7 Tradisi Malam 1 Suro di Pacitan, dari Ritual Tetaken hingga Baritan Tolak Bala
Dalam tradisi Jawa, malam 1 Suro tidak hanya momen pergantian tahun tapi juga momen sakral yang harus disambut dengan upacara atau ritual penuh makna.
PACITAN – Malam 1 Suro 2026 yang jatuh pada Senin (15/6/2026) malam hingga Selasa (16/6/2026) nanti tak sekadar menjadi pergantian tahun dalam penanggalan Jawa bagi masyarakat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Di wilayah pesisir selatan ini, bulan Suro disambut dengan rangkaian adat yang masih hidup di tengah masyarakat, mulai dari tirakatan, larung sesaji, ritual pertapaan, hingga tradisi tolak bala.
Ritual-ritual tersebut tidak hanya dimaknai sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga menjadi ruang spiritual masyarakat untuk memanjatkan syukur, keselamatan, sekaligus menjaga hubungan manusia dengan alam.
Sedikitnya terdapat tujuh tradisi khas yang rutin digelar warga Pacitan selama bulan Suro.
1. Tetaken, Ritual Spiritual di Lereng Gunung Limo
Tradisi Tetaken menjadi salah satu ritual khas yang paling lekat dengan bulan Suro di Pacitan. Upacara ini digelar setiap tanggal 1 dan 15 Suro di lereng Gunung Limo, Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung.
Prosesi diawali dengan pertapaan sejumlah pelaku spiritual selama beberapa hari sebelum puncak acara. Pada hari pelaksanaan, peserta berkumpul di sekitar punden dan pelataran Padepokan Tunggul Wulung untuk menjalani rangkaian ritual.
Secara turun-temurun, Tetaken dipercaya merepresentasikan purnanya atau wisudanya para pertapa setelah menuntut ilmu di padepokan. Momentum tersebut kemudian disambut sebagai bentuk syukur keluarga maupun warga sekitar.
Tradisi ini bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional.
2. Larung Sesaji, Ikhtiar Nelayan Memohon Keselamatan
Sebagai daerah pesisir, masyarakat nelayan Pacitan memiliki tradisi larungan atau larung sesaji yang digelar setiap bulan Suro.
Prosesi dilakukan dengan mengarak hasil bumi dan hasil laut menuju dermaga atau pelabuhan untuk didoakan bersama. Sesaji berupa buceng suci dan tumpeng kemudian disantap bersama warga.
Sebagian sesaji dibawa ke tengah laut untuk dilarung oleh nelayan sebagai simbol rasa syukur atas hasil tangkapan sekaligus doa keselamatan saat melaut.
Tradisi ini rutin berlangsung di sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI), seperti TPI Tamperan dan TPI Ngadirojo, serta kerap menjadi bagian pembuka Festival Nelayan Pacitan.
3. Ngambu Pancer, Kirab Sesaji Bernuansa Laut Selatan
Siang hari pada 1 Suro, masyarakat Pacitan juga menggelar ritual Ngambu Pancer. Prosesi ini berupa kirab hasil bumi seperti polo pendem, jajan pasar, bunga, dan dupa wangi menuju pesisir.
Kirab dipimpin seorang perempuan yang mengenakan busana menyerupai tokoh Ratu Laut Selatan, didampingi dua pengawal.
Sesaji kemudian dibawa ke laut dan dilarung sebagai simbol persembahan kepada alam serta ungkapan syukur atas berkah kehidupan.
Ritual ini terakhir kali digelar di kawasan Pantai Pancer Dorr, salah satu titik wisata pesisir di Pacitan.
4. Brojo Geni, Sepak Bola Api Para Santri Tremas
Suasana malam 1 Suro di lingkungan Pondok Pesantren Tremas juga diwarnai tradisi Brojo Geni, yakni permainan sepak bola api.

Bola yang digunakan terbuat dari kelapa tua yang sebelumnya direndam minyak tanah agar tetap menyala saat dimainkan.
Permainan berlangsung di area terbuka dengan pengamanan ketat. Para peserta, yang mayoritas santri, umumnya telah menjalani syarat tertentu sebelum mengikuti permainan tersebut.
Kini, Brojo Geni tak lagi bersifat tertutup. Masyarakat umum dapat menyaksikan tradisi unik itu, meski tidak semua orang diperbolehkan ikut bermain.
5. Tirakatan dan Jamasan Pusaka
Bagi sebagian warga Pacitan, malam 1 Suro juga identik dengan tirakatan. Ritual ini dilakukan secara pribadi maupun berkelompok dalam suasana hening.
Kegiatannya diisi doa akhir dan awal tahun, istighfar, dzikir, hingga pengajian sebagai bentuk refleksi spiritual.
Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga melakukan jamasan atau penyucian benda pusaka peninggalan leluhur, seperti keris, tombak, batu, maupun benda-benda keramat lainnya.
Benda pusaka dimandikan menggunakan air bunga setaman yang telah didoakan, kemudian dijemur di bawah sinar matahari pagi.
Tradisi ini dimaknai sebagai penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus simbol membersihkan energi buruk yang diyakini melekat pada benda tersebut.
6. Mlaku Suran, Jalan Kaki Massal Menyambut Tahun Baru Jawa
Pemerintah Kabupaten Pacitan turut meramaikan peringatan bulan Suro melalui tradisi Mlaku Suran.

Ratusan warga, komunitas budaya, hingga jajaran pemerintah daerah biasanya berjalan kaki bersama dari Pendopo Kabupaten Pacitan menuju kawasan Pantai Pancer Dorr.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sholawatan Jawa sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan menyambut tahun baru Jawa.
Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan antara budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat.
7. Baritan, Ritual Tolak Bala yang Masih Bertahan
Di sejumlah desa, malam Suro juga ditandai tradisi Baritan atau ritual tolak bala. Warga berkumpul di perempatan jalan dusun untuk memanjatkan doa bersama demi keselamatan lingkungan.
Salah satu tradisi Baritan yang masih bertahan berasal dari Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung.
Ritual tersebut digelar setiap bulan Suro, terutama sebagai bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi ancaman bencana maupun wabah penyakit.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan sejumlah syarat ritual, seperti penyembelihan kambing jantan kendhit, ayam tulak sejodho, hingga berbagai sesaji lain.
Warga juga menggelar sarasehan dan mencari tembung wadal atau tumbal yang digunakan sebagai bagian ritual untuk mengusir Braholo.
Menurut Lestari dalam penelitian Upaya Penanaman Nilai-Nilai Religius dalam Tradisi Baritan (2019), istilah Baritan berasal dari kata wiridan atau wiriddan yang bermakna memohon petunjuk, perlindungan, dan keselamatan kepada Tuhan. Dalam perkembangan dialek lokal, istilah itu berubah menjadi “Baritan”.
Sementara itu, penelitian Imtihana, Yekti, dan Agustiani dalam Journal of Interdisciplinary Islamic Studies (2022) menyebutkan, tradisi Baritan di Desa Gawang memuat nilai religius Islam yang berpadu dengan kearifan lokal masyarakat setempat.
Pandangan serupa juga disampaikan Hendriyanto dan Sutopo dalam Prosiding Seminar Nasional STKIP PGRI Pacitan (2020), yang menilai Baritan bukan sekadar ritual adat, melainkan sarana pendidikan nilai sosial, spiritual, serta solidaritas warga desa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


