Dari Sampah Plastik ke Furnitur Bernilai Jual, Inovasi BINUS Malang Dilirik Pemkot
BINUS Malang ubah sampah tutup botol HDPE jadi furnitur bernilai ekonomi tinggi. Diuji di Klampokasri, sukses libatkan warga. Pemkot Malang siap replikasi ke 57 kelurahan untuk tekan 700-800 ton sampah/hari.*
MALANG – Persoalan sampah yang mencapai 700 hingga 800 ton per hari di Kota Malang mendorong lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah. Salah satu terobosan datang dari BINUS Malang yang berhasil mengubah sampah plastik tutup botol menjadi produk furnitur bernilai ekonomi tinggi dan kini berpeluang diperluas ke puluhan kelurahan di Kota Malang melalui kolaborasi dengan Pemkot Malang.
Program ini tidak sekadar mengajarkan masyarakat memilah sampah, tetapi membawa sampah plastik jenis HDPE naik kelas menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding dijual sebagai bahan mentah.
Student Development Associate Manager BINUS Malang, Yoseph Benny Kusuma mengatakan, inovasi tersebut lahir dari proyek inisiatif lintas program studi yang bertujuan memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, kampus tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau pelatihan awal saja. BINUS terus melakukan pendampingan agar kualitas produk yang dihasilkan warga tetap terjaga dan memiliki daya saing di pasar.
“Kami menggandeng Program Studi Desain Interior untuk mendesain produk. Kemudian dosen-dosen Kewirausahaan membantu melihat nilai jualnya. Jadi produk yang dibuat bukan hanya bagus, tetapi juga bisa menguntungkan,” ujar Benny, Sabtu (13/6/2026) malam.
Pendekatan yang dilakukan BINUS bahkan melibatkan lebih banyak disiplin ilmu. Selain desain dan kewirausahaan, Program Studi Public Relations turut dilibatkan untuk membangun narasi di balik setiap produk daur ulang yang dihasilkan.
Benny menjelaskan, produk furnitur hasil olahan sampah plastik merupakan produk yang memiliki pasar khusus sehingga membutuhkan cerita yang kuat agar menarik minat konsumen.
“Orang membeli bukan hanya karena fungsinya, tetapi karena ceritanya. Mereka merasa menjadi bagian dari perubahan dan ikut peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Inovasi tersebut muncul dari keprihatinan terhadap tingginya volume sampah di Kota Malang. BINUS melihat proses pemilahan sampah yang selama ini dilakukan masyarakat masih menghasilkan nilai ekonomi yang relatif rendah karena sampah dijual dalam bentuk bahan mentah.
Karena itu, kampus mencoba memanfaatkan kekuatan kolaborasi antarprogram studi untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Kami tidak hanya mengajarkan memilah sampah. Kami mengintegrasikan desain produk, pemasaran, komunikasi visual, hingga model bisnis agar pengelolaan sampah ini bisa berjalan berkelanjutan,” jelasnya.
Benny menegaskan, keberhasilan program di Klampokasri, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih luas. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa sampah plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Menariknya, program ini melibatkan hampir seluruh lapisan warga, mulai dari lansia, kelompok usia produktif, karang taruna hingga anak-anak sekolah yang sedang menjalani masa liburan.
“Kami ingin memberikan dampak yang nyata. Semua elemen masyarakat ikut terlibat dalam proses ini,” ucapnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menilai inovasi yang dibawa BINUS menjadi langkah penting dalam memperkuat program pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), khususnya pada aspek daur ulang yang selama ini belum optimal.
Menurut Gamaliel, Kota Malang saat ini memiliki sekitar 400 bank sampah. Namun sebagian besar masih menjual sampah hasil pemilahan dalam bentuk mentah seperti botol plastik, tutup botol, maupun kantong kresek.
“Nah, hari ini ada inovasi bagaimana tutup botol itu tidak dijual dalam bentuk tutup, tetapi menjadi barang yang lebih mahal nilainya,” kata Raymond.
DLH melihat keberhasilan yang dicapai di Klampokasri layak direplikasi ke wilayah lain. Terlebih Kota Malang memiliki 57 kelurahan yang berpotensi mengembangkan model serupa.
Karena itu, Pemkot Malang berencana mengambil peran aktif dalam memperluas penyebaran teknologi dan metode pengolahan sampah yang telah dikembangkan BINUS.
“Bukan harus BINUS yang turun langsung ke semua kelurahan. Nanti pemerintah yang akan menjemput bola dan memperkenalkan inovasi ini kepada kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan lain sebagai percontohan,” tuturnya.
Ia menambahkan, ke depan inovasi daur ulang akan menjadi bagian dari penguatan program lingkungan yang sudah berjalan, seperti Kampung Lestari, Kampung ProKlim, TPS 3R, bank sampah, hingga TPST.
DLH juga menargetkan fasilitas pengelolaan sampah yang selama ini berfokus pada pengurangan dan pemilahan dapat berkembang menjadi pusat produksi barang hasil daur ulang yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kita ingin TPS 3R tidak hanya melakukan pemilahan dan pengurangan sampah, tetapi juga memproduksi hasil daur ulang yang lebih berguna dan memiliki harga jual lebih mahal,” tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


