Advertisement
Peristiwa Daerah

Ranking Bergeser, Jarak Berubah: Polemik Data Zonasi SPMB 2026 di Tasikmalaya

Bagi para orang tua, jalur zonasi adalah jalur yang sangat bergantung pada data. Ketika data yang menjadi dasar seleksi berubah-ubah, maka rasa khawatir pun tak terelakkan.

TIMES Indonesia,
Ranking Bergeser, Jarak Berubah: Polemik Data Zonasi SPMB 2026 di Tasikmalaya
Kampus SMAN 5 Tasikmalaya, Jalan Tentara Pelajar, Emoangsari, Tawang, Kota Tasikmalaya, foto diambil Senin (8/6/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Di sudut Kota Tasikmalaya, telepon genggam di tangan EP tak henti-hentinya menampilkan halaman Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026. 

Sejak beberapa hari terakhir, ia bersama ribuan orangvtua siswa rutin memantau posisi anaknya yang mendaftar ke SMAN 5 Kota Tasikmalaya melalui jalur domisili atau zonasi.

Advertisement

Awalnya, semua terlihat normal. Namun, ketika mulai mencermati data jarak yang muncul dalam sistem, ia menemukan sesuatu yang janggal.

Jarak rumah yang selama ini diyakini hanya sekitar 130 meter dari sekolah tiba-tiba tercatat menjadi 480 meter dalam sistem. Semakin ditelusuri, semakin banyak kejanggalan yang ditemukan.

 Ada calon peserta didik yang seharusnya berjarak sekitar 250 meter, tetapi dalam aplikasi justru tercatat hanya 80 meter.

Perubahan angka-angka itu bukan sekadar persoalan teknis. Di tengah ketatnya persaingan masuk sekolah negeri favorit, setiap meter memiliki arti penting. 

Selisih puluhan hingga ratusan meter dapat menentukan apakah seorang calon siswa berada dalam kuota penerimaan atau justru tersingkir dari daftar.

Advertisement

“Ya ini ada keanehan, kok datanya tidak sesuai. Saya sudah mencoba bertanya kepada pihak sekolah asal, barangkali ada kesalahan input, tapi jawaban pihak SMP asal menyanggah bahwa proses input sudah benar,” ujar EP kepada TIMES Indonesia, Minggu (7/6/2026) malam.

Keluhan yang disampaikan EP ternyata bukan kasus tunggal. Dalam beberapa hari terakhir, keresahan serupa berkembang di kalangan orang tua calon peserta didik yang mendaftar ke SMAN 5 Kota Tasikmalaya.

 Mereka sama-sama mempertanyakan akurasi data jarak yang ditampilkan sistem SPMB.

Bagi para orang tua, jalur zonasi adalah jalur yang sangat bergantung pada data. Ketika data yang menjadi dasar seleksi berubah-ubah, maka rasa khawatir pun tak terelakkan.

Sejak diberlakukan secara nasional beberapa tahun lalu, sistem zonasi dirancang untuk mendekatkan layanan pendidikan kepada masyarakat. 

Prinsipnya sederhana semakin dekat domisili calon siswa dengan sekolah tujuan, semakin besar peluang diterima.

Dalam praktiknya, sistem tersebut sangat bergantung pada teknologi pemetaan digital dan integrasi data kependudukan. Karena itu, akurasi menjadi faktor yang tak bisa ditawar.

Di Tasikmalaya, harapan terhadap objektivitas sistem justru sempat diuji. Sejumlah calon siswa mendapati jarak rumah mereka berubah tanpa penjelasan yang jelas.

Perubahan itu berdampak langsung terhadap posisi peringkat. Ada yang mendadak turun, ada pula yang tiba-tiba naik.

Situasi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat. Apakah terjadi kesalahan input data? Apakah ada kekeliruan operator? Atau justru terdapat masalah pada sistem yang digunakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir seiring meningkatnya intensitas pemantauan orang tua terhadap laman SPMB yang terus diperbarui secara real time.

Di tengah munculnya berbagai spekulasi, pihak sekolah memilih melakukan pemantauan dan koordinasi.

 Salah satu yang ikut mengikuti perkembangan persoalan tersebut adalah Yayat Hidayat, Pejabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 5 Kota Tasikmalaya yang juga tergabung dalam satuan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Jawa Barat.

Menurut Yayat, setelah dilakukan penelusuran dan pengamatan terhadap berbagai laporan yang masuk, ditemukan fakta bahwa ketidaksesuaian data memang sempat terjadi pada sistem.

Namun, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan merupakan kewenangan sekolah.

“Hasil dari investigasi dan temuan-temuan yang didapat memang itu hasil apa adanya. Ini bukan kewenangan sekolah, tetapi kewenangan provinsi,” kata Yayat.

Penjelasan itu penting karena sejak awal banyak masyarakat menduga kesalahan berasal dari proses input data di tingkat sekolah asal maupun sekolah tujuan.

Menurut Yayat, indikasi yang muncul justru mengarah pada proses penyesuaian yang sedang berlangsung pada sistem web SPMB itu sendiri.

Dalam keterangannya, Yayat menyebut kemungkinan adanya proses adaptasi pada sistem yang digunakan tahun ini.

“Web sedang melakukan penyesuaian-penyesuaian atau mungkin karena vendornya baru,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi petunjuk bahwa persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan aspek teknologi informasi dibandingkan kesalahan administratif.

Di era digital, gangguan seperti ini bukan hal yang sepenuhnya asing. Sistem berbasis daring yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu pengguna secara bersamaan sering kali memerlukan proses kalibrasi dan penyempurnaan, terutama pada tahap awal implementasi.

Namun dalam konteks SPMB, dampaknya menjadi sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan masa depan pendidikan peserta didik.

Bagi orang tua yang setiap hari memantau posisi anaknya dalam daftar seleksi, perubahan angka jarak dan ranking dapat memunculkan kepanikan.

Terlebih ketika sistem menampilkan informasi yang berbeda dengan kondisi nyata di lapangan.

Yayat mengungkapkan bahwa kondisi tersebut berlangsung selama beberapa hari. Menurutnya, sekitar dua hingga tiga hari sebelum Senin (8/6/2026), data yang muncul dalam sistem masih mengalami fluktuasi.

“Kalau tidak salah dua sampai tiga hari yang lalu data masih fluktuatif. Anak yang harusnya 500 meter tertulis 4 kilometer,” ujarnya.

Perubahan itu berdampak pada posisi calon siswa dalam pemeringkatan.

Ada peserta yang sebelumnya berada di luar kuota penerimaan karena jarak yang tercatat terlalu jauh. Namun setelah sistem diperbaiki, posisinya berubah drastis.

“Tadi pagi kembali sudah sesuai. Yang tadinya peringkatnya di luar kuota sekarang masuk kuota dan berada di posisi sekitar 80,” katanya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan data tidak hanya terjadi pada satu atau dua peserta, tetapi memengaruhi struktur pemeringkatan secara keseluruhan.

Akibatnya, posisi calon siswa yang sebelumnya aman bisa bergeser, sementara peserta lain yang sempat terlempar keluar kuota kembali memperoleh peluang.

Di tengah situasi tersebut, Yayat meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan hasil yang tampil dalam sistem sebagai hasil akhir.

Menurutnya, proses yang sedang berlangsung merupakan bagian dari penyempurnaan sistem secara menyeluruh.

“Jangan dianggap final karena ini masih proses penyelesaian. Ini bukan penyelesaian secara personal, tetapi penyelesaian secara holistik pada webnya,” tuturnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi penjelasan mengapa sebagian data jarak dan ranking masih mengalami perubahan dalam beberapa hari terakhir.
Pihak sekolah, kata dia, juga terus memantau perkembangan yang terjadi sambil menunggu sistem benar-benar stabil.

Menariknya, berdasarkan pantauan hingga Senin pagi, banyak keluhan yang sebelumnya muncul mulai berkurang. 

Sejumlah orang tua mengaku data yang ditampilkan kini lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya. Hal itu memberi harapan bahwa proses perbaikan sistem mulai menunjukkan hasil.

Peristiwa yang terjadi dalam pelaksanaan SPMB 2026 di SMAN 5 Kota Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa digitalisasi layanan publik tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga soal kepercayaan.

Ketika sebuah sistem dijadikan dasar pengambilan keputusan penting, maka akurasi data menjadi fondasi utama yang tidak boleh terganggu.

Dalam kasus ini, perubahan data jarak yang sempat terjadi memang disebut sebagai dampak penyesuaian sistem.

 Namun bagi masyarakat, yang terpenting adalah kepastian bahwa seluruh peserta diperlakukan secara adil dan memperoleh penilaian berdasarkan data yang benar.

Hingga kini proses seleksi masih berjalan. Sistem terus diperbarui. Data terus bergerak. Ranking masih berubah.

Di balik deretan angka yang tampil di layar komputer dan telepon genggam, ribuan orang tua di Jawa Barat menunggu satu hal yang paling sederhana: kepastian bahwa teknologi bekerja sebagaimana mestinya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia