Stok Darah di Cianjur Kritis di Bawah Batas Aman, Pasien Talasemia Terancam
Krisis stok darah di PMI Cianjur, hanya 163 dari 3.003 pendaftar lolos donor. Cadangan turun jadi 20 kantong, jauh dari kebutuhan harian 30 kantong.
CIANJUR – Peringatan Hari Donor Darah Sedunia di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, diwarnai dengan fakta memprihatinkan mengenai menipisnya ketersediaan darah di wilayah tersebut.
Palang Merah Indonesia Kabupaten Cianjur memanfaatkan momentum seremonial di halaman kantor mereka di Jalan Raya Dr Muwardi untuk menyuarakan kondisi darurat yang terjadi selama beberapa pekan belakangan ini.
Saat membuka acara, Bupati Cianjur dr Muhamad Wahyu Ferdian menyampaikan bahwa aksi mendonorkan darah mencerminkan nilai luhur kepedulian sosial dan solidaritas antar-sesama karena satu sumbangan darah sangat menentukan keselamatan jiwa orang lain.
"Kami berharap agar kelompok remaja serta generasi muda saat ini menyerap kebiasaan berdonor menjadi bagian dari rutinitas harian, bukan sekadar respons spontan ketika ada seruan darurat," ujarnya, Senin (15/6/2026).
Di sisi lain, Ketua PMI Kabupaten Cianjur Ahmad Fikri mengungkapkan bahwa hambatan utama yang kini merintangi organisasinya adalah jomplangnya perbandingan antara jumlah masyarakat yang ingin mendonor dan jumlah darah yang lolos seleksi medis.
Meskipun petugas sudah bergerak aktif menjemput bola ke berbagai daerah dari kawasan Cipanas Pacet di utara hingga Kadupandak di area selatan sepanjang satu pekan terakhir, hasil yang didapat masih jauh dari target.
Dalam hal ini Ahmad memaparkan bahwa dari keseluruhan tiga ribu tiga pendaftar yang berniat mendonorkan darahnya, hanya ada seratus enam puluh tiga orang yang dinyatakan lolos verifikasi kesehatan.
"Kondisi tersebut berimbas pada minimnya perolehan pasokan, di mana setiap titik pemrosesan rata-rata hanya mampu mengumpulkan sekitar seratus lima puluh kantong darah," ungkap dia.
Imbas dari penyaringan yang ketat ini membuat cadangan darah di gudang penyimpanan PMI Cianjur menyusut drastis ke level yang sangat mengkhawatirkan.
Organisasi kemanusiaan ini idealnya wajib mengamankan sedikitnya seratus kantong darah untuk situasi mendesak, tetapi realitasnya dalam empat belas hari belakangan cadangan yang tersedia cuma menyisakan dua puluh kantong.
Ketua PMI Cianjur tersebut menerangkan bahwa angka itu tidak sebanding dengan tingkat permintaan harian yang menyentuh angka tiga puluh kantong, khususnya demi menyambung hidup para penderita talasemia yang wajib menerima transfusi rutin bulanan.
Secara khusus lebih lanjut dirinya mengkhawatirkan keselamatan para pasien akan berada dalam posisi yang sangat rawan apabila kelangkaan pasokan ini terus berlarut-larut tanpa jalan keluar.
Sebagai langkah penyelamatan jangka pendek demi menolong pasien yang berada dalam fase kritis, PMI Cianjur kini harus bersandar pada bantuan distribusi dari wilayah tetangga. Mereka melakukan koordinasi intensif dengan posko PMI di area Bogor serta Jakarta untuk mendatangkan stok darah tambahan ke Cianjur.
Pada kesempatan yang sama, Ahmad Fikri turut meluruskan isu sensitif yang kerap menjadi polemik di tengah warga terkait adanya tarif kompensasi ketika pasien menebus darah di rumah sakit.
Dia menegaskan bahwa pihak medis sama sekali tidak memperjualbelikan darah yang diperoleh dari sukarelawan, melainkan membebankan biaya untuk proses sterilisasi dan penyiapan sistematis.
Lalu Ahmad memerinci bahwa cairan darah yang baru diambil wajib melewati serangkaian prosedur skrining laboratorium yang kompleks, pembersihan dari risiko infeksi menular, hingga penampungan dalam wadah khusus berbiaya tinggi sebelum siap disuntikkan ke tubuh pasien.
Guna membangun kesadaran kolektif yang utuh mengenai regulasi dan urgensi donor ini, PMI Cianjur terus menggalakkan edukasi ke lembaga pendidikan dan perkampungan agar kebutuhan daerah kelak bisa dipenuhi secara mandiri. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


