Dari Generasi ke Generasi, Merti Bumi jadi Penjaga Identitas Budaya Desa Tulungrejo Batu
Masyarakat Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, kembali menggelar tradisi Merti Bumi 2026 sebagai wujud syukur atas limpahan hasil bumi, keselamatan, dan keberkahan yang diterima sepanjang tahun.
BATU – Masyarakat Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, kembali menggelar tradisi Merti Bumi 2026 sebagai wujud syukur atas limpahan hasil bumi, keselamatan, dan keberkahan yang diterima sepanjang tahun.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sarana memperkuat persatuan warga dan menjaga identitas masyarakat lereng Gunung Arjuno-Welirang.
Merti Bumi sendiri merupakan tradisi adat masyarakat Jawa yang memiliki makna memelihara dan menghormati bumi sebagai sumber kehidupan. Tradisi ini diwujudkan melalui berbagai ritual syukur, doa bersama, gotong royong, hingga pertunjukan budaya yang mencerminkan harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Di Desa Tulungrejo, nilai-nilai tersebut masih dijaga dengan kuat. Pemerintah Desa bersama masyarakat menggelar rangkaian Merti Bumi 2026 dengan tema 'Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti' yang menggambarkan rasa syukur mendalam atas kasih sayang dan anugerah Tuhan kepada masyarakat desa.
Kepala Desa Tulungrejo, Suliono mengatakan pelaksanaan Merti Bumi tahun ini disusun berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang dipadukan dengan kalender Masehi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.
"Merti Bumi bukan sekadar kegiatan tahunan. Ini adalah warisan budaya yang mengajarkan rasa syukur, gotong royong, dan penghormatan kepada alam serta para leluhur yang telah membuka dan membangun desa ini," ujar dia, Senin (8/6/2026).
Rangkaian kegiatan dimulai pada 7 Juni 2026 dengan prosesi Majang Tarub di Kantor Desa Tulungrejo sebagai tanda dimulainya perayaan adat. Selanjutnya pada 14 Juni, warga melaksanakan Gugur Gunung, yakni kerja bakti membersihkan lingkungan desa sebagai simbol kepedulian terhadap alam dan kebersamaan masyarakat.
"Acara dilanjut pada akhir Juni, nuansa religius semakin terasa melalui kegiatan Khotmil Quran dan ziarah kubur yang digelar serentak pada 24 Juni di masjid-masjid serta makam para leluhur," tegasnya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum mendoakan para pendahulu sekaligus memohon keselamatan bagi seluruh warga desa. Tradisi berbagi juga menjadi bagian penting dalam Merti Bumi.
"Lalu pada 25 Juni, masyarakat melaksanakan prosesi potong sapi di kantor desa. Daging hasil penyembelihan kemudian dibagikan kepada warga sebagai simbol kebersamaan dan pemerataan rezeki," urainya.
Sehari berikutnya, warga memasang penjor dan cok bakal di sepanjang jalan desa. Dalam tradisi Jawa, penjor menjadi lambang kemakmuran dan harapan akan keberlanjutan rezeki dari hasil bumi yang melimpah.
"Prosesi adat berlanjut dengan Atur Pingsungsung pada 27 Juni, dilanjutkan pembuatan hidangan tradisional Njenang dan Adang Ketan pada 30 Juni yang dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat," tambahnya.
Dari makanan tradisional tersebut menjadi simbol eratnya hubungan sosial dan kebersamaan warga. Lalu, salah satu ritual yang paling sakral adalah Tirakatan dan Jamasan Shidikara Pusaka yang akan dilaksanakan pada 1 Juli 2026 di kediaman Kepala Desa.
"Prosesi ini bertujuan merawat pusaka peninggalan leluhur sekaligus menjadi pengingat sejarah panjang perjalanan Desa Tulungrejo," bebernya.
Rangkaian inti Merti Bumi kemudian ditutup melalui tradisi Weweh pada 3 Juli 2026. Meski demikian, semarak perayaan masih berlanjut hingga Agustus mendatang dengan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat dari seluruh dusun.
Puncak Merti Bumi 2026 dijadwalkan berlangsung pada 5 Agustus 2026 melalui Karnaval Budaya Tulungrejo. Berbagai kesenian tradisional, atraksi budaya, dan kreativitas masyarakat akan ditampilkan dalam parade budaya yang menjadi etalase kekayaan tradisi desa kepada masyarakat luas.
"Bagi masyarakat Tulungrejo yang berada di lereng Arjuno-Welirang, Merti Bumi adalah perekat persaudaraan. Melalui tradisi ini, warga berkumpul, bekerja bersama, berdoa bersama, dan menjaga budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman," tuturnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


