Ahmad Luthfi Ajak MUI Jadi Penyejuk Bangsa Hadapi Hoaks dan Disinformasi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak MUI menjadi penyejuk bangsa di tengah maraknya hoaks dan disinformasi. Peran ulama dinilai penting menjaga kondusivitas serta stabilitas sosial masyarakat.
SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperkuat perannya sebagai penyejuk masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital yang rentan memicu hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian. Menurutnya, keberadaan ulama menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas sosial dan mencegah masyarakat mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang menyesatkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Luthfi saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XI MUI Jawa Tengah 2026 di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (10/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia menilai MUI memiliki posisi strategis karena kedekatannya dengan umat di berbagai lapisan masyarakat.
Luthfi mengibaratkan ulama sebagai radiator yang mampu menjaga mesin tetap dingin ketika menghadapi panasnya berbagai tekanan sosial. Karena itu, kehadiran tokoh agama dinilai penting untuk menjaga suasana tetap kondusif di tengah tantangan era digital.
“Masyarakat akan adem apabila ada ulama yang hadir memberikan pembinaan,” ujarnya.
Menurut Luthfi, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks. Selain menghadapi dinamika sosial akibat perkembangan teknologi informasi, pemerintah juga dihadapkan pada tekanan fiskal, kondisi geopolitik global, hingga upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri seperti Superman, kita butuh super team,” tegasnya.
Ia juga mendorong kepengurusan baru MUI Jawa Tengah untuk mempererat komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bahkan, Luthfi membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan menjadikan kantor gubernur sebagai tempat berdiskusi dan mencari solusi atas berbagai persoalan keumatan maupun sosial kemasyarakatan.
“Saya ingin kantor gubernur bisa menjadi kantor bersama,” katanya.
Dalam sambutannya, Luthfi turut menyinggung sejumlah capaian pembangunan di Jawa Tengah yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi provinsi ini tercatat mencapai 5,89 persen, sementara angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,88 persen menjadi 9,39 persen.
Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya merupakan hasil kerja pemerintah, tetapi juga buah dari kontribusi berbagai pihak yang selama ini turut menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah.
“Capaian tersebut tidak lepas dari peran berbagai pihak dalam menjaga kondusivitas daerah,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa MUI merupakan rumah besar bagi berbagai organisasi Islam di Indonesia, mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad hingga Al-Washliyah.
Ia mengatakan, keberadaan MUI menjadi wadah pemersatu umat di tengah beragam perbedaan pandangan dan praktik keagamaan. Perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar, namun harus dikelola secara bijak agar tidak berkembang menjadi konflik sosial.
“Perbedaan tetap bisa disatukan dalam MUI,” ujarnya.
Musda XI MUI Jawa Tengah mengusung tema “Menjaga Moralitas Beragama, Bermasyarakat, dan Bernegara”. Selain menjadi ajang konsolidasi organisasi, forum tersebut juga menjadi momentum penyusunan program kerja serta pemilihan kepengurusan MUI Jawa Tengah untuk periode 2026–2031. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


