Advertisement
Peristiwa Daerah

Ketua PBNU Bicara Fenomena Gus dan Ning Karbitan, Popularitas Mengalahkan Keilmuan

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menyoroti fenomena maraknya sosok "Gus" dan "Ning" karbitan di era media sosial saat ini.

TIMES Indonesia,
Ketua PBNU Bicara Fenomena Gus dan Ning Karbitan, Popularitas Mengalahkan Keilmuan
Kantor PBNU di Jakarta Pusat. (FOTO: Moh Ramli/TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA JAKARTA - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menyoroti fenomena maraknya sosok "Gus" dan "Ning" karbitan di era media sosial saat ini. Ia merasa prihatin karena saat ini popularitas dan viralitas di jagat maya perlahan mulai mengalahkan kedalaman ilmu keagamaan di tengah masyarakat.

Ia mengatakan, sebagai orang yang lebih dari tiga dekade berkhidmah di lingkungan NU dan pesantren, Gus Fahrur melihat ada fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas bimbingan keagamaan yang diterima masyarakat.

Advertisement

Di era media sosial, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi alim. Seseorang bisa memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat, tetapi membangun kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kekayaan ruhani tetap memerlukan proses panjang yang tidak bisa dipercepat oleh algoritma.

"Karena itu, kita mulai melihat munculnya fenomena “gus” , ustadz dan “ning” karbitan. Ada yang dikenal luas bukan karena kapasitas keilmuan, melainkan karena kemampuan membangun citra, membuat konten lucu yang menarik, atau tampil berbeda dari yang lain. Bahkan ada yang baru beberapa tahun meninggalkan dunia hiburan, artis panggung, atau media sosial, lalu tiba-tiba tampil sebagai penceramah, tokoh agama dan dijadikan rujukan oleh masyarakat," katanya dalam keterangan resminya, Selasa (16/6/2026).

Disatu sisi, kata pria asal Malang ini, tentu dirinya bersyukur jika ada orang yang berhijrah dan mendekat kepada agama. Hijrah adalah sesuatu yang mulia. Namun menjadi pribadi yang saleh berbeda dengan menjadi pembimbing umat. "Menjadi pendakwah, nyai, atau tokoh agama memerlukan bekal ilmu yang cukup, adab yang kokoh, kedalaman spiritual, serta tanggung jawab moral yang besar," jelasnya. 

Dalam tradisi pesantren, ia menjelaskan, seorang gus dihormati bukan semata karena ia putra kiai. Seorang ning dihargai bukan karena ia berasal dari keluarga pesantren. Penghormatan itu lahir karena ilmu, akhlak, kesederhanaan, ketekunan beribadah, dan kesediaan terus belajar sepanjang hayat.

Yang membuat prihatin adalah, kata dia, ketika sebagian masyarakat lebih mudah terpikat oleh penampilan daripada isi, oleh retorika daripada ilmu, oleh viralitas daripada kapasitas. Akibatnya, yang ramai dianggap benar, yang terkenal dianggap alim, dan yang banyak ditonton dianggap layak dijadikan rujukan.

Advertisement

Padahal, lanjut dia, para ulama besar yang kita hormati hari ini tidak dibentuk oleh kamera dan panggung. Mereka dibentuk oleh kitab-kitab yang dipelajari bertahun-tahun, oleh pengabdian kepada guru, oleh munajat di sepertiga malam, oleh kesabaran menjaga adab, dan oleh kerendahan hati yang semakin dalam seiring bertambahnya ilmu.

Diminta Lebih Cermat

Oleh karenanya, ia mengajak agar m
asyarakat perlu lebih cermat dalam memilih panutan. Jangan hanya melihat jumlah pengikutnya, tetapi lihat siapa gurunya, apa keilmuannya, bagaimana ibadahnya, bagaimana adabnya, dan bagaimana jejak pengabdiannya kepada umat.

Sebab agama adalah urusan yang terlalu mulia untuk diserahkan kepada mereka yang hanya mengandalkan popularitas. Umat membutuhkan pembimbing yang berilmu, berakhlak, dan takut kepada Allah, bukan sekadar figur yang pandai menarik perhatian.

Menurutnya, nasab memang bisa menghadirkan penghormatan, dan popularitas bisa menghadirkan ketenaran. Namun hanya ilmu, adab, dan keikhlasan yang akan menghadirkan keberkahan.

“Di pesantren, kemuliaan tidak diukur dari seberapa terkenal seseorang, tetapi dari seberapa dalam ilmunya, seberapa baik adabnya, dan seberapa tulus pengabdiannya kepada umat," ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Ramli
PenulisMoh RamliPasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia