Gunung Semeru Erupsi Tujuh Kali, Letusan Tertinggi Capai 1 Kilometer
Gunung Semeru di perbatasan Lumajang dan Malang mengalami tujuh kali erupsi dalam sehari. PVMBG meminta warga mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar.
MALANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan. Dalam rentang waktu kurang dari 11 jam, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami tujuh kali erupsi dengan tinggi kolom letusan mencapai hingga 1.000 meter di atas puncak.
Fenomena tersebut terjadi pada Selasa (16/6/2026) sejak pukul 00.45 WIB hingga 11.00 WIB. Meski masih berada pada Status Level III atau Siaga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dua Kali Letusan Mencapai Ketinggian 1 Kilometer
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi pertama terjadi pada pukul 00.45 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak. Abu vulkanik berwarna putih hingga kelabu teramati mengarah ke barat daya dengan intensitas sedang.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, menjelaskan bahwa letusan tertinggi terjadi pada erupsi ketiga dan ketujuh.
"Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada erupsi ketiga pukul 05.21 WIB dan erupsi ketujuh pukul 10.59 WIB dengan tinggi letusan mencapai 1.000 meter di atas puncak," kata Mukdas dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Selasa.
Pada erupsi pukul 05.21 WIB, kolom abu berwarna putih hingga kelabu terpantau mengarah ke barat daya dengan intensitas sedang.
Sementara pada erupsi pukul 10.59 WIB, kolom abu terlihat lebih tebal dengan arah yang sama.
"Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 153 detik," ujarnya.
Status Semeru Masih Siaga
Hingga saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Status Level III (Siaga). Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar," kata Mukdas.
Waspadai Potensi Lahar dan Awan Panas
PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, dan banjir lahar yang dapat mengikuti aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.
Daerah yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi kawasan sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, sungai-sungai kecil yang menjadi anak Sungai Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi sepanjang Selasa tersebut menjadi pengingat bahwa Gunung Semeru masih menyimpan potensi erupsi yang tinggi. Karena itu, kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi PVMBG menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana dan menjaga keselamatan warga di sekitar kawasan rawan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


