Diiringi Mantra Singgah-Singgah Tiga Pusaka Ponorogo Diboyong ke Kota Lama Jelang 1 Suro
Ritual sakral Bedol Pusoko Ponorogo menyambut 1 Suro, tiga pusaka Bumi Reog diarak dari Pringgitan ke Kota Lama sebagai simbol hijrah, doa tolak bala, dan refleksi sejarah leluhur.
PONOROGO – Semerbak aroma dupa berpadu syahdu dengan alunan lelagon Jawa kuno mantra Singgah-Singgah. Lantunan doa penolak bala tersebut menggema dari teras Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo, Minggu (14/6/2026) malam, mengantarkan kekusyukan prosesi adat ritual Bedol Pusoko dalam rangka menyambut pergantian tahun baru Islam, malam 1 Suro.
Ribuan pasang mata masyarakat dan wisatawan memadati area seputar Pringgitan. Mereka menjadi saksi pelepasan tiga pusaka keramat lambang kejayaan Bumi Reog, yakni Songsong Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cindhe Puspito.
Ritual sakral ini dibuka secara simbolis dengan prosesi pengalungan ronce bunga melati oleh sesepuh Ponorogo kepada Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita. Prosesi serupa kemudian dilanjutkan kepada tiga petugas khusus yang mengenakan pakaian adat Ponoragan lengkap, selaku pemegang amanah pembawa pusaka.

Begitu keluar dari gerbang Pringgitan, ketiga pusaka tersebut langsung diboyong menuju kawasan Kota Lama (Pasar Pon). Lokasi ini merupakan pusat administrasi dan tonggak sejarah pertama kali pemerintahan Ponorogo didirikan pada tahun 1496 Masehi silam.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengungkapkan bahwa Bedol Pusoko bukan sekadar rutinitas tahunan atau tontonan budaya, melainkan sebuah refleksi spiritual dan penghormatan mendalam terhadap sejarah panjang para leluhur pendiri Ponorogo.
"Bedol Pusoko ini adalah simbol hijrah, perpindahan, sekaligus momentum untuk merenungkan kembali akar sejarah kita. Tiga pusaka yang kita boyong ke Kota Lama malam ini adalah representasi marwah dan identitas luhur masyarakat Bumi Reog yang harus terus kita jaga," ujar Lisdyarita usai melepas rombongan prosesi.
Lisdyarita juga menambahkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kental dalam tradisi ini diharapkan mampu membawa berkah, kedamaian, serta keselamatan bagi seluruh warga Ponorogo memasuki tahun yang baru.
Setelah disemayamkan semalam di kawasan cikal bakal Ponorogo tersebut, ketiga pusaka legendaris ini dijadwalkan akan dikembalikan ke Pringgitan pada hari Senin (15/6/2026). Prosesi pengembalian tersebut akan dikemas dalam gelaran budaya yang tak kalah megah, yakni Kirab Pusaka Ponorogo, yang sekaligus menjadi puncak perayaan Grebeg Suro tahun ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


