Advertisement
Peristiwa Daerah

Pakar Maqashid, Gus Nasrul Melacak Ruh Kekuatan NU yang Mulai Pudar

Menurut dia, sikap tawadhu atau rendah hati yang dahulu menjadi fondasi organisasi kini perlahan memudar, ditandai dengan meningkatnya gesekan internal hingga perebutan jabatan struktural.

TIMES Indonesia,
Pakar Maqashid, Gus Nasrul Melacak Ruh Kekuatan NU yang Mulai Pudar
Gus Nasrul saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) PC Pagar Nusa Kabupaten Demak di Gedung PCNU Demak, Minggu (14/6/2026). (Foto: Pagar Nusa)
A-AA+

DEMAK Pakar Maqashid Syariah, Dr KH Nasrulloh Afandi atau Gus Nasrul, menilai ruh utama yang selama ini menjadi kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) mulai mengalami pengikisan. 

Menurut dia, sikap tawadhu atau rendah hati yang dahulu menjadi fondasi organisasi kini perlahan memudar, ditandai dengan meningkatnya gesekan internal hingga perebutan jabatan struktural.

Advertisement

“Tawadhu atau rendah hati adalah kekuatan inti Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Saling tawadhu itulah ruh jamiyyah NU,” ujar Gus Nasrul saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) PC Pagar Nusa Kabupaten Demak di Gedung PCNU Demak, Minggu (14/6/2026).

Direktur Institut Maqashid Syariah Indonesia itu mengatakan, sejak embrio berdirinya NU hingga fase-fase penting dalam sejarah organisasi, tradisi saling menghormati dan menekan ego pribadi selalu menjadi fondasi utama.

Dalam perspektif maqashid syariah, kata dia, sikap tawadhu dalam berorganisasi merupakan bagian dari menghadirkan kemaslahatan publik (jalbul mashalih al-ammah) sekaligus mencegah kerusakan nyata (daf’ul mafashid al-muhaqqaqoh).

Menurut Gus Nasrul, prinsip tersebut sejalan dengan kaidah yang selama ini dikenal di lingkungan NU, yakni dar’ul mafasid aula min jalbil mashalih atau mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada meraih kemaslahatan.

Dalam orasinya, Gus Nasrul mengisahkan latar keluarganya yang dekat dengan tradisi awal NU.

Advertisement

Ia menyebut almarhum ayahnya, KH Afandi Abdul Muin, pernah menjadi santri dua tokoh besar pendiri NU, yakni di Pesantren Tebuireng pada era KH Hasyim Asy’ari dan di Tambakberas pada masa KH Wahab Hasbullah.

Dari sejarah itu, ia mencontohkan bagaimana NU lahir dari tradisi tawadhu antarkiai.

Menurut dia, gagasan awal pendirian NU memang datang dari KH Wahab Hasbullah, tetapi sebagai sosok muda kala itu, Gus Wahab tetap sowan kepada KH Hasyim Asy’ari untuk meminta pertimbangan.

Tak berhenti di situ, KH Hasyim Asy’ari kemudian juga meminta restu kepada guru yang lebih dituakan, yakni KH Kholil Bangkalan.

“Kronologis tersebut adalah bukti mata rantai bahwa embrio bahan unggul berdirinya NU adalah fondasi akhlakul karimah bernama saling tawadhu, saling rendah hati, saling menghormati, mencampakkan ego keakuan,” tegas Gus Nasrul yang disambut aplaus peserta.

Ia juga mencontohkan sejarah lain di tubuh NU pascawafatnya Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri pada 25 April 1980. Saat itu, para ulama sepuh NU bermusyawarah menentukan sosok pengganti.

Terdapat tiga nama yang dinilai layak menduduki jabatan tersebut, yakni KH As’ad Syamsul Arifin dari Sukorejo, KH Mahrus Ali dari Lirboyo, dan KH Ali Maksum dari Krapyak. Namun, menurut Gus Nasrul, ketiganya justru menolak saat diminta menjadi Rais Aam.

“Para pendahulu NU telah memberi uswah dan teladan bahwa pengabdian di NU harus dilandasi keikhlasan, saling tawadhu, saling menghormati, dan tidak berebut jabatan,” ujarnya.

Karena itu, Gus Nasrul menilai berbagai gesekan internal maupun perebutan jabatan struktural di tubuh NU yang belakangan terjadi merupakan gejala pudarnya sikap rendah hati di kalangan pengurus.

“Oleh karenanya, sering terjadinya gesekan bahkan kegaduhan di internal struktural NU hingga perebutan jabatan struktural dengan cara yang menyalahi aturan dapat dipastikan akibat pudarnya rasa tawadhu,” katanya.

Ia juga menyinggung fenomena penempatan figur di jajaran syuriah yang dinilai tidak sesuai kapasitas keilmuan. Menurut dia, posisi syuriah semestinya diisi kalangan ulama atau mereka yang memiliki basis pendidikan pesantren dan tafaqquh fiddin.

“Banyak terdapat yang basic pendidikannya formal, bukan lulusan pesantren, bukan tafaqquh fiddin, bukan ulama, bukan ahli mengaji, tapi tidak malu menempati posisi jajaran syuriah,” tegasnya.

Menurut Gus Nasrul, kondisi tersebut menjadi tanda mulai hilangnya etika menempatkan diri atau dalam istilah Jawa disebut angah-anggeh.

“Itu bukti nyata di struktural NU sudah banyak orang yang tidak ada tawadhu atau dalam bahasa Jawa disebut hilang angah-anggeh-nya. Dan itulah termasuk upaya mengkeroposi bahkan merusak NU dari dalam,” ujarnya.

Konfercab PC Pagar Nusa Kabupaten Demak turut dihadiri Ketua PCNU Demak, KH Aminuddin, yang berpesan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan dalam organisasi.

Agenda konfercab ditutup dengan terpilihnya R Purwo Adhi Nugroho sebagai Ketua PC Pagar Nusa Demak periode 2026–2031. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia