Advertisement
Peristiwa Daerah

Warisan Nilai Mantan Rektor UB Prof. Eka Afnan Troena: Jangan Lupa Memberi dan Hargai Semua Orang

Keluarga mengenang Prof. Eka Afnan Troena sebagai sosok dermawan, sederhana, dan peduli sesama. Mantan Rektor UB itu juga mewariskan pesan tentang pendidikan, berbagi, dan menghargai semua orang.

TIMES Indonesia,
Warisan Nilai Mantan Rektor UB Prof. Eka Afnan Troena: Jangan Lupa Memberi dan Hargai Semua Orang
Rumah duka mantan Rektor Universitas Brawijaya Malang periode 1998-2002 Prof. Eka Afnan Troena di Jalan Cibogo, Kota Malang, yang meninggal dunia, Minggu (14/6/2026). (foto: Miranda Lailatul Fitria/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Mantan Rektor Universitas Brawijaya periode 1998-2002 dan akademisi senior, Prof. Dr. Eka Afnan Troena, S.E meninggal dunia diusia 84 tahun, Minggu (14/6/2026).

Di balik kiprahnya sebagai mantan Rektor Universitas Brawijaya dan akademisi senior, Prof. Dr. Eka Afnan Troena, S.E., dikenang keluarga sebagai sosok sederhana, dermawan, dan selalu mengajarkan pentingnya berbagi kepada sesama.

Advertisement

Putra kedua almarhum, Eka Ananta Sidharta, mengatakan salah satu pesan yang paling sering disampaikan sang ayah adalah tentang pentingnya memberi dalam setiap kondisi kehidupan.

“Bapak selalu menekankan kepada kami untuk jangan lupa memberi. Apa pun kondisinya, kita harus ingat untuk memberi. Itu yang paling kami ingat dari beliau,” ujarnya saat ditemui di rumah duka, Jalan Cibogo, Kota Malang, Minggu (14/6/2026).

Selain menanamkan nilai kepedulian sosial, Prof. Eka juga menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting. Namun menurutnya, pendidikan tidak hanya diukur dari gelar atau jenjang sekolah formal.

“Bapak selalu mengatakan sekolah setinggi-tingginya. Tapi sekolah bukan satu-satunya indikator seseorang menjadi pintar. Harus dilengkapi dengan pengetahuan, pengalaman, dan pergaulan,” kata Eka Ananta.

Nilai lain yang terus diajarkan almarhum adalah menghargai setiap orang tanpa memandang latar belakang sosial maupun profesinya.

Advertisement

“Temannya bapak banyak sekali semua golongan, mulai dari satpam, tukang sapu, tukang parkir, semua kenal beliau. Bapak mengajarkan bahwa kita harus berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.

Sebagai seorang pendidik, Prof. Eka juga meninggalkan pesan yang terus diingat putranya yang juga berprofesi sebagai dosen.

“Beliau pernah berpesan kepada saya, ‘Otoritas ilmu itu ada di dosen. Kamu pemegang otoritas ilmu, jadi jangan pernah ragu untuk mengajar dan menjalankan tugasmu. Dalam hakmu itu ada hak orang lain’,” kenangnya.

Sementara itu, putri keempat almarhum, Eki Meirna Pramesti, mengenang ayahnya sebagai pribadi yang sangat ringan tangan membantu orang lain.

“Kalau ada orang datang meminta bantuan, entah pinjam uang atau apa pun, Bapak tidak pernah bertanya untuk apa dan kapan dikembalikan. Beliau tidak pernah mengharapkan balasan,” tuturnya.

Menurut Eki, membantu orang lain merupakan kebahagiaan tersendiri bagi sang ayah. Namun dalam urusan akademik, Prof. Eka dikenal memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah berkompromi terhadap kualitas pendidikan.

“Kalau di dunia pendidikan, Bapak orangnya tegas. Beliau tidak bisa dikompromikan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kualitas pendidikan karena memang sangat menghargai ilmu dan orang-orang yang mau belajar,” ujarnya.

Bagi keluarga, Prof. Eka Afnan Troena bukan hanya seorang akademisi dan mantan rektor. Ia adalah sosok yang meninggalkan teladan tentang pentingnya ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, serta penghormatan kepada sesama manusia tanpa memandang status dan latar belakang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia