Mendesain Revolusi Meja Makan dari Kebun Sekolah: Cetak Biru Transformatif dari Kota Bontang
FGD Penajaman, Pendalaman, dan Pemutakhiran Program yang digelar maraton selama 4,5 jam berhasil menyepakati cetak biru pemutakhiran program berikon 'Smartani Goes to School'.
BONTANG – Suasana di Aula UPT Balai Benih Ikan (BBI) Tanjung Laut Indah Kota Bontang siang itu penuh dengan optimisme baru. Forum Focus Group Discussion (FGD) Penajaman, Pendalaman, dan Pemutakhiran Program baru saja ditutup.
Acara maraton selama 4,5 jam tersebut berhasil menyepakati cetak biru pemutakhiran program berikon 'Smartani Goes to School' dengan tema 'Pengembangan Model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Pengelolaan Program Pertanian Terintegrasi Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga Siswa Sekolah Dasar'.
Forum tersebut juga berhasil mengumpulkan seluruh simpul Pentahelix: jajaran DKP3, para Kepala Sekolah Dasar Negeri, termasuk Kepala Sekolah dari tiga lokus pilot project: SDN 009 Bontang Utara (Kepala Sekolah: Yuliati, SPd, MPd), SDN 005 Bontang Selatan (Kepala Sekolah: Umi Syafarotun, SPd, MPd) dan SDN 002 Bontang Barat (Kepala Sekolah: Suhartini, SPd.). beserta para pendamping lapangan.
Di sela-sela rehat, TIMES Indonesia berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Kepala DKP3 Kota Bontang, H. Ahmad Aznem, SE., M.Si., untuk membedah pemutakhiran taktis, rasionalisasi ilmiah, hingga analisis kelayakan ekonomi dari program ini.
Mantan Kadis pemuda Olahraga dan Pariwisata Bontang ini menjelaskan sudah saatnya pemerintah mendorong dengan serius alternatif pasokan logistik pangan segar dan tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Ketika rantai pasok maritim terganggu atau harga pasar berfluktuasi, ketahanan pangan pada tingkat mikro rumah tangga langsung rapuh. Dampak paling menyakitkan dari kerentanan gizi kronis ini adalah ancaman stunting (tengkes) pada anak-anak usia dasar kita.
“Kita harus melihat ini dari kacamata realitas sosiologis dan paradoks makro ekonomi Kota Bontang. Bontang adalah hub industri besar dengan PDRB per kapita yang tinggi. Namun secara spasial ekologis, lebih dari 80 persen pasokan pangan segar kita bergantung penuh pada logistik luar daerah seperti Sulawesi dan Jawa,” ucapnya, Senin (8/6/2026)
Melalui program 'Smartani Goes to School' Aznem mengungkapkan pentingnya intervensi berbasis masyarakat. Ia menyebut ada 5 pilar intervensi yang mesti dibangun.
Pertama, Transformasi Budaya Agrikultur: Mengubah kesadaran anak-anak kita dari perilaku pasif-konsumtif digital menjadi generasi mandiri yang berdaulat atas pangannya sendiri sejak usia dini.
Artinya kita menggeser mentalitas anak-anak dari konsumen digital pasif menjadi pengguna aktif sebagai produsen pangan berbasis teknologi pertanian presisi sejak kecil.
Kedua, Efek Ganda (Multiplier Effect) Ekonomi Domestik: Melalui sistem 'One Student, One Polybag', pekarangan rumah tangga diubah menjadi jaring pengaman ekonomi atau basis kemandirian yang menekan pengeluaran belanja dapur bulanan keluarga.
Ketiga, Intervensi Stunting Efektif dan Preventif: Menyediakan akses langsung dan suplai harian gizi mikro berupa protein hewani harian dan vitamin segar bebas residu kimia tepat di meja makan domestik siswa pra-sejahtera.
Keempat, Optimalisasi Aset Fisik dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS): Memanfaatkan lahan tidur, dinding mati, dan ruang tidur sekolah dengan otonomi penuh desentralisasi mutu pendidikan melalui rekayasa tata ruang hijau mereka sendiri.
Kelima, Mitigasi Risiko Iklim Kontonporer: Merancang rekayasa teknologi spesifik lokasi yang adaptif terhadap karakteristik bio-fisik masing-masing wilayah di Bontang.
Ini adalah salah satu bentuk alternatif budidaya yang tidak tergantung pada kesuburan tanah asli permukaan yang rentan tercemar atau terdegradasi.
Uraian di atas menggambarkan bahwa secara epistemologis, pertanian di Sekolah Dasar diletakkan bukan sekadar aktivitas teknis-material pemenuhan perut, melainkan tindakan intelektual-spiritual untuk memahami keteraturan ayat-ayat kekuasaan Tuhan di alam semesta—sebuah Fardhu Kifayah dalam tradisi epistemologi Abu Hamid al-Ghazali.
Bagi peserta didik di tingkat dasar ini penting menjadi ruang untuk memahami hukum kausalitas alam semesta, sebuah implementasi nyata dari konsep kemandirian yang beradab.
Tak hanya itu mantan ketua DPD KNPI Bontang tersebut akan melakukan penyeragaman basis teknologi pada Sistem Hidroponik, namun dengan Desentralisasi Model Modifikasi Tata Ruang sesuai keluasan dan karakteristik area bangunan sekolah melalui prinsip MBS.
Tanah permukaan di perkotaan industri sering kali menjadi kendala—mulai dari ketiadaan lahan, tanah urug yang miskin hara, hingga risiko cemaran.
Hidroponik memutus kendala tanah tersebut (soilless culture), memberikan efisiensi penggunaan air, serta kontrol nutrisi yang 100 persen presisi sehingga aman bagi anak.
“Kami tidak merombak, tapi melakukan harmonisasi dan penyempurnaan aksiologis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa implementasi P5 pada Kurikulum Merdeka sering kali terjebak dalam sekat administratif yang memisahkan intrakurikuler kelas dan kokurikuler, sehingga proyek sekolah rentan berakhir menjadi formalitas portofolio pameran,” sebutnya.
Menurutnya, Kurikulum Berdampak melebur total dinding pemisah tersebut melalui Integrated Project-Based Learning (PjBL) yang Kontekstual.
Ketika siswa berada di kebun Smartani, mereka sedang menempuh capaian pembelajaran IPAS (sains kehidupan/ekologi), Matematika (numerasi menghitung PPM nutrisi dan rasio pakan FCR), serta Bahasa Indonesia (menulis laporan naratif pertumbuhan makhluk hidup) sekaligus dalam satu aksi nyata (Deep Learning).
"Keunggulannya jelas: kriteria keberhasilan tidak lagi diukur dari tumpukan berkas administratif, melainkan diukur dari Impact Outcomes : Apakah proyek siswa menghasilkan perubahan perilaku ekologis di sekolah, dan apakah bibit yang dibawa pulang mampu mengintervensi gizi keluarganya?” lanjut Aznem.
Namun ada pertanyaan Bagaimana visualisasi perbedaan penerapan basis hidroponik ini di tiga SD yang menjadi pilot project tahap pertama? Bukankah kondisi fisik pekarangan ketiganya sangat kontras?
Aznem berujar, justru di sinilah letak keindahan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Setiap Kepala Sekolah berkolaborasi dengan tim pendamping DKP3 untuk menyesuaikan skala dan alternatif bentuk hidroponik, aeroponik, atau kultur air.
Meski pada tahap pertama atau fase pengenalan dan konsolidasi program sekarang pada umumnya menggunakan penanaman dalam media polybag.
Namun ke depan akan berkembang dengan metode integrasi penuh yang memaksimalkan metode dan multi model Fully Integrated Aquaculture-Hydroponics di samping pengayaan ragam jenis tanaman yang kompatibel di sekolah. Dengan arah pengembangan masing-masing:
Namun secara ilmiah, bagaimana aktivitas hidroponik presisi ini mampu mendongkrak fokus dan prestasi belajar siswa di dalam kelas? Mungkin sebagian kalangan akademisi, akan skeptis:
Bagaimana mungkin aktivitas mengorek tanah dan memberi pakan ikan bisa meningkatkan nilai rapor matematika anak?" Bagaimana penjelasan saluran ilmiahnya, Pak Kadis?
Menurut Aznem hal tersebut merupakan pertanyaan klasik yang hari ini dijawab tuntas dengan pisau analisis neurosains dan psikologi perkembangan atau psikologi pendidikan melalui tiga saluran empiris yang sangat kokoh:
Pertama, Neurobiologi Keterbukaan Mental (Mind Openness). Otak anak tidak akan bisa menyerap informasi jika mereka masuk gerbang sekolah dalam keadaan tertekan oleh format sosial kaku.
Aktivitas fisik-sensori di kebun Smartani—menyentuh tekstur hara, mengamati aliran bioflok, melihat benih pecah cangkang—secara neurobiologis menstimulasi sekresi neurotransmiter dopamin, serotonin, dan endorfin.
Hormon-hormon kebahagiaan ini menurunkan kadar kortisol (stres) dan secara otomatis mengaktifkan Reticular Activating System (RAS) pada batang otak anak.
Ketika RAS aktif oleh rasa senang, gerbang kognitif siswa terbuka lebar secara sukarela (mind openness) untuk menerima informasi pelajaran baru secara optimal tanpa tekanan..
Kedua, Aktivasi Kognisi Berdampak (Embodied Cognition). Psikologi kognitif modern membuktikan kecerdasan intelektual anak usia dasar bertumbuh linier dengan intensitas gerakan motorik tubuh yang berinteraksi langsung dengan lingkungan materialnya.
Aktivitas motorik presisi di kebun—seperti menjepit benih mikro menggunakan pinset ke dalam rockwool, menakar nutrisi dengan skala milliliter, menuangkan cairan nutrisi AB-Mix secara akurat ke gelas ukur, menyemprotkan bio-pestisida—memaksa terjadinya neuroplastisitas, yaitu pembentukan dan penguatan jalur-jalur sinapsis baru di otak anak.
Keterampilan kinestetik yang terlatih di kebun ini terbukti meningkatkan fokus, memori jangka panjang (long-term memory), serta ketajaman penalaran abstrak saat mereka kembali ke dalam kelas untuk memecahkan persoalan (problem-solving) matematika atau sains teoretis saat mereka kembali ke kelas.
Ketiga, Transposisi Karakter Penundaan Kepuasan (Delayed Gratification). Anak era digital menderita sindrom kepuasan instan (instant gratification) akibat disrupsi gawai yang memicu kelesuan mental.
Sektor agrikultur presisi bertindak sebagai instrumen restoratif psikologis. Anak diajarkan secara konkret bahwa untuk menikmati panen gizi segar, mereka wajib melewati fase disiplin harian: menyemai, menyiram, memantau pH, bersabar menjaga makhluk hidup.
Karakter sabar, tekun, dan solutif ini secara otomatis tertransposisi menjadi resiliensi mental (daya juang) siswa dalam menghadapi tekanan tugas akademik yang rumit.
Dengan merawat instalasi hidroponik melatih anak disiplin harian mengukur PPM nutrisi dan menghargai proses sirkular pertumbuhan harian. Karakter sabar, tekun, dan tangguh ini secara otomatis tertransposisi menjadi resiliensi mental siswa dalam menghadapi soal-soal pelajaran yang rumit.
Menurutnya, inilah poin krusial yang dimutakhirkan dalam FGD ini. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menguntungkan dari sudut pandang efisiensi waktu operasional sekolah.
"Karena sekolah tidak lagi memproduksi sampah kantin dalam skala masif, kita tidak perlu membebani guru dan siswa dengan manajemen komposter sampah organik yang rumit di area sekolah," tegas Aznem.
“Kami tidak memosisikan program ini sebagai instruksi top-down yang menghukum, melainkan sebagai instrumen yang meringankan dan mencerahkan tugas keguruan mereka melalui Five Pillars Multiplikator Nilai Gerakan, Pilar Edukatif, Pilar Rekreatif, Pilar Inspiratif, Pilar Informatif dan Pilar Inovatif," sambungnya.
Di akhir pertemuan Ahmad Aznem mengajak masyarakat untuk menyukseskan gerakan Smartani Goes to School ia meyakini program ini akan bermanfaat baik untuk mendukung transisi pangan di Kota Bontang menuju Indonesia swasembada pangan.
“Mari kita sukseskan gerakan Smartani Goes to School, demi masa depan meja makan anak-anak Kota Bontang!,” ajak Kepala Dinas DKP3 Bontang Ahmad Aznem. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


