola PMDG, Ponorogo, Sabtu (6/6/2026) malam.
Ribuan pengunjung yang terdiri dari para santri, alumni, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar tampak memadati area pertunjukan. Mereka antusias menyaksikan pementasan yang tidak sekadar menjadi tontonan hiburan, tetapi juga sarana tuntunan moral dan syiar Islam.
Pada pagelaran kali ini, PMDG menghadirkan dalang kondang Ki MPP Bayu Aji yang membawakan lakon "Parikesit Dadi Ratu".

Kisah ini dipilih secara khusus karena memiliki kedalaman nilai filosofis dan religius yang selaras dengan nafas perjuangan serta pendidikan di pondok pesantren.
Sebelum tirai kelir dibuka, Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, memberikan sambutan hangat di hadapan ribuan pasang mata. Dalam petuahnya, beliau menegaskan bahwa kesenian tradisional seperti wayang kulit sejak lama telah menjadi media dakwah yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai luhur dan kebaikan di nusantara.
"Gontor senantiasa berkomitmen menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus merawat kebudayaan yang luhur. Lewat lakon ini, kita belajar tentang kepemimpinan yang amanah, spiritualitas yang kuat, serta keteguhan dalam memegang prinsip hidup," tutur KH Hasan Abdullah Sahal.
Sebagai simbol dimulainya pertunjukan, KH Hasan Abdullah Sahal secara resmi menyerahkan tokoh wayang Parikesit kepada dalang Ki MPP Bayu Aji. Prosesi serah terima tokoh sentral ini disambut gemuruh tepuk tangan dari para hadirin, menandai dimulainya perjalanan spiritual tokoh Parikesit di atas panggung kelir.
Pantauan TIMES Indonesia di lokasi, area lapangan sepakbola PMDG berubah menjadi lautan manusia. Kendati dipadati ribuan penonton, suasana pertunjukan tetap berlangsung tertib, khidmat, dan penuh apresiasi.
Lakon Parikesit Dadi Ratu sendiri mengisahkan tentang keteguhan, keadilan, dan kebijaksanaan seorang pemimpin muda dalam membangun kembali kejayaan negaranya setelah masa-masa sulit. Bagi PMDG, esensi cerita ini merefleksikan perjalanan panjang satu abad Gontor dalam mencetak kader-kader pemimpin umat yang berakhlak mulia, tangguh, dan berwawasan luas demi kemaslahatan bangsa.
Pagelaran wayang kulit dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gontor ini membuktikan bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan beriringan di dalam lingkungan pesantren, menjaga warisan leluhur tetap hidup di hati generasi muda. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


