Rumah Bambu Weragati Majalengka Masuk Laporan Nasional Bappenas, Jadi Contoh Pembangunan Berkelanjutan
Dari desa yang memanfaatkan potensi bambu sebagai kekuatan utama, lahir sebuah model pemberdayaan yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi lokal, dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
MAJALENGKA – Dari sebuah desa yang dikelilingi hamparan bambu di Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, lahir sebuah kisah pemberdayaan masyarakat yang kini mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Program BUMMas Rumah Bambu Weragati resmi tercantum dalam dokumen Voluntary National Review (VNR) Indonesia 2025 yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai salah satu praktik terbaik pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam laporan bertajuk Fostering Inclusive Growth: Advancing Sustainable and Resilient Indonesia, Bappenas menempatkan BUMMas Rumah Bambu Weragati sebagai contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Dikutip dari laporan Bappenas 2026, Desa Weragati memiliki kekayaan sumber daya bambu yang melimpah.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui program BUMMas Rumah Bambu Weragati yang diinisiasi oleh Rumah Zakat pada tahun 2020 sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada produksi kerajinan bambu, tetapi juga membangun sistem usaha masyarakat yang profesional dan berkelanjutan.
Langkah awal dilakukan melalui pembentukan kelompok usaha, edukasi masyarakat, hingga pendirian koperasi produsen yang memiliki legalitas untuk mengelola operasional bisnis, menjaga keberlanjutan produksi, dan memperluas akses pemasaran.
Seiring berjalannya waktu, berbagai teknologi produksi mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Mulai dari mesin gergaji, alat pembelah bambu, peralatan pengeboran, kompresor, hingga penggunaan komputer untuk mendukung desain produk yang lebih kompetitif dan bernilai tambah.
Meski menghadapi tantangan keterbatasan modal serta persaingan dengan material lain seperti plastik, kayu, dan akrilik, program tersebut mampu menunjukkan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Laporan Bappenas mencatat sekitar 50 persen anggota kelompok yang terlibat dalam program berhasil keluar dari garis kemiskinan dan mengalami peningkatan pendapatan.
Selain itu, inisiatif tersebut juga berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi sedikitnya 10 orang, memberdayakan petani bambu lokal, meningkatkan citra desa, sekaligus mendorong pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan bambu secara berkelanjutan.
Keberhasilan tersebut menjadikan BUMMas Rumah Bambu Weragati sebagai model pemberdayaan masyarakat yang dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia yang memiliki sumber daya bambu serupa.
Masuknya nama Desa Weragati dalam Lampiran VNR Indonesia 2025 menjadi pencapaian penting bagi Kabupaten Majalengka.
Sebab, dokumen tersebut merupakan laporan resmi Indonesia kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait capaian implementasi SDGs di tingkat nasional.
Pengakuan tingkat nasional tersebut sejatinya melanjutkan sederet prestasi yang sebelumnya telah diraih program pemberdayaan bambu di wilayah Palasah.
Pada tahun 2024, Yayasan Rumah Zakat Indonesia menerima penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2024 atas kontribusinya dalam pencapaian SDGs melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal kerajinan bambu.
Penghargaan yang diberikan dalam kategori Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Berbasis ISO 26000:2013 untuk SDGs tersebut menempatkan program Desa Ekonomi Mandiri "Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Kerajinan Bambu" sebagai salah satu model pembangunan yang dinilai berhasil mendorong pengurangan kesenjangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan Desa Weragati menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu lahir dari kawasan industri besar atau pusat pertumbuhan ekonomi modern.
Dari desa yang memanfaatkan potensi bambu sebagai kekuatan utama, lahir sebuah model pemberdayaan yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi lokal, dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Kini, nama Desa Weragati tidak hanya dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Majalengka, tetapi juga sebagai salah satu wajah keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat global. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


