Advertisement
Peristiwa Daerah

Menengok Ritual Ngumbah Gaman, Cara Warga Banyuwangi Merawat Pusaka Leluhur

Memasuki bulan Suro, sejumlah masyarakat Banyuwangi masih setia menjalankan tradisi Ngumbah Gaman atau jamasan pusaka.

TIMES Indonesia,
Menengok Ritual Ngumbah Gaman, Cara Warga Banyuwangi Merawat Pusaka Leluhur
KRT H. Ilham Trihadinagoro, saat melakukan prosesi 'Ngumbah Gaman'. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Memasuki bulan Suro, sejumlah masyarakat Banyuwangi masih setia menjalankan tradisi Ngumbah Gaman atau jamasan pusaka.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut bukan sekadar membersihkan keris dan benda pusaka dari karat, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus sarana memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Advertisement

Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Osing, Ngumbah Gaman merupakan ritual membersihkan berbagai pusaka seperti keris, tombak, pedang, hingga benda-benda pusaka lainnya. Tradisi ini umumnya dilakukan pada bulan Suro yang dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi dan penyucian diri.

Kolektor sekaligus penjamas keris, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H. Ilham Trihadinagoro, menjelaskan bahwa jamasan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar perawatan fisik pusaka.

“Jamasan adalah tradisi masyarakat Jawa dan Osing untuk membersihkan pusaka. Tidak hanya membersihkan karat, tetapi juga sebagai simbol membersihkan energi-energi negatif yang diyakini menempel selama pusaka itu digunakan atau disimpan,” jelas Ilham, Rabu (17/6/2026).

Ditemui saat menggelar kegiatan Jamasan Suro atau Gelar Budaya Keris Blambangan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Ilham menyebut karat yang menempel pada bilah pusaka dimaknai sebagai simbol menumpuknya energi negatif.

Karena itu, proses pembersihan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan disertai doa-doa sebagai bentuk permohonan keselamatan serta keberkahan.

Advertisement

Dalam proses jamasan, berbagai perlengkapan disiapkan, mulai dari bunga setaman, ubo rampe, pisang raja setangkep, kelapa, hingga aneka bumbu dapur. Setiap unsur memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

“Perlengkapan itu merupakan simbol bekal kehidupan. Intinya adalah doa dan harapan agar manusia diberikan keselamatan, kesejahteraan, serta keharmonisan dalam menjalani kehidupan,” kata Ilham.

Ilham menegaskan, tradisi tersebut tidak lepas dari nilai-nilai spiritual yang mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Karena itu, Ngumbah Gaman menjadi salah satu warisan budaya yang penting untuk terus dilestarikan.

Meski malam 1 Suro menjadi waktu yang paling sering dipilih untuk menggelar jamasan pusaka, pelaksanaannya sejatinya dapat dilakukan sepanjang bulan Suro.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Ngumbah Gaman menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang sejarah dan budaya leluhur. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan, tetapi juga terus dihidupkan melalui praktik yang sarat makna dari generasi ke generasi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syamsul Arifin
PenulisSyamsul ArifinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2016. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia