Keris Macan Putih, Warisan Era Prabu Tawangalun dan Kerajaan Blambangan Banyuwangi
Keris Macan Putih yang diyakini berasal dari era Prabu Tawangalun kembali diperkenalkan dalam Gelar Budaya Keris Blambangan di Banyuwangi. Pusaka berusia ratusan tahun itu menyimpan jejak sejarah kejayaan Kerajaan Blambangan.
BANYUWANGI – Di balik bilahnya yang telah berusia ratusan tahun, Keris Macan Putih menyimpan jejak panjang sejarah kejayaan Kerajaan Blambangan. Bagi masyarakat Banyuwangi, Macan Putih bukan sekadar simbol, melainkan lambang keberanian, kewibawaan, dan semangat perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pusaka yang diyakini berasal dari era pemerintahan Prabu Tawangalun itu kembali diperkenalkan kepada publik dalam kegiatan Jamasan Suro atau Gelar Budaya Keris Blambangan yang digelar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).
Kolektor sekaligus penjamas keris, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H. Ilham Trihadinagoro, menjelaskan bahwa pusaka tersebut memiliki keterkaitan erat dengan simbol kebesaran Kerajaan Blambangan, yakni Macan Putih.
Menurut Ilham, keris tersebut memiliki dapur lambang Macan Putih dengan luk atau kelokan sebanyak 21. Dalam tradisi Blambangan, Macan Putih dikenal sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan kerajaan yang pernah berjaya di ujung timur Pulau Jawa.
“Ini Keris Macan Putih. Kemungkinan besar menjadi pusaka pada masa Prabu Tawangalun,” kata Ilham sembari menjamas keris, Rabu (17/6/2026).
Ilham menyebut, estimasi usia keris mengarah pada masa pemerintahan Prabu Tawangalun, raja besar Blambangan yang memimpin sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-17. Pada masa itu, Blambangan dikenal sebagai kerajaan yang kuat dan menjadi salah satu wilayah terakhir di Pulau Jawa yang tidak mudah ditaklukkan oleh kekuatan asing.
Raja Blambangan ke-8 tersebut dikenal sebagai pemimpin yang mempertahankan kedaulatan Blambangan di tengah ekspansi kekuasaan dari luar. Namun, setelah wafat pada 1691, kondisi kerajaan perlahan melemah hingga menghadapi tekanan besar dari VOC Belanda.
“Prabu Tawangalun merupakan raja besar Blambangan era Hindu terakhir. Setelah beliau wafat, kondisi kerajaan mulai tercerai-berai,” ungkapnya.
Sejarah panjang perlawanan masyarakat Blambangan terhadap penjajah juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pusaka tersebut. Setelah era Tawangalun, perjuangan diteruskan oleh para penerus kerajaan yang bergerilya melawan VOC hingga meletus Perang Bayu pada 1771.
Perang yang dikenal sebagai salah satu perlawanan terbesar dalam sejarah Blambangan itu melibatkan tokoh-tokoh seperti Rempeg Jogopati dan para pejuang lainnya yang mempertahankan tanah leluhur mereka.
Selain nilai historisnya, bentuk fisik Keris Macan Putih juga menarik perhatian. Ukurannya lebih panjang dibandingkan keris pada umumnya sehingga diduga memiliki fungsi sebagai senjata tempur.
“Kalau keris panjang seperti ini biasanya difungsikan untuk perang. Bilahnya lebih panjang daripada keris biasa. Panjangnya ini kisaran 47 sentimeter,” jelas Ilham.
Meski demikian, masih banyak misteri yang menyelimuti pusaka tersebut. Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa empu pembuatnya maupun lokasi pembuatannya.
Karena itu, Ilham berharap penelitian terhadap pusaka-pusaka Blambangan terus dilakukan. Menurutnya, keterlibatan para peneliti, pemerhati budaya, hingga generasi muda diperlukan untuk mengungkap lebih jauh sejarah perkerisan Banyuwangi.
“Kita masih perlu penelitian dan diskusi yang lebih mendalam untuk mengetahui siapa pembuatnya, dibuat di mana, dan bagaimana sejarah lengkapnya. Yang bisa diperkirakan saat ini, keris ini berasal dari era Tawangalun atau masa Kerajaan Macan Putih Blambangan,” ujarnya.
Melalui kegiatan Jamasan Suro, pusaka-pusaka bersejarah seperti Keris Macan Putih tidak hanya dirawat secara fisik, tetapi juga diperkenalkan kembali kepada masyarakat sebagai bagian penting dari identitas budaya Banyuwangi yang diwariskan lintas generasi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


