Jusuf Kalla Dorong Masjid Agung Bandung Jadi Motor Kemakmuran Umat, Tak Sekadar Tempat Ibadah
Menurut JK, masjid harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas melalui pendidikan, penguatan ekonomi, dan pembangunan kualitas kehidupan umat.
BANDUNG – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla mendorong masjid menjadi pusat pemberdayaan umat yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi, perubahan sosial, dan isu lingkungan yang semakin kompleks, peran masjid dinilai perlu berkembang melampaui fungsi tradisionalnya sebagai tempat ibadah.
Melihat situasi saat ini, Jusuf Kalla pun memberikan pesan dan dorongan tersebut dalam kunjungannya ke Masjid Agung Bandung (MAB), Selasa (16/6/2026).
Kehadiran Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2024–2029 itu menjadi momentum penting bagi penguatan berbagai program kemaslahatan yang tengah dikembangkan masjid bersejarah yang berdiri sejak 1812 tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Jusuf Kalla menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah masjid tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jamaah yang datang untuk beribadah.
Menurutnya, masjid harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas melalui pendidikan, penguatan ekonomi, dan pembangunan kualitas kehidupan umat.
“Masjid itu selain dimakmurkan oleh umat, sangat perlu juga masjid berperan mengangkat kemakmuran umat,” ujar JK, sapaan akrabnya.
Ia menilai semangat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah harus dimaknai sebagai momentum hijrah menuju perubahan yang lebih baik.
Tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang produktif, berdaya saing, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Menurut JK, kemajuan sebuah peradaban selalu diawali dari kualitas manusianya. Karena itu, semangat memperbaiki diri melalui peningkatan ilmu, akhlak, etos kerja, dan kepedulian terhadap sesama menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan umat.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus adalah penguatan ekonomi syariah berbasis masjid. Jusuf Kalla menilai masjid memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi ekonomi, literasi keuangan syariah, hingga pendampingan usaha mikro dan kecil.
Menurutnya, sejarah Islam menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan dakwah berjalan beriringan. Karena itu, masjid dapat mengambil peran strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Masjid harus menjadi sentra pembangunan ekonomi masyarakat agar umat memiliki kemandirian dan kesejahteraan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Ketua Nazhir MAB, Roedy Wiranatakusumah,SH.,MH.,MBA mengatakan pihaknya berupaya menerjemahkan gagasan tersebut melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat modern.
Selain memperkuat kegiatan keagamaan dan pendidikan, MAB kini mulai mengembangkan program berbasis lingkungan melalui pencanangan Eco Masjid.
Program ini mengintegrasikan nilai keagamaan dengan upaya pelestarian alam dan pembangunan kesadaran ekologis di kalangan jamaah.
Melalui program tersebut, MAB akan menjadi pusat distribusi bibit tanaman kepada masyarakat. Bibit-bibit itu dirawat menggunakan air bekas wudhu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Selanjutnya, tanaman tersebut diharapkan ditanam di lingkungan rumah, sekolah, maupun ruang publik sehingga menciptakan gerakan penghijauan berbasis jamaah.
Roedy menilai langkah tersebut menjadi bentuk nyata kontribusi masjid dalam menjawab tantangan lingkungan yang semakin mendesak.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi pelopor perubahan positif. Ini langkah sederhana, tetapi memiliki dampak sosial dan lingkungan yang besar,” ujarnya.
Tidak berhenti di situ saja, MAB juga tengah mengkaji pemanfaatan energi surya melalui program Green Energy.
Penggunaan panel surya direncanakan untuk mendukung kebutuhan listrik masjid sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi konvensional dan menekan emisi karbon.
Bagi pengelola masjid, seluruh program tersebut merupakan bentuk aktualisasi semangat hijrah dalam kehidupan modern. Hijrah tidak lagi dimaknai sebatas perpindahan secara fisik atau spiritual, melainkan perubahan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui penguatan ekonomi syariah, gerakan penghijauan, serta pengembangan energi terbarukan, MAB berupaya menegaskan kembali peran masjid sebagai pusat kemakmuran umat sekaligus pusat peradaban Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Dari masjid, perubahan diharapkan tumbuh, berkembang bersama umat, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


