Advertisement
Peristiwa Daerah

Pastikan Kirim Data Akurat, Badan Geologi Rawat Stasiun Pemantau Raung di Bondowoso

Badan Geologi melakukan pemeliharaan rutin terhadap Stasiun Seismik dan GPS Mlaten (MLTN) yang berada di kawasan Desa Jampit, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso.

TIMES Indonesia,
Pastikan Kirim Data Akurat, Badan Geologi Rawat Stasiun Pemantau Raung di Bondowoso
Proses perawatan stasiun pemantau Gunung Raung di Bondowoso Jawa Timur (FOTO: Dokumen Pribadi)
A-AA+

Bondowoso Badan Geologi melakukan pemeliharaan rutin terhadap Stasiun Seismik dan GPS Mlaten (MLTN) yang berada di kawasan Desa Jampit, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan ini bertujuan memastikan seluruh perangkat pemantauan Gunung Raung tetap berfungsi optimal dalam mengirimkan data aktivitas vulkanik secara real time.

Advertisement

Menariknya, dalam kegiatan perawatan kali ini Badan Geologi turut melibatkan seorang mahasiswi Jurusan Fisika konsentrasi Ilmu Bumi dari Universitas Udayana (Unud) Denpasar sebagai bagian dari pembelajaran lapangan terkait sistem pemantauan gunung api.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Raung, Agung Tri Subekti menjelaskan, perbaikan tersebut berlangsung pada Rabu 17 Juni 2026 kemarin.

Menurutnya, Stasiun Mlaten memiliki peran penting dalam jaringan pemantauan Gunung Raung. Stasiun yang berada di ketinggian sekitar 1.173 meter di atas permukaan laut itu, menjadi salah satu dari lima titik pemantauan yang memasok data ke Pos Pengamatan Gunung Raung.

“Perawatan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh perangkat bekerja dengan baik. Mulai dari pembersihan area stasiun hingga pemeriksaan komponen utama seperti baterai, panel surya, dan sensor,” katanya, Kamis (19/6/2026).

Ia menjelaskan, alat seismik yang terpasang di stasiun tersebut berfungsi merekam berbagai aktivitas kegempaan yang terjadi di tubuh Gunung Raung. Data tersebut menjadi bahan penting bagi para vulkanolog untuk mendeteksi kemungkinan peningkatan aktivitas gunung api.

Advertisement

Selain seismograf, terdapat pula perangkat Global Positioning System (GPS) yang digunakan untuk memantau deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung. Melalui alat ini, petugas dapat mendeteksi gejala penggembungan maupun pengempisan yang biasanya berkaitan dengan pergerakan magma di bawah permukaan.

Agung mengungkapkan, tantangan lain yang dihadapi dalam sistem pemantauan adalah jalur transmisi data yang cukup panjang. Sinyal dari Stasiun Mlaten tidak dapat langsung diterima di Pos Pengamatan Gunung Raung karena terhalang bentang alam pegunungan.

“Data harus diteruskan terlebih dahulu melalui Puncak Ijen, kemudian ke Pos Ijen, dilanjutkan ke Rogojampi, dan baru diterima di Pos Pengamatan Gunung Raung di Songgon,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi Gunung Raung hingga saat ini masih berada pada Status Level II atau Waspada. Masyarakat dan wisatawan diimbau tetap mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan Badan Geologi, yakni tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak.

Pengunjung juga diminta tidak turun ke area kaldera maupun bermalam di sekitar kawah karena potensi bahaya masih ada sewaktu-waktu.

Agung turut mengingatkan masyarakat agar lebih selektif menerima informasi terkait aktivitas Gunung Raung. Ia meminta warga tidak mudah percaya pada informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas.

“Informasi resmi dapat diperoleh melalui kanal Badan Geologi, termasuk website maupun aplikasi Magma Indonesia. Jangan mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi,” tegasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia