Kisah Komunitas Cermin Tasikmalaya Menjaga Kedekatan Seni Lewat Aksi Jalanan
Komunitas Cermin Tasikmalaya tak lelah menjaga keberlangsungan seni dan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
TASIKMALAYA – Mengiringi fajar menyingsing, pedestrian di Jalan KHZ Zainal Mustofa Kota Tasikmalaya perlahan dipenuhi lalu lalang warga.
Sebagian berjalan santai, sebagian berhenti sejenak menikmati suasana pusat kota. Di antara deretan lampu jalan dan aktivitas perkotaan yang terus bergerak, hadir sebuah pemandangan yang berbeda.
Musik, pertunjukan seni, dan ekspresi budaya tampil tanpa sekat, menyapa masyarakat secara langsung.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, komersialisasi ruang publik, dan hiruk-pikuk politik yang menyita perhatian banyak pihak, masih ada sekelompok masyarakat yang memilih menempuh jalan berbeda.
Mereka tidak memiliki gedung pertunjukan megah. Tidak mempunyai dukungan anggaran besar. Bahkan tidak ada jaminan bahwa apa yang mereka lakukan akan mendapatkan apresiasi luas.
Namun mereka tetap berjalan. Yang mereka miliki hanyalah gagasan, keberanian, konsistensi, dan ketulusan.Bagi sebagian orang, modal seperti itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi Komunitas Cermin Tasikmalaya, empat hal tersebut justru menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Pandangan itu disampaikan Pembina Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, saat merefleksikan perjalanan gerakan Street Art yang selama ini dihadirkan komunitasnya di kawasan pedestrian pusat kota Jalan KHZ Zainal Mustofa.
Menurutnya, setiap perubahan besar selalu berawal dari sebuah ide. Namun ide tidak akan pernah menjadi kenyataan apabila tidak dibarengi keberanian untuk memulai. Keberanian pun, kata dia, belum cukup.
Sebab sebuah gagasan yang berhasil diwujudkan belum tentu menghasilkan manfaat apabila tidak dijalankan secara konsisten. Bahkan konsistensi akan kehilangan makna jika tidak berangkat dari ketulusan.
"Punya keinginan, ide, dan gagasan belum tentu bisa terealisasikan tanpa keberanian, apalagi jika pijakannya harus menunggu anggaran. Realisasi belum tentu berbuah tanpa konsistensi. Konsistensi belum tentu bernilai tanpa ketulusan," ujar Ashmansyah.
Kalimat tersebut terdengar sederhana, namun menjadi gambaran nyata perjuangan banyak komunitas kebudayaan di daerah yang selama ini bergerak dalam keterbatasan.
Di mata Ashmansyah, salah satu persoalan terbesar dalam perkembangan kesenian saat ini adalah semakin jauhnya jarak antara seni dan masyarakat.
Ia meyakini bahwa seni dan budaya bukan milik eksklusif para pelaku seni. Kesenian lahir dari kehidupan masyarakat, tumbuh bersama tradisi, berkembang melalui interaksi sosial, dan menjadi bagian dari identitas kolektif sebuah daerah.
Karena itu, menurutnya, seni tidak seharusnya terisolasi dalam ruang-ruang tertentu yang hanya dapat diakses kelompok terbatas.
Sebaliknya, seni harus hadir di tengah masyarakat. Menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menjadi ruang dialog sosial sekaligus media refleksi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.
"Seni dan budaya milik semua masyarakat tanpa sekat. Bahkan bukan milik seniman itu sendiri. Maka kesenian harus selalu berada di tengah-tengah masyarakatnya," katanya.
Prinsip itulah yang kemudian menjadi roh gerakan Komunitas Cermin Tasikmalaya. Alih-alih menunggu masyarakat datang ke ruang pertunjukan, mereka memilih mendatangi masyarakat.
Mereka menghadirkan seni di ruang publik. Menjadikan pedestrian, taman kota, dan ruang terbuka sebagai panggung bersama.
Pilihan tersebut bukan semata strategi pertunjukan. Lebih dari itu, merupakan upaya mengembalikan fungsi seni sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Perubahan teknologi telah mengubah cara manusia menikmati seni. Hari ini, hampir semua bentuk pertunjukan dapat diakses melalui layar telepon pintar. Musik, tari, teater, hingga berbagai ekspresi budaya tersedia hanya dalam hitungan detik.
Namun menurut Ashmansyah, kemudahan tersebut menyisakan persoalan lain yang jarang disadari.
Semakin banyak masyarakat menikmati seni secara virtual, semakin sedikit pula pengalaman artistik yang lahir dari perjumpaan langsung antara seniman dan publik.
Interaksi emosional yang selama ini menjadi ruh sebuah pertunjukan perlahan memudar.
"Kesenian saat ini selain lebih mudah berada di gadget yang kehilangan esensi, juga lebih banyak berada di gedung-gedung megah, ruang-ruang komersial seperti kafe, rumah makan, dan mal, serta di acara-acara seremonial mewah pemerintahan," ujarnya.
Di satu sisi, seni semakin mudah diakses. Namun di sisi lain, ruang-ruang budaya tradisional semakin menyusut.
Pertunjukan rakyat yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat perlahan menghilang. Kesenian lokal sering kali kalah bersaing dengan hiburan instan yang beredar di media sosial.
Banyak masyarakat mengenal tren global terbaru, tetapi semakin asing terhadap kesenian yang tumbuh di lingkungannya sendiri.
Di titik itulah Komunitas Cermin memilih mengambil jalur berbeda. Mereka bergerak dari pinggiran. Mendatangi ruang-ruang yang selama ini jarang tersentuh aktivitas kebudayaan.
"Biarlah, kita terus bergerak dari pinggiran," kata Ashmansyah.
Bertahan dalam Keterbatasan
Perjalanan menjaga kebudayaan tentu bukan pekerjaan mudah. Ashmansyah mengakui komunitas yang dibinanya tidak memiliki banyak sumber daya.
Tidak ada fasilitas representatif. Tidak ada perangkat lengkap. Bahkan sebagian besar peralatan yang digunakan merupakan pinjaman. Namun keterbatasan tersebut justru melahirkan keteguhan untuk terus bergerak.
"Memang kami hanya baru punya ide dan gagasan, ditambah sedikit keberanian. Tidak ada karya yang bisa diunggulkan, tidak punya apa-apa. Bahkan perangkat pun semua pinjaman. Tapi semoga kami tetap bertahan dalam gerakan, ikhlas dalam melaksanakan, dan sedikit mewarnai kehidupan dengan unsur seni dan budaya," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan realitas yang selama ini dihadapi banyak komunitas seni di daerah. Mereka bekerja jauh dari sorotan.
Bergerak tanpa sponsor besar. Menjalankan kegiatan tanpa jaminan keberlanjutan pendanaan. Namun mereka tetap bertahan karena memahami bahwa kebudayaan bukan investasi yang hasilnya bisa dihitung dalam waktu singkat.
Kebudayaan adalah investasi sosial jangka panjang. Dalam refleksinya, Ashmansyah juga menyinggung peran pemerintah dalam pembangunan kebudayaan.
Menurutnya, pemerintah secara administratif memiliki tanggung jawab untuk melindungi, memelihara, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan.
Tanggung jawab tersebut tidak hanya bersifat moral, tetapi juga merupakan amanat konstitusional dalam menjaga identitas bangsa.
Namun ia menilai pembangunan kebudayaan akan sulit berjalan apabila para pengambil kebijakan tidak memiliki gagasan yang jelas mengenai arah pengembangannya.
"Semestinya secara administrasi pemerintah punya tanggung jawab dan kewajiban dalam memelihara dan membangun kebudayaan. Tapi ketika pemerintah sendiri tidak memiliki gagasan, maka kita jangan berhenti bergerak," ujarnya.
Bagi dirinya, masyarakat tidak boleh terus menunggu perubahan datang dari atas. Inisiatif sosial harus tetap berjalan. Komunitas harus tetap bergerak, masyarakat harus tetap berkarya, meski dukungan kebijakan belum sepenuhnya hadir.
"Terus saja berjalan, shadaqah dalam kehidupan. Walaupun kita tidak punya tanggung jawab kesalahan karena itu bukan kewajiban kita," katanya.
Seni dan Budaya Sebagai 'Pelarian'
Di tengah tekanan ekonomi, meningkatnya persoalan sosial, serta berbagai ketidakpastian yang dirasakan masyarakat, seni dan budaya sering dianggap bukan kebutuhan utama.
Padahal berbagai kajian sosial menunjukkan aktivitas budaya memiliki kontribusi penting terhadap kesehatan mental, kohesi sosial, dan kualitas hidup masyarakat.
Ashmansyah percaya seni mampu menjadi ruang jeda. Ruang bagi masyarakat untuk bernafas sejenak dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia berharap langkah kecil yang dilakukan Komunitas Cermin dapat memberikan manfaat nyata, meski dalam skala sederhana.
"Suatu ikhtiar kecil dari pinggiran, semoga ada manfaatnya. Mudah-mudahan bisa sedikit meningkatkan indeks kebahagiaan di tengah persoalan-persoalan hidup masyarakat yang semakin menekan," ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik sosial terhadap kondisi bangsa saat ini.
Ketika sebagian masyarakat berjuang menghadapi persoalan ekonomi dan kehidupan sehari-hari, perhatian sebagian elite sering kali tersedot pada kontestasi politik dan perebutan kekuasaan.
Padahal pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi. Pembangunan juga menyangkut kualitas jiwa masyarakat. Dan seni merupakan salah satu instrumen penting untuk merawatnya.
Menanti 'Restu' Pemerintah
Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tasikmalaya, Yogi S, mengungkapkan bahwa keberadaan Street Art di kawasan pedestrian saat ini tengah menjadi bagian dari kajian pemerintah daerah.
Menurutnya, pemerintah telah membuka komunikasi dengan sejumlah seniman dan komunitas budaya, termasuk Komunitas Cermin Tasikmalaya.
"Kita sudah membangun komunikasi dengan beberapa seniman termasuk dengan Komunitas Cermin," kata Yogi.
Saat ini, pemerintah masih menunggu keputusan Wali Kota Tasikmalaya terkait tata kelola taman kota dan kawasan pedestrian yang akan menjadi dasar pengaturan berbagai aktivitas publik di lokasi tersebut.
Yogi menegaskan pemerintah tidak ingin mengambil langkah yang justru memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa solusi yang jelas.
"Kita tidak ingin merelokasi ini dari tempat yang haram ke tempat yang haram. Keinginan dan harapan kita, ini menjadi pilot project yang akan diberlakukan," ujarnya.
Menurut Yogi, keberadaan aktivitas Street Art juga memiliki relevansi dengan upaya pemerintah dalam mendukung program Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) di pusat kota. "Kegiatan ini juga dalam mendukung Kawasan Tertib Lalu Lintas," pungkasnya.
Nyala Kecil yang Tetap Menyala
Apa yang dilakukan Komunitas Cermin Tasikmalaya mungkin tidak akan tercatat sebagai proyek besar.
Tidak ada gedung pertunjukan megah, tidak ada panggung bernilai miliaran rupiah, idak ada fasilitas mewah. Yang ada hanyalah sekelompok orang yang percaya bahwa seni dan budaya harus tetap hidup di tengah masyarakat.
Mereka memilih bergerak ketika sebagian orang memilih menunggu, mereka memilih hadir di ruang publik ketika banyak kesenian berpindah ke layar digital. Mereka memilih bertahan ketika dukungan belum sepenuhnya datang.
Dari pedestrian Jalan KHZ Zainal Mustofa, mereka menjaga nyala kecil itu. Mungkin tidak terlihat terang dari pusat kekuasaan. Namun cukup untuk menerangi ruang-ruang kehidupan masyarakat yang perlahan kehilangan sentuhan seni, budaya, dan kemanusiaan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


